
Seperti apa yang dikatakan Tuan Jang, sekarang Ella bertugas dilapangan yang dimana ia harus mengecek proyek yang akan dikerjakan. Proyek yang berada jauh dari kantornya, membuat Ella mau tidak mau harus berangkat subuh-subuh sekali.
Sampai di daerah pegunungan yang menjadi proyek hotel, Ella sudah melihat sekretaris Harcen yang juga memantau pengantaran material. Ella mau tidak mau harus mendekat pada sekretaris Harcen untuk mendiskusikan masalah Hotel yang akan dibangun.
"Pagi Sekretaris Harcen," sapa Ella yang membuat sekretaris Harcen langsung menoleh pada Ella yang baru sampai.
"Selamat pagi juga sekretaris Ella," balas sekretaris Harcen yang kembali mengamati para pekerja yang mengangkat beberapa material yang dibutuhkan.
Ella sebenarnya sedikit canggung jika dihadapkan dengan orang baru, tapi apa boleh buat kalau inilah resikonya menjadi sekretaris di perusahan ternama. Berusaha meneguhkan hatinya, Ella mencoba mencari topik agar tidak terjadi kecanggungan seperti ini.
"Oh iya, untuk model rancangan arsitektur nya ada disini." ujar Ella sembari memberikan gulungan kertas yang didalamnya terdapat gambar-gambar hotel yang akan mereka rancang.
Sekretaris Harcen menerima gulungan itu dan melihatnya. "Emm, ini bagus juga. Tapi saya harus menunggu presdir untuk melihatnya sendiri." balas sekretaris Harcen membuat bulu kuduk Ella berdiri.
"Presdir akan datang?" tanya Ella yang mendapat anggukan kepala dari sekretaris Harcen.
Ingin rasanya Ella menghilang sekarang juga. Apa yang harus ia lakukan nanti saat bertemu presdir Dev company yang bahkan ia saja tidak tau namanya.
"Nah itu Presdir sudah datang." ujar sekretaris Harcen membuat Ella membalikan tubuhnya dan mendapati pria yang sama seperti yang ia lihat kemarin dan bulan lalu.
Mata Ella dan Devan saling bertemu, tapi dengan cepat Ella membuang mukanya untuk memutus tatapan mata itu. "Selamat datang presdir," ujar Ella menyapa kedatangan Devan. Devan tidak membalas, langsung melewati Ella begitu saja.
"Tindakan macam apa itu? apa pura-pura melupakan kejadian kemarin?" batin Devan yang geram.
Ella tersenyum kecut, namun kembali lagi pada tugasnya. Ia berjalan mengikuti dua pria yang sudah meninggalkannya sendirian. Ella mengatur nafasnya yang ngos-ngosan setelah sampai ditempat Devan dan sekretaris Harcen berada.
"Bagaimana rencana pembangunan ini?" tanya Devan yang sudah pasti untuk Ella yang baru saja tiba.
Ella dengan cepat menjawab apa yang ditanyakan Devan sampai rinci. Walaupun nafasnya masih ngos-ngosan, tapi Ella dengan bijak masih bisa mengatur kata per kata yang harus ia laporkan.
Devan sedikit kagum dengan Ella yang diluar ekspetasinya. Jika dilihat sekilas, wajah Ella masih terlihat seperti anak sekolah menengah atas. Tapi tak disangka gadis cantik itu bisa melaporkan dengan jelas dan rinci.
__ADS_1
"Hmm baiklah, lakukan sesuai rencana." jawab Devan membuat Ella bernapas lega karena pihak Dev company puas dengan yang ia laporkan.
------------
Jam sudah menunjukkan waktunya makan siang. Ella merutuki dirinya yang bisa-bisanya meninggalkan uangnya di rumah. Bahkan untuk sarapan saja sudah Ella tinggalkan tadi. Hanya kartu naik bus dan kartu atm yang Ella bawa. Untuk mencari rumah warga disini saja susah, apalagi mesin atm untuk ia mengambil uang.
Ella hanya bisa menahan segalanya sampai pukul empat sore waktu ia pulang. Tapi entah kenapa, mendadak rasanya kepala Ella pusing. Melihat yang lain sedang makan, membuat Ella berjalan menjauh dari keramaian. Ella menahan rasa lapar dan pusingnya bersamaan. Ditepi galian yang lumayan dalam, Ella.....
"Hei nona!" pekik seseorang yang suaranya samar-samar Ella dengar.
Ella hampir saja masuk kedalam galian itu kalau saja seseorang itu tidak membantunya sekarang. Ella tak bisa melihat pria itu yang menolongnya. Yap, pria. Ella masih bisa membedakan antara suara pria dan wanita dalam keadaan seperti itu. Sampai akhirnya kesadarannya hilang.
_____________
"Kenapa kau ceroboh sekali! Bahkan membiarkan istri anda yang hamil sampai kelaparan seperti ini!"
Deg...
Rasanya jantung Devan ingin putus saat dokter didepannya mengatakan kata hamil dengan sangat jelas. Yap, memang Devan lah yang menolong Ella tadi. Dengan rasa manusianya, Devan membawa Ella ke rumah sakit terdekat. Tapi apa ini? Hamil? Gadis itu?
"Hamil?" tanya Devan pada dokter tadi untuk memastikan apa yang ia dengar tadi.
Dokter itu memutar matanya malas sebelum mejawab pertanyaan bodoh yang Devan lontarkan. "Apa sekarang kau akan berakting menjadi suami yang terkejut mendengar istrinya hamil?" jawab malas dokter itu.
Devan masih terdiam dengan jawaban dokter itu yang memiliki arti kalau gadis itu benar-benar hamil sekarang. Bukan, pasti bukan karena kejadian waktu itu. Devan masih berpikir positif tentang kehamilan Ella yang mengejutkannya.
"Emm kalau boleh tau, dia sudah hamil berapa bulan?" tanya Devan lagi membuat dokter itu bersungut-sungut.
"Kau pikir saja! Perutnya masih rata dan kau juga baru tau tentang itu. Kemungkinan besar tentu saja baru jalan hampir sebulan!" kesal dokter itu, namun berbeda dengan Devan yang langsung membulatkan matanya.
Jalan hampir sebulan? Rasanya jantung Devan ingin copot sekarang. Bagaimana mungkin itu memang dia? Pikiran Devan rasanya buntu sekarang, sampai akhirnya lenguhan Ella yang tidur di brankar rumah sakit terdengar ditelinga Devan.
__ADS_1
Devan menolehkan kepalanya dan mendapati Ella yang sudah membuka matanya dengan sempurna. Sedangkan Ella mengamati tangannya yang terpasang infus.
Devan berjalan mendekat pada Ella yang masih setia melihat tangannya dan infus yang menancap di tangannya. "Kau sedang berada dirumah sakit," ujar Devan mengejutkan Ella.
Dengan cepat, Ella langsung menegakkan tubuhnya karena saking terkejutnya melihat Devan yang berdiri disisi brankarnya. "Tuan presdir, anda yang menolong saya?" tanya Ella yang langsung mendapat anggukan kepala dari Devan.
"Terimakasih," ujar Ella dengan sopan dan sedikit canggung.
Dokter yang menangani Ella berdiri dan mendekat pada kedua manusia yang saling terdiam itu. "Nona, sebaiknya anda menyiapkan tali untuk menghajarnya. Tega sekali dia membiarkan istrinya kelaparan seperti ini." ujar dokter itu dengan menunjuk-nunjuk Devan sebelum akhirnya ia pamit keluar dari ruangan.
"Emm jangan dengarkan dokter itu. Sebaiknya saya pergi sebelum tante saya mencari saya nanti." ujar Ella yang berniat ingin mencabut infus yang menempel di tangannya. Namun usaha itu langsung dicegah oleh Devan yang menahan tangan Ella yang ingin mencabut infus itu.
"Jangan dilepas!" peringat Devan dengan tegas, membuat Ella mengerutkan keningnya bingung.
Devan melepaskan tangannya yang memegang pergelangan tangan Ella, lalu berlalu pergi meninggalkan Ella yang masih mematung ditempat.
"Pria itu kerasukan?"
.
.
.
.
.
Halo....
Salam hangat dari aku....
__ADS_1
Makasih udah membaca cerita ini:)
Tinggalkan jejak kalian yakkkk