
Ella akhirnya hanya bisa menurut dan duduk di samping Devan yang mengemudikan mobilnya. Berusaha menolak selalu gagal, jadi terpaksa untuk Ella mengikuti saja apa yang Devan ingin lakukan. Yah walaupun Ella sering menelan ludahnya saking tremor memegang black card dan juga dia akan berbelanja dengan kartu itu sih!
Mobilpun berhenti tepat didepan mall yang terlihat megah. Dan disitulah Ella mulai merasakan hawa-hawa yang mulai membuat napasnya sesak. Walaupun dia bekerja menjadi seorang sekretaris di perusahaan yang bisa dibilang ternama, tapi untuk menginjakkan kakinya disini adalah untuk yang pertama kali untuknya.
Ella berjalan mengikuti Devan yang sudah duluan didepannya. Memasuki mall yang sudah Ella duga akan terlihat megah karena kilauan yang ada di mall itu. Tapi kini fokus Ella ada pada para staff mall yang menunduk seiring Devan melewati mereka ataupun yang berpapasan. Tentu saja Ella yang berjalan dibelakang Devan merasa canggung karena ikut merasakan dihormati seperti raja dengan karpet merah yang tergelar di lantainya.
"Selamat datang, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pria paruh baya dengan sopan pada Devan yang sudah berada lebih masuk kedalam mall.
"Hmm, bantu dia mencari baju." jawab Devan dengan mengarahkan jempolnya pada Ella tanpa berbalik untuk melihat Ella yang sekarang melotot tak percaya.
Seketika pria paruh baya itu menoleh pada Ella yang berada dibelakang Devan, dan tentu saja pria paruh baya itu menundukkan kepalanya. "Selamat datang nyonya muda, saya manajer di sini. Saya akan menemani anda untuk berkeliling di mall ini." ujar pria paruh baya itu dengan sopan pada Ella.
Apalagi ini ya Tuhan!! Ada apa dengan hari ini? Kenapa aneh sekali rasanya menjadi orang kaya!! .. Hemm, mungkin seperti itu yang ada dipikiran Ella sekarang. Ella hanya membalas dengan senyumannya dan melanjutkan langkahnya karena para staff yang sudah menggiringnya dibelakang dan disampingnya.
"Nyonya muda, katakan saja pada saya jika anda menginginkan apapun selama berkeliling disini." ujar manajer mall ini pada Ella. Sedangkan Ella hanya mengangguk sembari melihat-lihat mall yang ramai dengan para konglomerat yang sedang berbelanja disini.
Selama berkeliling, Ella merasa canggung sendiri. Apalagi sekarang Devan sudah tak terlihat lagi dimatanya. Pria itu dengan tega meninggalkannya sendiri dengan pengawal-pengawal yang sejak tadi berkeliling bersamanya. Merasa lelah berkeliling, Ella akhirnya memilih untuk masuk ke salah satu butik yang terlihat terang daripada yang lain.
"Emm, sepertinya saya ingin masuk kesana." ujar Ella yang tentu saja di angguki manajer tadi.
Ella dipersilahkan masuk dengan para staff mall yang sudah menyebar ke semua penjuru butik. Tentu saja Ella langsung menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di butik itu. Senyum canggung adalah andalan Ella untuk situasi seperti ini.
Di waktu yang sama, seorang pria dengan cermat mengamati layar yang menampilkan wanita yang datang bersamanya tadi. Entah lah, padahal bisa saja dia mengamati dalam jarak dekat! Tapi rasanya sangat canggung untuknya yang belum pernah pergi bersama wanita selain ibunya dan keluarganya. Yah, karena dia hanya bertemu wanita lain di satu tempat yang dinamakan klub.
"Tuan muda, bukankah lebih baik anda ikut bersama nyonya muda?" tanya seseorang yang sejak awal sudah mengawasi Devan dan Ella dari kejauhan.
__ADS_1
Siapa lagi seseorang yang akan setia pada Devan kalau bukan Harcen! Walaupun sudah dikatakan Devan pulang lebih awal dari biasanya, tapi tetap saja Harcen tak akan diam saja melihat keanehan majikannya itu. Yang pasti, secara diam-diam Harcen akan selalu ada untuk Devan yang sudah bertahun-tahun menjadi bos nya.
"Untuk apa aku kesana?" balas Devan tanpa menoleh pada Harcen karena sudah hafal dengan suara yang familiar baginya.
Dan sekarang Harcen yakin bahwa tuannya benar-benar tidak berubah seperti kekhawatirannya tadi. Sekarang saja Devan hanya diam di ruang pengamat sambil melihat Ella yang sedang melihat-lihat deretan pakaian dengan brand-brand terkenal di semua sisi mall ini.
"Maaf kalau saya lancang, tapi sepertinya nyonya terlihat tidak nyaman dengan pengawalan yang ketat itu. Mungkin jika Tuan muda ada, nyonya muda akan merasa jauh lebih nyaman." ujar Harcen yang mengutarakan pendapatnya.
Ella yang dari kalangan bawah, memang tidak terbiasa dengan hal mewah seperti ini. Bagaimanapun juga, ini terlalu mendadak untuk didapatkan Ella dari keluarga yang kaya seperti keluarga Alendra.
Devan terlihat terdiam sesaat, sebelum akhirnya bangkit dari duduknya dan berjalan sesuai dengan kata hatinya yang disadarkan oleh Harcen. Jujur saja, Devan terlihat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Devan yang dingin, mendadak ingin berdekatan dengan Ella di setiap waktunya.
Saat langkahnya terhenti, Devan melihat Ella yang sedang melihat-lihat deretan sepatu yang entah kenapa membuat wajahnya berkerut. Devan segera menghampiri Ella yang terlihat kebingungan dengan barang yang dibawanya. "Apa ada masalah?" tanya Devan mengejutkan Ella.
Namun tanpa diduga, reaksi Ella malah langsung kontras dengan suasananya. Ella tiba-tiba bangkit dan memeluk Devan dengan erat, membuat para staff mall berbalik badan seakan menghormati Ella dan Devan. "Devan, saya takut." lirih Ella yang terdengar jelas di telinga Devan.
"Ah, maafkan saya. Sejak hamil, saya sedikit susah menahan emosi saya." ujar Ella yang sudah melepaskan pelukannya. Sedangkan Devan langsung berdehem seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Ella kembali melihat-lihat deretan sepatu yang sangat glamor di sini. Jujur saja, sejak tadi Ella sudah menemukan sepatu yang sangat lucu dan terkesan simpel juga. Tapi melihat harganya, Ella merasa sangat kikuk untuk mengambilnya.
"Kenapa tidak kau ambil saja? Dari tadi matamu selalu meliriknya." ujar Devan dingin yang sejak tadi sudah mengamati gerak-gerik Ella yang terlihat sangat menginginkan flatshoes berwarna nude yang akan terlihat bersih bila dipakai.
Ella tertawa renyah saat Devan bertanya itu, karena jujur dia sangat menginginkan flatshoes itu. Tapi harga yang sangat tinggi, membuat Ella harus menahan diri untuk mengambilnya. "Tidak apa, saya hanya melihat-lihat saja." jawab Ella seraya mengalihkan tatapannya dari flatshoes yang sejak tadi diliriknya.
Devan menggelengkan kepalanya pelan dan langsung saja mengambil flatshoes itu dari tempatnya. Ditariknya tangan Ella yang membuat wanita itu membalikkan badannya tepat di dada Devan yang bidang. "Kalau kau mau, ambil saja." ujar Devan seraya menyerahkan flatshoes itu ke tangan Ella.
__ADS_1
Mata Ella membelalak saat flatshoes yang ia incar dari tadi, sekarang ada ditangannya. "Ah, saya rasa tidak perlu. Lagipula saya...."
"Kartu tadi milikmu, gunakanlah semaumu." ujar Devan memotong ucapan Ella yang akan menolak lagi.
Ella akhirnya hanya diam dan membawa flatshoes itu sampai akhirnya ada staff mall yang menghampirinya untuk membawakan flatshoes yang dipilih Ella. Untuk ukuran sudah pas, jadi Ella tidak perlu lagi menukarkan flatshoes yang sangat menyilaukan matanya.
"Terimakasih," ujar Ella saat tatapannya sudah lurus dengan tatapan Devan.
Jika ini adalah mimpi, tolong segera bangunkan Ella sekarang. Karena rasanya, hari ini tidak pernah ada di list nya sebagai istri Devano Alendra. Berbelanja bulanan bersama, mampir di mall bersama, dan bahkan Devan memberinya perhatian untuk hari ini. Tolong, jika ini mimpi segera bangunkan Ella. Ella sungguh tidak mau terjebak dengan keindahan dan keharmonisan ini. Ella masih ingin hidup sampai anaknya tumbuh nanti, dan ia tidak ingin menjadi sleeping beauty yang hanya bisa bangun dengan kecupan hangat yang tidak mungkin ia dapatkan dari Devan.
Tapi jika ini kenyataan, apakah boleh Ella meminta untuk menjalani peran ini seterusnya? Perubahan Devan sangatlah canggung untuknya, tapi disisi lain juga menyenangkan. Apa ini keluarga? Apa ini hubungan suami istri? Jika iya, Ella ingin seperti ini untuk seterusnya. Hanya satu pertanyaan di benak Ella, apakah bisa?
.
.
.
.
.
Halo halo semua
Aku datang lagi, eh up lagi maksudnya 😂
__ADS_1
Like nya dan komennya👌
Papay🤗