You And Me And Destiny

You And Me And Destiny
Harus ada yang mengerti


__ADS_3

Rumah sakit yang awalnya tenang, kini berubah menjadi kacau hanya karena satu orang saja. Dengan langkah yang cepat alias lari, seseorang itu terlihat amat panik saat mengambil langkah menuju ruangan yang pernah ia datangi kurang lebih hampir satu bulan ini.


"Ibu Mira?!" teriak seorang suster yang keluar dari ruangan yang familiar bagi seseorang yang berlari tadi. Bukannya ibu yang dipanggil namanya yang masuk, tapi malah seseorang yang berlari dari tadi yang masuk kedalam ruangan itu.


Suara keras pintu yang dibuka paksa, menjadi pusat perhatian semua orang yang ada disekitar ruangan itu. Bahkan suster yang tadi memanggil para ibu-ibu yang akan memeriksa juga terkejut pada seseorang yang tiba-tiba nyelonong masuk dengan paksa.


"Huh huh huh,"


"Suster? Apa sekarang ada jadwal melahirkan? Kenapa ada ibu-ibu yang mau melahirkan berdiri didepan pintu sekarang?" tanya seorang wanita ber nametag Monika di jas dokternya.


"Apa huh dia sudah datang?" tanya seseorang yang tadi menyelonong masuk dengan paksa dan sekarang dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Hmm." balas Monika dengan cueknya. Sedikit kesal juga melihat pria didepannya ini yang menjengkelkan bagi wanita manapun. Apalagi setelah ia melihat ekspresi wajah Ella saat ia periksa tadi.


"Hmm apa? Iya atau belum?" tanya pria itu yang tak lain adalah Devan. Dengan raut wajah lelahnya, Devan bertanya pada Monika yang justru mengabaikan Devan.


"Huh, dasar manusia batu. Emang jam berapa kau janjian dengannya? Dan lihatlah sekarang jam berapa! Lalu apa kau lihat dia disini?" serbuan kekesalan Monika pada Devan yang sekarang langsung cengo sendiri.


Sebenarnya, Devan bukan sengaja untuk mengingkari janjinya pada Ella. Tapi pekerjaan yang membuatnya harus melakukan itu, bahkan untuk mengabari Ella saja dia tidak bisa karena nomor Ella tak tersimpan di handphonenya. Bukan karena Ella istrinya sekarang, tapi Devan yang kagum saat pertama kali melihat titik kecil dilayar saat alat usg diarahkan ke perut Ella. Dan itu selalu menjadi bayang-bayang Devan, dan saat mendengar Ella minta ditemani ya tentu saja Devan mau.


"Kapan dia pergi?"


"Sudah sekitar setengah jam yang lalu." jawab Monika dengan malasnya karena sepupunya ini yang tidak pernah berubah. Dari dulu memang tingkat kepekaannya pada wanita sangatlah Nol.


Sementara Devan, ia langsung berbalik dan berlari lagi menuju mobilnya. Entah kenapa ada rasa kesal didalam hatinya, yang pastinya kesal pada dirinya sendiri. Padahal dirinya sedang menginginkan melihat titik kecil dilayar USG itu, tapi sekarang dia malah tidak bisa melihatnya karena Ella yang sudah pulang.


Dalam perjalanan, Devan mengecek ponselnya dan dia lupa kalau nomor Ella tidak ada di kontaknya. Benar-benar sekarang Devan harus putar otak untuk menemui wanita itu yang sekarang entah dimana. Kalau kerumah orang tuanya pasti Devan akan mendapat masalah baru, dan jika ke rumahnya sendiri apakah Ella ada disana?


Tiba-tiba Devan yang awalnya panik sendiri itu, tersadarkan sesuatu. Kenapa dia sepanik ini? Belum tau juga itu anak siapa, kenapa dia harus merasa menyesal seperti ini? Dengan menghembuskan nafasnya perlahan, Devan mencoba menghilangkan segala pikiran berkecamuk yang sempat berkeliling di benaknya.

__ADS_1


Dengan santainya, sekarang Devan memutar kemudinya menuju kantor yang sempat ia tinggalkan itu. Masa bodoh sekali mau Ella dimanapun, wanita itu sudah besar juga kan? pikir Devan dengan matang. Urusan jika Ella kembali ke kediaman Alendra, itu urusan belakangan saja.


Sedangkan diwaktu yang sama, seorang wanita yang menikmati hari liburnya ini dengan menikmati segala macam dessert yang sedang terkenal sekarang. Di dalam tempat dessert itu, Ella duduk sendiri dengan tenang dan menikmati dessert manis yang entah sejak kapan mulai disukai Ella. ***** makannya benar-benar meningkat setelah ia mengetahui dirinya sedang hamil.


Dibalik kaca yang tembus dengan pemandangan bangunan-bangunan kota yang menjulang tinggi, membuat Ella yakin benar kalau dirinya sekarang hidup di kota yang sedang maju. Ella mengalihkan pandangannya, kini matanya tertuju pada keluarga bahagia dimana pasangan suami istri yang sedang makan bersama dan jangan lupa bayi mungil yang sejak tadi berada di gendongan sang papa.


Tak terasa, tangan Ella sudah berada di perutnya. Usia kandungan yang sudah masuk bulan kedua ini membuat Ella sudah merasa yakin kalau ada nyawa yang hidup di rahimnya. "Apa kamu ingin digendong sama papa? Tapi kan kamu belum lahir, pasti kalau kamu lahir papa akan menggendongmu seperti itu." gumam Ella seraya tersenyum kecut mengingat Devan yang sangat enggan untuk mengakui keberadaan anak didalam perutnya ini.


Segera menghabiskan dessert nya, Ella memilih untuk segera keluar dari tempat ini. Pemandangan keluarga yang harmonis membuat hati Ella sedikit tersentil. Bukan hanya hatinya, tapi juga pikirannya yang kian memikirkan hal yang aneh-aneh. Ella sudah yakin dari dulu kalau hubungannya dengan Devan tak akan pernah bisa berjalan lancar, tapi demi bayinya yang belum menginjak dunia ini ia harus mau menikah dengan Devan.


"Apa kamu lelah? Mama rasanya capek banget buat jalan. Apa mau naik taksi aja? atau lanjut jalan?" tanya Ella pada bayinya yang sudah pasti tidak bisa menjawabnya secara langsung.


Ella tersenyum menguatkan hatinya, lalu menepi ke pinggir jalan untuk memanggil taksi. Saat taksi berhenti didepannya, tak sengaja sorot mata Ella menangkap seseorang yang ia kenal lewat didepannya. Melewatinya dengan cepat, secepat mobil yang dikendarainya melaju.


"Itu papa kan sayang? Sepertinya papa benar-benar sibuk." gumam Ella sebelum akhirnya masuk kedalam taksi yang akan mengantarkannya ke kediamannya bersama Devan.


Kembali pada Devan yang sekarang sudah sampai di rumahnya. Tampak sepi dari luar, yang menandakan kalau wanita yang tinggal seatap dengannya itu belum juga kembali kerumah. Kaki Devan yang akan melangkah kembali ke mobilnya, terhenti saat mobil berwarna putih dengan tulisan taksi berhenti di depan rumahnya.


Entahlah, pikiran Devan yang tadinya ingin kembali kekantor tiba-tiba saja cepat berganti untuk kembali kerumah. Devan saja tidak tahu, apalagi author:(


Melihat wanita yang baru turun itu, membuat Devan benapas lega. Rasa panik yang menyerbunya sejak tadi perlahan menghilang seiring langkah kaki wanita itu yang mulai mendekat. "Anda pulang?" tanya wanita itu pada Devan.


"Hmm," jawab Devan seadanya.


Wanita itu yang tak lain adalah Ella, segera melangkahkan kakinya untuk membuka pintu rumah dan masuk mendahului Devan yang masih mematung di luar rumah.


"Apa kau sudah ke rumah sakit?" tanya Devan yang kini sudah berada didalam rumah sembari memperhatikan Ella yang membuka setiap gorden rumah agar cahaya yang dari luar masuk kedalam rumah.


"Saya sudah kesana, dan tadi saya mampir dulu untuk memakan kue. Saya bawakan untuk anda juga, tapi maaf kalau anda nanti tidak menyukainya." jawab Ella seprofesional mungkin sejalan dengan karirnya sebagai sekretaris.

__ADS_1


Devan menatap bungkusan diatas meja, yang berarti wanita didepannya benar-benar sudah pergi. "Ehem...Kenapa kau tidak menungguku?" tanya Devan ragu namun sangat penasaran.


Ella tersenyum sembari menatap Devan yang juga menatapnya. "Saya tau anda sedang sibuk, saya tidak akan menagih janji anda pada saya. Anda tidak perlu khawatir soal itu," jawab Ella cukup membuat Devan tersentak.


"Hmm, terimakasih sudah mengerti." jawab Devan datar seakan gengsi sudah merajalela di sekujur tubuhnya.


Janji memang susah untuk ditepati, tapi jika sudah berjanji pasti ada salah satu pihak yang harus mengerti dan tak mempermasalahkan jika janji itu harus musnah dengan keadaan tanpa laporan atau kabar. Setidaknya itulah yang ada dipikiran Ella sekarang.


.


.


.


.


.


.......


...Hai semuanya...


Aku up lagi nih


Selamat membaca


Maafkan aku yang ngaret banget


Sayang kalian semua, selamat membaca<3

__ADS_1


__ADS_2