You And Me And Destiny

You And Me And Destiny
Malam tadi


__ADS_3

Pagi yang cerah, membuka mata Ella yang tadinya terpejam dengan cantik. Perasaan pengantin baru tidak dirasakan Ella disini, malahan perasaan seperti biasa saja yang Ella rasakan. Bahkan bangun tidurnya masih di jam biasa dia bangun. Pernah Ella membaca sebuah novel yang dimana pengantin baru bangun kesiangan di pagi pertama mereka, tapi tentu saja itu tidak akan terjadi di hidup Ella.


Ella melihat kesamping, dan mendapati seorang pria yang masih memejamkan matanya. Ella akui pria ini memang tampan, benar-benar idaman semua orang didunia ini. Ella tersenyum kecut saat menyadari itu adalah suaminya yang menikah dengannya tanpa rasa suka maupun cinta, hanya rasa menjadi partner bertanggungjawab saja yang sebenarnya terjadi.


Memakai kesempatan dimana Devan masih tertidur lelap, Ella segera bergegas menuju kamar mandi dengan sedikit menutupi lingerie yang ia kenakan. Tidak tau saja, jika sebenarnya sepasang mata sejak tadi mengawasi gerak-geriknya.


Sepasang mata itu terbuka sempurna setelah gadis yang tadinya berada disampingnya pergi. Kejadian semalam langsung membuat pikiran pria itu kacau, jika dikata tidak terjadi apa-apa semalam itu salah. Hanya Ella yang tidak tau dengan apa yang terjadi, tapi semua ini tentang Ella juga.


Semalam, suasana sunyi dengan lampu kamar yang sudah dimatikan. Devan, pria yang sebenarnya sangat terganggu dengan pernikahannya ini. Rasanya ia ingin mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol diri saat bertemu Ella pertama kali. Bebannya sangat berat saat itu, dan dalam benak Devan hanyalah bermain wanita agar pikirannya kembali jernih.


Mengingat-ingat dirinya yang dulu, Devan tersenyum geli mengingat betapa gilanya dia dengan sentuhan para wanita. Bukan hanya satu wanita, tapi beberapa wanita yang memanjakan dirinya. Bibir ganas mereka yang mengecupi seluruh tubuhnya, hanya terbaring saja Devan sudah mendapat perlakuan indah seperti itu.


Untuk terakhir kalinya dia bermain wanita, itulah hal pertama untuknya memaksa wanita tidur dengannya. Ella, gadis dengan penuh air mata mengalir dipipinya itu lah yang menjadi sasaran pertama Devan mencoba memimpin permainan. Devan akui gadis itu sesuai tipe idealnya, lekuk tubuhnya dan sampai kulit halus miliknya.


Duak....


Saat masih mengingat-ingat betapa bahagianya dia dulu, sebuah kaki dengan beraninya jatuh tepat di pinggang Devan yang saat itu memiringkan tubuhnya. Dilihatnya kaki itu sampai pada pemilik kaki itu, Sekarang posisinya Devan masih memiringkan tubuhnya memunggungi Ella tapi dengan kaki Ella yang menindih pinggangnya.


Devan yang mendapat perlakuan tak terduga itu, dengan pelan-pelan mengangkat kaki Ella untuk dikembalikan ketempat semula. Tapi tidak seperti yang Devan harapkan, kini gadis itu malah menggantinya dengan tangannya. Tangan Ella dengan sempurna memeluk tubuh Devan yang sudah terlentang tadi karena ingin mengembalikan kaki Ella.


"Gadis ini apa benar dia tidur?" batin Devan yang rasanya sudah menyerah.


Ella yang masih dalam alam mimpinya, merasakan guling hangat dan lembut disampingnya. Tanpa sadar tangannya melingkar seperti memeluk guling seperti yang ia rasakan. Berbeda dengan Devan yang kini menahan napasnya saat jemari Ella meraba-raba dadanya dengan lembut.


Jemari Ella semakin berani, bahkan sekarang jari-jari seakan membuat gambar abstrak diatas dada yang terbalut kaos putih tipis milik Devan itu. Perasaan lama yang Devan rasakan kembali, membangkitkan gairahnya kembali. Ditambah bayang-bayang sentuhan para wanita club semakin menambah naluri Devan.

__ADS_1


Tidak tahan dengan yang Ella lakukan, Devan menggenggam tangan Ella memasukkan jari-jari itu kemulut Devan. Devan menghisap jari-jari itu seperti sedang memakan permen tusuk. Dilihatnya Ella mengerutkan keningnya dengan mata masih terpejam, dan jangan lupa bibir Ella yang sekarang terbuka sampai mengeluarkan suara aneh yang menambah gairah Devan.


"Gadis, apa yang kau mimpikan sekarang?" bisik Devan yang sudah melepaskan jari-jari Ella. Sekarang tangan Devan beralih menyentuh pipi Ella, membelainya sampai akhirnya tangan itu berhenti di tengkuk Ella. Mendorong tengkuk itu, Devan menyesap bibir itu dengan rakus.


Devan melihat mata Ella masih terpejam. Padahal sentuhannya sudah beralih sampai ke punggung Ella, tapi gadis itu masih terpejam sempurna seperti tidak terganggu dengan semua sentuhan itu. Devan melepas bibirnya dari bibir Ella, sekarang beralih menyusup ke leher jenjang Ella.mengecupi leher itu dan mendengarkan suara malaikat yang selalu menaburkan kabut gairah untuknya.


Seketika Devan tersadar akan sesuatu hal. Devan segera bangkit dan beranjak menuju kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin dimalam hari yang juga dingin ini. Devan beruntung dirinya tidak sampai kebablasan. Saat ia meraba perut Ella, seketika saat itu juga ia tersadar jika gadis itu sedang mengandung.


"Kau bodoh Devan! Bagaimana kau bisa tergoda dengan sentuhan wanita yang bahkan pernah menolakmu!" kesal Devan didalam kamar mandi yang masih mengucurkan air dingin untuk meredakan gairahnya.


Begitulah kira-kira malam pertama pernikahan Devan dan Ella berjalan. Hanya sepihak yang tau, tapi keduanya yang merasakan.


...************************...


Rumah dengan gaya eropa modern yang terlihat megah dengan halaman yang luas, kini berada dihadapan Ella. Dengan menarik koper miliknya, Ella menunggu seorang pria didepannya membuka pintu yang kuncinya ada padanya. Ella masih mengamati sekitaran rumah itu sampai-sampai ia tak sadar kalau pintu sudah dibuka.


Bukan hanya luar rumahnya yang menarik untuk Ella, sekarang didalam rumah itupun menarik perhatiannya. Cat putih gading dan sinar matahari yang masuk melalui jendela, membuat rumah ini terlihat nyaman dan hangat.


"Kalau kau berpikir tidak ingin mencelakai anakmu, pilihlah kamarmu dilantai satu." ujar Devan dingin yang lalu berlalu meninggalkan Ella menaiki tangga menuju kamar miliknya.


Sedikit tersentak saat Devan masih belum mengakui keberadaan anak diperutnya, Ella beralih untuk segera membawa barang-barangnya kedalam kamar untuk ditatanya. Ella tak peduli dengan Devan yang masih belum mengaku, yang terpenting sekarang anak yang masih belum lahir itu pasti akan lahir dengan membawa marga ayahnya.


"Hari ini kamu mau makan apa?" tanya Ella pada anaknya dengan mengusap perutnya yang masih rata. Ella akui dia bahagia, sekarang ia tidak sendirian lagi kalau ada anaknya untuk diajak mengobrol.


"Bagaimana kalau makan steak? Rasanya mama ingin itu, pasti kamu yang minta kan?" tanya Ella dengan senyumnya.

__ADS_1


Ella segera menyelesaikan pekerjaan dahulu sebelum memasak untuknya nanti. Setelah semua selesai, Ella menuju dapur dan membuka kulkas. Seperti dugaan Ella, saat pertama kali memasuki rumah ini saja semua furniture dan perabot lengkap pasti kulkas juga lengkap kan?


Tangan lembutnya mengambil daging dan segera memarinasinya agar bumbu meresap sempurna didalam daging sapi itu. Mengambil butter, rosemary, bawang putih, Ella bersiap untuk memasak dagingnya yang sudah ia marinasi dengan sempurna.


"Wah sudah matang!!" pekik Ella dengan senyum bangganya setelah melihat steaknya matang dengan sempurna. Dengan anggunnya, dia duduk dan memotong steaknya. Tapi....


"Apa kau tidak memasak untukku?"


.


.


.


.


.


Halo hai semua


Missyu


Gimana nih sama babang Devan?


Terdevan-devan 🥺

__ADS_1


Tinggalkan jejak kalian ya disini...,


__ADS_2