
Suasana pembangunan sudah mulai terlihat di kawasan pegunungan yang dingin. Ella dengan jas tebal miliknya, berdiri sembari menikmati pemandangan kota yang terlihat dari pegunungan. Walau suasana dingin, tapi hawa sejuk langsung bisa dinikmati Ella saat itu.
Ella bahkan sampai berpikir untuk kedepannya, ia akan memasukan wishlist baru dibukunya. Wishlist ia ingin mempunyai rumah di pegunungan. Setiap hari ia bisa menghirup udara segar, dan setiap hari juga ia bisa menikmati damainya hidup tanpa adanya keramaian.
Tanpa disadari, ada seorang pria yang mengamatinya dari kejauhan. Melipat tangannya didada, pria itu memperhatikan gadis yang disinari sinar matahari pagi. Siapa lagi yang akan berurusan dengan Ella kalau bukan Devan.
Devan sadari kalau Ella adalah salah satu wanita cantik yang pernah ia temui. Meski begitu, rasa geramnya masih ada saat gadis itu dengan beraninya mengembalikan cek yang ia beri. Disitu rasanya harga dirinya anjlok.
"Kalau benar itu adalah anakku," gumam Devan yang tak sengaja didengar oleh Harcen. Tentu saja Harcen terkejut, gumaman Devan terdengar jelas ditelinganya.
Harcen masih menyayangi nyawanya. Dengan begitu, Harcen menahan diri agar tidak mengeluarkan ekspresi terkejut yang ia punya. "Tuan, ini dokumen yang anda minta." ujar Harcen yang sedikit megejutkan Devan.
"Baiklah. Oh iya, apakah Siya sudah datang?" tanya Devan pada Harcen. Siya adalah teman Devan yang merambat menjadi seorang dokter kandungan. Hanya sebatas teman satu kelompok saat di sekolah menengah dulu.
"Sebentar lagi, Tuan. Perkiraan lima menit lagi akan sampai." jawab Harcen. Devan mengangguk dan mengizinkan Harcen untuk pergi.
Setelah Harcen pergi, Devan kembali menoleh pada wanita yang tadi ia awasi. Tapi, netra biru Devan tidak menangkap sosok wanita yang tadinya berdiri dengan tenang. Tentu saja Devan langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari wanita itu.
"Huh, kemana wanita itu pergi?" tanya Devan pada dirinya sendiri. Ia mulai beranjak dari tempatnya dan berjalan kesembarang arah untuk mencari keberadaan Ella.
Tak disangka, ia malah menemukan Ella sudah berada jauh dari tempat proyek. Ella yang ia lihat, sedang berjongkok didepan anak kecil yang usianya kira-kira lima tahun jika dilihat dari besarnya.
"Kelinci ini punyamu?" tanya Ella dengan lembut pada anak laki-laki yang menggendong kelinci putih yang besarnya memenuhi badannya.
"Iya, namanya Tora." jawab anak laki-laki itu.
"Namanya lucu. Kalau namamu sendiri siapa?" tanya Ella sedikit menirukan suara anak kecil yang membuatnya terdengar imut.
"Aku Kevin." jawab anak itu sembari mengelus-elus kelinci putih yang lucu.
__ADS_1
Ella tersenyum, tangannya tergerak untuk ikut mengelus bulu lembut yang kelinci itu punya. Tanpa disadari, senyum sumringah Ella mampu ditangkap netra biru milik Devan. Melihat senyum itu untuk pertama kalinya, Devan akui itu sangat indah dan menenangkan jika dipandang.
"Apa ini dirimu yang sebenarnya?" gumam Devan seraya ingatannya memutar perkataan suruhannya yang mengatakan kalau Ella di siksa oleh om dan tantenya.
Merasakan gelisah, Devan memilih kembali sebelum akhirnya langkahnya terhenti karena mendengar suara wanita yang mual-mual. Devan segera berbalik dan mendapati Ella sudah menutup mulut dengan tangannya.
Devan bergerak cepat menyusul Ella, dan membawa Ella ketempat istirahat yang sudah disiapkan. Kebetulan saat ia sedang mengantarkan Ella ke toilet, dirinya melihat Siya baru sampai dengan jas dokter berwarna putih miliknya.
Devan yang selesai mengantarkan Ella menuju toilet, segera menarik Siya dan mendudukan gadis itu di sofa yang ada diruang istirahat. Devan kembali menyusul Ella yang masih terdengar mengeluarkan semua isi perutnya. Devan segera memijat tengkuk Ella agar gadis itu lebih rileks. Tapi bukannya rileks, Ella malah malu jika Devan melihatnya dalam kondisi seperti ini.
Ella segera membasuh mulutnya dengan air dan menegakkan tubuhnya kembali seperti semula. "Emm, Tuan presdir. Saya baik-baik saja. Terimakasih." ujar Ella gugup.
"Ada yang harus saya katakan padamu sekarang." ujar Devan menahan pergelangan tangan Ella yang berniat pergi.
Ella melihat Devan yang juga sedang menatapnya dari tadi. "Jika itu masalah pekerjaan, kita bisa katakan diluar saja, Tuan. Tidak enak kalau yang lain melihat kita berada diruangan yang sama seperti ini." ujar Ella bijak. Walau pernah pria itu meruntuhkan harga dirinya, tapi kali ini Ella tidak akan mrmbuat reputasinya juga hancur karena pria yang sama.
"Ini masalah pribadi." jawab Devan yang langsung menarik Ella ke sofa tempat Siya berada.
"Wah ada apa ini?" tanya Siya dengan binarnya.
"Cepat periksa dia!" suruh Devan dengan tegas sembari mendudukan Ella disofa yang berhadapan dengan Siya.
"Eh apa ini? Kenapa ada dokter juga?" bingung Ella yang merasa ini terlalu berlebihan untuknya. Yah memang Ella akui kalau tubuhnya sekarang terasa cepat lelah, tapi ini juga kan faktor dari kerjanya yang selalu lembur.
Siya beralih tempat untuk duduk di sebelah Ella. Dengan professionalnya, Siya langsung meraih tangan Ella dan mengecek nadi Ella. Bagaimanapun juga, ia harus melakukan sesuatu pada Ella karena sekarang ia sedang diawasi Devan dengan tatapan tajamnya.
Sedetik kemudian, Siya tercengang saat jari-jarinya yang berada dipergelangan tangan Ella merasakan detak yang cepat. Siya memandang Ella dengan wajah terkejutnya, tapi berbeda dengan Ella yang memandang Siya dengan tatapan bertanyanya.
"Tungggu sebentar," Siya mencoba mengecek lagi dengan keahlian yang ia miliki. Lulus dari universitas di Cina, membuatnya juga ahli untuk mengecek denyut nadi seperti ini.
__ADS_1
"Bolehkan aku periksa perutmu?" tanya Siya yang langsung diangguki Ella dengan ragu.
Setelah mendapat izin dari Ella, Siya mengambil stetoskop nya dan menempelkannya pada perut rata Ella. Tidak lupa Siya juga menjaga privasi Ella dengan menutupi perut itu dengan jas yang Ella pakai. Mata Siya kembali membola saat dengan yakinnya, prediksinya kali ini tidak akan salah lagi.
"Kapan terakhir kali kamu mens?" tanya Siya membuat Ella mencoba mengingat-ingat kembali tentang siklus mens nya.
"Aku lupa, tapi sepertinya kali ini aku telat." jawab Ella dengan polosnya.
Siya mengalihkan pandangannya pada Devan yang sejak tadi mengamati kedua gadis yang saling bercengkrama. Siya seakan melontarkan telepati pada Devan. Terbukti sekarang pria itu menghela napasnya dan mengangguk kecil. Tentu saja respon Devan membuat Siya cengo!
"Apa masih bisa jika aborsi dilakukan?"
.
.
.
.
.
Haloooo
Holaaaa
Haiiiiiiiii
Makasih udah mampir kesini:)
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak
Dan juga jangan lupa pencet lope nya biar aishiteru. Canda:)