
Di meja yang bertuliskan Reserved , Ella dan direktur juga Aura menunggu kedatangan dari perusahan Dev company yang belum terlihat batang hidungnya.
"Jam berapa sekarang?" tanya pak direktur pada Ella yang memakai jam tangan. Ella tau kalau direkturnya kini sudah kesal menunggu, tapi apa boleh buat kalau kerja sama ini harus terselenggara. Kalau sampai ada tidak jadi, apalah arti kerja keras Ella selama sebulan penuh ini.
"Baru lewat lima menit dari janji temunya, Pak." jawab Ella sembari melihat jam tangannya.
Direktur Ella yang sudah kesal, berniat ingin berdiri sebelum akhirnya seseorang datang dan menghentikan niat pak direktur yang emosinya sudah dipucuk.
"Maafkan saya Tuan Jang, saya mohon untuk menunggu presdir sebentar." ujar seseorang yang sudah pasti berasal dari Dev company yang akan kerja sama dengan perusahaan tempat Ella bekerja.
"Apa ini! Kalian mengulurkan waktuku untuk ini? Apa kalian tau kalau waktu adalah hal terpenting bagiku!" kesal direktur Jang (Direkturnya Ella)
Pria yang mengenakan name tag didadanya, membuat Ella tau nama dan juga jabatan pria itu yang sudah pasti sekretaris Dev company kalau dibaca name tag nya. Pria itu berulang kali membungkukkan tubuhnya meminta maaf karena keterlambatan atasannya.
Tak lama, suara langkah kaki terdengar di belakang Ella. Suara langkah kaki yang tegas kalau didengar dengan seksama. Suara langkah kaki itu terasa semakin mendekat, sehingga Ella mau tidak mau memutar tubuhnya untuk melihat seseorang yang datang.
"Maafkan atas keterlambatan saya, Tuan Jang." ujar pria itu dengan suara baritonnya.
Mata Ella membulat sempurna, tat kala pria itu semakin mendekat. Nafasnya menderu dengan gejolak didalam hatinya yang mulai memanas. Apa ini? Kenapa harus dia yang datang disini?!
Tangan Ella terkepal dengan mata yang mulai terasa membendung air. Tanpa disadari juga, berkas-berkas yang tadinya rapih ditangan Ella sudah tercecer dilantai.
Plakk......
Suara keras langsung mengalihkan tatapan semua orang yang ada disana. Jangan lupa dengan warna merah, bergambar halus dipipi seorang lelaki yang baru datang tadi. Diiringi dengan aliran deras dimata Ella yang sudah tak tahan ia bendung lagi.
Yap, lelaki itu adalah Devan. Presdir Dev company yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi. Devan memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan yang keras itu. Lirikan mata Devan langsung menuju Ella yang masih dengan nafasnya yang naik turun menahan amarahnya.
Devan yang awalnya hanya melirik, sekarang menatap tajam Ella yang juga menatapnya dengan marah juga. Devan baru menyadari gadis yang berani menamparnya adalah gadis yang membuat ia bingung dalam sebulan ini, bahkan sampai membuatnya stop dalam bermain wanita. Entah kenapa, terakhir kali ia bermain wanita, rasanya tangisan meronta gadis didepannya ini selalu teringat kembali.
Melihat ketegangan yang terjadi, Aura yang sebagai rekan kerja Ella langsung menarik Ella dan menenangkan gadis itu. Walaupun sebenarnya dia juga tidak tau apa yang sedang terjadi sekarang. Tapi, menurut instingnya sebagai sesama perempuan, pasti ada masalah berat yang terjadi di antara Ella dan presdir Dev company.
__ADS_1
"Tuan, apa anda tidak apa-apa?" tanya Harcen pada Devan yang masih memegang pipinya yang sudah tidak sakit. Rasanya melihat wanita yang membuatnya tidak bisa bermain seperti dulu, membuat kekesalan di hati Devan memuncak.
Devan berjalan mendekat pada Ella. Tak ada yang berani melerai lagi saat keduanya sama-sama mengotot dan sama-sama melotot. Ella juga maju seiring langkah Devan yang juga mendekat padanya.
"Kita bertemu lagi?" tanya Devan dengan smirknya.
Tatapan benci yang amat dalam membuat Ella tak tahan untuk terus menahan diri. "Kurasa begitu, Tuan dua ratus juta." balas Ella tak kalah berani dengan Devan.
Devan yang berniat mengikis jarak lagi, tiba-tiba gejolak diperutnya kembali muncul. Entah kenapa, bertepatan dengan Ella yang juga merasakan mual saat indra penciumannya mencium hal aneh.
Devan yang mampu menahannya, berbeda dengan Ella yang langsung berlari mencari toilet. Sedangkan Tuan Jang dan Aura masih mematung melihat kepergian Ella. Tanpa berpikir panjang, Aura menyusul Ella dan meninggalkan ketiga pria yang masih mematung juga.
Kembali pada Ella yang mengeluarkan semua isi perutnya. Mulutnya terasa pahit saat rasa mual yang dirasanya hilang. "Kakak nggak apa-apa kan?" tanya seseorang yang juga ada di washtafel didekat Ella tadi.
Ella menggeleng dan tersenyum ramah. "Tidak, hanya salah makan saja." jawab Ella yang langsung diangguki seseorang itu.
Setelah seorang gadis yang tadi bersamanya di washtafel keluar, Ella baru merasakan tubuhnya lemas sebelum akhirnya Aura datang membantunya. Rasanya benar-benar melelahkan mengeluarkan semua isi perutnya tadi.
"Tenangin aja dulu. Aku nggak tau masalah kamu sama presdirnya Dev company, tapi aku yakin itu masalah yang besar. Biar bagaimanapun juga, kamu pasti lelah sudah mengerjakan tugas ini selama sebulan dan tiba-tiba harus bertemu seseorang yang tidak ingin kamu temui saat ini. Sabar ya, emang hidup itu ada ujiannya." ujar Aura panjang lebar yang berusaha untuk menenangkan Ella.
Ella hanya mengangguk dan tersenyum, walau dalam hatinya dendamnya masih terasa sangat dalam. Rasanya bertemu dengan orang yang menghancurkan harga dirinya, seperti tusukan tajam yang langsung menancap di dada Ella. Membuatnya sesak dan lemas ketika memikirkannya.
"Makasih ya kak tehnya," ujar Ella berterimakasih pada Aura yang setia bersamanya.
Ella merasa jika dirinya sudah tenang sekarang. Ingin rasa ia kembali ke tempatnya tadi, tapi jika memikirkan lelaki itu yang mungkin saja masih disana membuat Ella mengurungkan niatnya.
"Kak Aura, apa yang gapapa kita disini? Pak direktur gimana?" tanya Ella membuat Aura menepuk jidatnya. Dia sampai lupa kalau tujuan mereka disini untuk bisnis. Rasanya sangat menyenangkan bisa menikmati minuman dengan santai, sampai-sampai ia melupakan direkturnya yang mungkin saja akan memarahinya abis-abisan.
"Hehehe, ayo balik." ajak Aura dengan cengirannya.
Ella dan Aura berjalan bersama kembali ke tempat mereka tadi. Tapi pandangan mereka berubah, saat di meja itu hanya tinggal direktur seorang yang duduk dengan santainya.
__ADS_1
"D-Di-Direktur, maaf kan saya yang mengacaukan acara kali ini." ujar Ella dengan menundukkan kepalanya. Terdengar suara helaan napas yang panjang, membuat Ella tersentak dan bersiap-siap untuk dimarahi.
"Huh, apa boleh buat, kau memang bersalah tadi! Tapi untungnya, Dev company tidak mengajukan pembatalan, yang artinya kontraknya berjalan lancar." ujar Tuan Jang membuat senyum dibibir Ella terangkat. Setidaknya di kantor ia jangan sampai dimarahi seperti ketika ia dirumah.
"Dengan begitu, karena kau tadi hampir merusakkan segalanya. Aku akan mengutusmu untuk memandu proyek yang di kerjakan besok!" lanjut Tuan Jang.
Ella mengangguk paham sebelum akhirnya anggukan kepalanya berhenti tat kala satu nama disebut dari bibir Tuan Jang. "Kau akan memandu Dev company untuk proyek ini."
Deg...
Walaupun hanya perusahan yang disebut, tapi pemilik perusahan itu lebih masuk ke dalam benaknya. Apa jadinya kalau sampai proyek jadi dia harus bersama Dev company?
"Ayah ibu, bantu aku."
.
.
.
.
.
Hola halo ...
Makasih sudah mampir kesini......
Jangan bosen pantengin cerita ini:)
Masukan dalam favorit, dan tunggu aku up....
__ADS_1
Like, komen dan vote wajib yaa....