
Suara langkah sepatu terdengar jelas di kesunyian jam kerja ini. Dan disitulah Ella yang datang ke kantor dengan flatshoes yang dibelikan Devan kemarin. Flatshoes yang warnanya senada dengan bajunya, membuat Ella terlihat menawan. Dan jangan lupa dengan rambut yang sengaja di urai dengan make up natural yang sangat mendefinisikan seorang Parnuella Sakiara Alendra.
Yah, kurang lebih seperti itulah setelan yang di kenakan Ella. Mengingat posisinya sebagai sekretaris di perusahaan ini, membuat Ella harus menjaga penampilannya. Dan kebetulan kemarin ia pergi bersama Devan, juga sekalian ia membeli setelan yang ia kenakan sekarang. Tentu dengan paksaan dari Devan pastinya!
Ella berjalan melewati kantor divisi lainnya, dan itu membuatnya bisa melihat sekeras apa bagian divisi yang lain mengerjakan pekerjaannya dengan serius demi perusahaan ini maju. "Rajinnya mereka," gumam Ella yang masih melanjutkan jalannya padahal pandangannya sedang berada di ruangan dengan puluhan orang yang menghadap ke layar komputer.
Tanpa diduga, Ella terus berjalan padahal didepannya adalah tembok keras yang seharusnya Ella hindari sekarang. Ya, sekarang! Sekarang! Se.Ka.Rang!
Dugg...
"Aww!!" pekik Ella saat kepalanya menabrak sesuatu benda yang hangat, yang seakan menangkap kepalanya.
Ella yang sejenak masih terdiam, kini mulai mendongakkan kepalanya. Tampak jelas bahwa seorang wanita dengan muka garangnya sedang menatap dirinya yang sedang mengaduh kesakitan.
"Kak Aura?" kaget Ella saat didepannya ada teman seperjuangannya sedang menatapnya dengan tatapan yang entah apa artinya itu.
"Inget udah nikah, masih aja ngelirik divisi lain." ujar Aura sebelum akhirnya meninggalkan Ella yang sekarang mengerucutkan bibirnya karena merasa diledek oleh Aura. Padahal ucapan wanita itu benar-benar salah!
Ella menyusul Aura yang sudah berada ditempatnya. Ella segera menduduki kursinya dan segera meletakkan tas nya di meja. "Mana ada aku ngelihat in mereka!" ujar Ella yang masih dendam dengan ucapan Aura. Sedangkan Aura, kini wanita itu malah tertawa melihat ekspresi Ella yang sangat menggemaskan.
"Tapi kalau aku lihat, kenapa kamu makin cerah aja ya?" ujar Aura yang seketika membuat Ella tertegun mendengarnya. Cerah? Cerah apa? Apa banyak lampu yang menyala di sekitarnya?
Ella yang tak tau harus menjawab apa, akhirnya memutuskan untuk tertawa canggung saja. Setidaknya dia harus segera mengalihkan topik yang bahkan ia tak tau alurnya seperti apa. "Sepertinya hari ini tidak banyak pekerjaan untuk kita," ujar Ella yang langsung diangguki oleh Aura.
"Ya, tapi kamu masih harus memantau proyek itu kan?" balas Aura yang membuat Ella merutuki kebodohannya. Tetap saja, jika menjawab dengan salting pasti akan berakhir yang buruk juga. Padahal saat ini Ella tidak ingin bertemu dengan Devan, karena outfit yang dipakainya saat ini adalah murni pemberian dari lelaki itu.
__ADS_1
Ella berpikir sejenak, bukankah bagus juga kalau ia mengenakan pakaian ini didepan Devan. Setidaknya ia bisa menunjukkan rasa terimakasihnya pada Devan melalui ini bukan? "Oh iya astaga aku hampir lupa. Terimakasih kak Aura," ujar Ella yang kini sudah berdiri dengan membawa tas miliknya. Sedangkan Aura menatap punggung Ella yang semakin menjauh dengan tatapan cengo nya.
Ella dengan langkah anggunnya, berjalan menuju halte bis yang akan membawanya ke tempat proyek kerjasama berada. Walaupun jauh juga untuknya yang sedang hamil, tapi ini kesempatan untuknya agar bisa menunjukkan rasa terimakasihnya. Karena saat ia berangkat tadi, Devan belum turun dari kamarnya. Alhasil, Ella berangkat tanpa memberitahu Devan.
Bis berhenti didekat tempat proyek berada. Hanya berjalan sebentar saja Ella akan sampai ditempat proyek berada. Dan sampailah Ella di tempat proyek dengan banyaknya pekerja yang beratribut lengkap. Dari topi, rompi, sarung tangan dan juga sepatu boot.
"Wah sekretaris Ella, kita bertemu disini." sapa seseorang yang suaranya tidak asing ditelinga Ella. Dan orang itu tentunya yang dekat dengan Devan juga, karena dia adalah sekretaris Harcen.
"Ah iya, saya datang sedikit terlambat dari biasanya ya? Saya harus ke kantor dulu untuk mengantarkan dokumen tadi." balas Ella dengan senyumnya yang anggun.
Mata Ella melirik sana-sini, dan itu disadari oleh Harcen yang juga mengikuti arah mata Ella. "Apakah nyonya muda mau mencari tuan muda?" tanya sekretaris Harcen dengan berbisik setelah menyadari tatapan Ella yang seakan mencari seseorang.
Terkejut dengan pertanyaan Harcen, ditambah juga pria itu memanggilnya dengan sebutan nyonya muda. Ella hanya tersenyum canggung dan langsung dibalas senyum ramah dari sekretaris Harcen. "Saya bisa panggilkan tuan muda jika nyonya muda mau" tawar sekretaris Harcen yang langsung ditolak oleh Ella.
"Eh bukan, saya tidak mencarinya. Atau mungkin Devan juga sedang sibuk sekarang." jawab Ella yang berusaha menyangkal tapi ujung-ujungnya tetap jujur kalau dia mencari Devan sekarang.
"Wah nyonya muda, saya harus mengerjakan sesuatu. Jika anda ingin menemui tuan muda, beliau ada di ruang istirahat disebelah sana." ujar sekretaris Harcen yang sebenarnya hanya alibi agar Ella tidak merasa canggung karenanya.
"Punggungnya lebar juga ya," batin Ella.
Ella menggelengkan kepalanya berulang kali. Entah kenapa, pikiran konyol itu langsung terlintas dibenaknya. Walaupun memang kenyataannya begitu sih, karena punggung pria yang lebar itu terlihat gagah dan pastinya membuat semua orang yang melihatnya juga akan tertarik.
"Aduh!!" pekik Ella tanpa sadar saat tiba-tiba perutnya terasa seperti kaku. Dan pekikan itu juga yang membuat pemilik punggung lebar itu langsung menolehkan kepalanya.
Buru-buru Devan langsung bangkit dan melangkahkan kakinya mendekati Ella yang memegang perutnya. "Apa yang sakit?" tanya Devan dengan spontan saat mendengar desisan Ella yang menandakan wanita itu sedang menahan sakit diperutnya.
"Pe-perut saya, rasanya kram." jawab Ella yang langsung merasakan tubuhnya melayang. Dan disitulah Ella melihat wajah Devan dari dekat, karena pria itu mengangkat tubuhnya dan dibawanya ke tenda tempa ia berada sebelumnya.
__ADS_1
"Apa kau sudah makan?" tanya Devan yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Ella.
Menghela napasnya sejenak, Ella merasakan tubuhnya sekarang sudah berbaring di sofa empuk yang berada di dalam tenda. Dan setelah tubuhnya berbaring dengan nyaman, Devan keluar dan tak lama kembali dengan beberapa kantong yang berada ditangannya.
"Makanlah!" ujar Devan sembari menyodorkan kantong dengan logo M di depannya.
"Te-terimakasih." jawab Ella yang sudah menahan malu dan juga menahan rasa tidak enak pada Devan yang kini sudah duduk disofa yang ada didepannya.
Pertemuan hari ini, benar-benar pertemuan yang memalukan. Ditambah lagi, sekarang mereka berdua berada diruangan yang sama. Dan sekarang, Ella dengan wajahnya yang merah sedang makan didepan Devan yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Kau cocok dengan baju itu." ujar Devan tiba-tiba. Seketika ucapan itu membuat Ella melototkan matanya. Hampir saja ia tersedak karena pujian itu, dan untungnya minuman yang ada ditangannya menyelamatkan hidupnya.
"Terimakasih, saya juga ingin berterimakasih pada anda karena membelikan saya baju ini." balas Ella yang tak mendapat balasan. Dengan begitu, Ella kembali melanjutkan makannya yang sempat terhenti.
Tanpa disadari, sejak tadi senyum tipis terukir di wajah dingin pria tampan yang berada diruangan ini. Dan itu sungguh kejadian langka yang bahkan bisa saja hanya sekali terjadi dalam bertahun-tahun hidupnya.
.
.
.
.
.
Hao????
__ADS_1
Hawoo???
Jangan lupa like nya ðŸ˜