You And Me And Destiny

You And Me And Destiny
Bukanlah pengantin biasanya


__ADS_3

Seorang lelaki yang duduk ditepian ranjang, mengusap kasar wajahnya. Bayangan malam indah itu, seperti menghantui dirinya. Apa mungkin itu efek karena dia sudah lama tidak melakukan itu ? Bisa jadi bukan, karena itu dia menjadi sensitif.


"Bisa gila aku lama-lama kalau seperti ini." gumam pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Devano Alendra. Devan yakin kalau tadi ia sempat mendengar Ella bergumam saat melihat wajahnya yang memerah. Entah bagaimana nanti Devan memperlakukan Ella saat bertemu.


 __________________


Pagi hari, dengan cahaya matahari yang menembus jendela kamar. Membukakan mata seorang pria yang tadinya masih bergelut dengan selimutnya. Tapi, tanpa disangka-sangka hidungnya mencium aroma lezat yang menggugah seleranya. "Mami masak enak lagi ya?" gumam pria itu yang masih setengah tidur.


Pria itu lantas bangun dan mengarahkan kakinya mencari sumber aroma yang lezat ini. Menuruni anak tangga, pria itu yang tak lain adalah Devan melihat seorang wanita dengan apron pink yang melekat ditubuhnya.


"Devan, anda sudah bangun? Saya menyiapkan sarapan untuk anda. Sebagai rasa terimakasih saya kemarin." ujar wanita itu yang tak lain adalah Ella.


"Hmm," jawab Devan yang langsung mengambil kursi untuk memulai sarapannya.


Devan melihat Ella yang juga mengambil kursi didepannya, persis seperti makan bersama. Tapi kini fokus Devan ada pada jas yang Ella kenakan. Devan yakin jika itu maksudnya gadis ini akan pergi bekerja. Devan mengabaikan dan segera menghabiskan makannya.


"Letakan saja disitu, nanti saya yang akan bersihkan." ujar Ella yang melihat Devan berjalan kearah wastafel.


"Jangan bebani dirimu. Atau aku yang akan kena masalah nantinya," jawab Devan yang lalu mengambil spons pencuci piring dan segera mencucinya sendiri.


Ella yang mendengar apa yang Devan katakan, sedikit menyunggingkan senyumnya. Setidaknya dari kata yang Devan lontarkan, dia tidak ingin Ella terlalu lelah kan? Walaupun cuma kiasan berkedok takut dimarahi mami, Ella bersyukur setidaknya disini dia diperlakukan sebagai manusia.


Devan yang notabene adalah bos dikantornya, setelah sarapan dia baru mandi dan berganti pakaian. Sedangkan Ella masih membersihkan meja yang mereka gunakan untuk sarapan tadi. Sembari melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit. Jam masuk kantor telatnya jam delapan, tapi jujur saja Ella tidak yakin akan sampai diwaktu yang tepat. Mengingat Ella tidak hafal jalan, dan juga dia harus menunggu bus.


"Huh Ella, betapa bodohnya dirimu. Kan ada maps!" gumam Ella yang merutuki kebodohannya sendiri. Segera Ella membuka ponselnya dan melihat jarak kantor dan rumah yang ia tempati saat ini. Dan muncul lah yang Ella cari-cari, tapi....

__ADS_1


"Kalau naik bus pasti akan telat," gumam Ella saat melihat jarak rumah dan kantornya membutuhkan waktu 30 menit. Ella segera menaruh piring-piring dan gelas ketempatnya. Kalau saja Ella sudah kepikiran sejak kemarin untuk melihat maps, pasti tidak akan begini jadinya. Kalau tau begini, Ella akan bangun lebih pagi dari biasanya.


Ella segera menyambar tasnya dan tidak lupa ponsel yang wajib ia bawa karena tidak tau jalan. Ella berjalan menyusuri trotoar yang mengarah ke kantornya. Sekalian juga ia mencari halte untuknya menunggu bus. Tapi, high heels yang Ella pakai sangat menyiksanya sekarang. Untuk berjalan saja kesusahan apalagi untuk berlari.


Disisi lain, seorang pria dengan santai menuruni tangga sembari mengikat dasinya. Netranya melihat sekeliling, tapi tidak menemukan keberadaan wanita yang sarapan bersamanya tadi. "Apa dia sudah berangkat?" gumam Devan bertanya pada dirinya sendiri.


Devan mengangkat kedua bahunya acuh. Memang hidup sendiri-sendiri seperti ini yang Devan inginkan, bukan kehidupan seperti pasangan suami istri yang harus bersama setiap saat. Tentu saja ini semua karena Devan dan Ella hanya sekedar partner bertanggungjawab. Bukan lebih, ataupun kurang dari itu. Dan sudah tidak bisa disangkal lagi.


Devan meraih kunci mobilnya dan pergi meninggalkan rumahnya yang kini merambat menjadi miliknya dan Ella. Dalam perjalanannya, Devan tak sengaja melihat seorang wanita dengan jas cream berjalan dengan terburu-buru. Siapa lagi kalau bukan Ella? Devan segera menepikan mobilnya tepat disamping Ella. Hal itu tentu saja mampu membuat Ella terkejut dengan kehadiran mobil yang tiba-tiba berhenti disampingnya.


"De-Devan?" tanya Ella yang terkejut dengan wajah Devan yang terpampang didalam mobil yang sudah dibuka kacanya.


"Naiklah! Didaerah sini tidak ada halte bus." ujar Devan datar pada Ella yang menatap tak percaya dengan apa yang Devan katakan. Naik? Apa Devan orang yang sebaik itu? Melihat jam yang melingkar di tangannya, Ella akhirnya memilih untuk ikut masuk kedalam mobil Devan dengan terpaksa.


Didalam mobil, suasana canggung mulai terasa. Tapi tak berselang lama, Devan memilih memulai topik lebih dulu. "Kau akan ke kantor atau ke area proyek?" tanya Devan memulai pembicaraan. Seketika hal itu membuat Ella menolehkan kepalanya melihat Devan yang fokus menyetir.


Devan segera melajukan mobilnya menuju kantor tempat Ella bekerja. Beruntung tepat pada waktunya, Ella sudah sampai ke kantornya. "Devan, terimakasih sudah mau mengantarkanku." ujar Ella setelah turun dari mobil Devan. Devan yang masih didalam mobil, menganggukkan kepalanya dari kaca mobilnya.


Mobil melaju meninggalkan Ella yang segera masuk kedalam kantor. Berjalan dengan biasa, Ella merasa dirinya ditatap banyak pasang mata. Perasaan itu bukan hanya Ella rasakan, tapi Ella juga melihatnya sendiri orang-orang melihatnya dengan ekspresi yang berbeda-beda.


"El?" panggil seseorang yang berada tak jauh dari Ella. Yap, dia adalah Aura. Ella dengan cepat menghampiri Aura karena merasa risih di tatap banyak pasang mata yang menggangu dirinya.


"Kok masuk kerja?" tanya Aura bingung melihat Ella yang masuk setelah menikah. Karena biasanya ada cuti menikah selama seminggu, tapi ini belum seminggu dan Ella sudah berada didepannya?


Ella tersenyum melihat kebingungan Aura. Tentu saja banyak yang bingung, mana ada pengantin baru yang langsung bekerja seperti ini. Tapi Ella dan Devan tidak seperti pengantin yang menikah karena saling menyukai, lebih tepatnya Ella dan Devan hanyalah partner bertanggungjawab untuk bayi yang masih ada di perut Ella.

__ADS_1


"Proyek masih dalam proses, mana mungkin aku bisa mengabaikannya." jawab Ella dengan senyumnya. Sedangkan Aura hanya manggut-manggut tidak bisa menanggapi apa yang Ella katakan.


Ella segera melangkahkan kakinya menuju ruangan direktur untuk menyerahkan file yang sudah ia siapkan semalam. Tentu saja dengan berbagai tatapan yang membuat Ella muak selalu mengikutinya. Ella yang sudah menyerahkan file itu, segera pamit untuk meluncur ke tempat proyek.


Tapi, belum sampai ke halte bus, ponselnya bergetar menandakan adanya panggilan masuk untuknya. Dan dilihatnya...


"Kamu dimana sayang? Kenapa rumahmu sepi sekali?";


.


.


.


.


.


Dudurududu


Dudurududu


Dudu du


I am back:)

__ADS_1


Don't forget to like this part:)


__ADS_2