You And Me And Destiny

You And Me And Destiny
Pernyataan?


__ADS_3

Aborsi? Rasanya saat itu juga kedua wanita yang duduk di sofa yang sama, terkejut dengan pernyataan Devan. Ella dengan wajah bingungnya, dan Siya dengan tatapan tak percayanya.


Ella memandang Siya seakan meminta penjelasan. Sedangkan Siya terlihat bingung untuk menjelaskan apa yang terjadi. Tapi mau tidak mau, sebagai dokter ia harus memberitahukan yang terjadi pada Ella. Karena gadis itu perlu tau mengenai nyawa yang ikut tumbuh di tubuhnya.


"Kamu hamil," ujar Siya. Ella merasa waktu terhenti saat itu juga. Tatapan tak percaya, mulai terlihat menghiasi wajah Ella saat ini. Dengan tangan kanannya, Ella mendaratkan usapan di perutnya.


Tentu Ella terkejut dengan dirinya yang tidak menyadari ada nyawa sedang berada diperutnya. Tak terasa, buliran bening mengalir dipipinya. Dia yang baru menyadari kehamilannya, bertepatan dengan lontaran kata Aborsi yang ayah anak ini katakan.


Ella menoleh pada Devan yang menatapnya dengan datar. Ella tau kalau Devan tidak mau menganggap anak ini, tapi beda dengan Ella. Aborsi sama saja membunuh bukan ? Dan Ella tidak ada niat untuk menjadi pembunuh dalam hidupnya. Ella menggeleng cepat saat kata aborsi kembali terngiang dikepalanya.


"Nggak!" tolak Ella dengan nada bergetar karena menangis.


"Nggak bisa! Aku tidak mau jadi pembunuh!" ucap Ella dengan pasti. Walaupun dia harus menanggung malu, tapi rasanya jika menghilang anak tidak bersalah ini akan lebih menyakitkan.


Devan terkejut dengan penolakan Ella. Yah walau dalam dirinya juga tidak mau menjadi pembunuh. Tapi untuk kali ini, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk menikah, ia belum memikirkannya. Apalagi untuk menjadi ayah karena kesalahan saat bertemu dengan Ella pertama kali.


"Kalau anda tidak mau anak ini, saya akan menjaganya sendiri." ujar Ella yang langsung pergi meninggalkan tempat ia mendapatkan rasa sakit hatinya.


Devan menatap kepergian Ella, berbeda dengan Siya yang menatap Devan dengan kebencian. "Apa yang kau lakukan,Devan?" tanya Siya pada Devan yang masih melihat pintu dimana Ella keluar tadi.


Devan yang mendengar pertanyaan Siya, semakin dibuat bingung dengan pemikiran wanita. Apa yang wanita inginkan, selalu berbeda dengan apa yang ia mau. Hanya wanita klub malam yang selalu menurut padanya, bahkan tunduk padanya.


"Apa aku salah? Dengan aborsi kan dia bisa kembali bekerja dan tidak menanggung malu." jawab Devan enteng yang langsung mendapat tamparan di punggung pria itu. Tentu saja pelakunya Siya yang masih ada disitu.


"Apa kau gila! Dia seorang ibu Devan!" marah Siya yang melayangkan tatapan kesal pada reaksi Devan yang biasa saja.


"Huh, sudahlah! Tapi jangan salahkan siapa aja kalo sampe kau dihantui bayi yang belum lahir itu!" ancam Siya yang langsung pergi dengan membawa pergi alat medis yang ia bawa.


Devan mendudukan dirinya dan menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruang istirahat itu. Pikirannya kacau saat kepergian Ella yang juga menangis seperti saat pertama kali ia melihat Ella. Rasanya deja vu melihat Ella yang menangis seperti itu.


"Arghhh!" Devan merasa kepalanya akan pecah saat itu juga karena memikirkan wanita yang membuatnya bingung.

__ADS_1


 ----------------


Ella dengan segala kekacauan dihatinya, melamun dengan menyenderkan dirinya di pohon yang ada didekat area proyek. Rasanya lontaran kata aborsi dari Devan masih terngiang dikepalanya sampai sekarang, bertubrukan dengan ingatan disaat lelaki itu menghancurkan harga dirinya.


Kalau pria itu tidak mau mengakui anak ini, setidaknya kenapa pria itu tidak mempunyai pikiran untuk memberitahunya terlebih dulu. Memutuskan secara sepihak dan mendadak. Dan juga, bagaimana pria itu bisa tau kalau dirinya sedang hamil?


Ella mengingat-ingat tentang pria itu yang terlihat berubah saat ia dirawar dirumah sakit. Bisa jadi pria itu sudah mengetahuinya saat dirumah sakit itu kan?


Masih dalam acara melamunnya di batang pohon. Tanpa disadari, salah satu pekerja proyek yang sedang mengendalikan kontraktor kehilangan kendali dan menjatuhkan batu yang diangkut kesembarang arah. Dan lebih parahnya, salah satu batu mulai mendekati Ella , dan....


Grepp....


Tatapan dua pasang mata itu bertemu. Mata biru dan mata coklat itu bagaikan dipersatukan dengan tatapan yang mereka alami sekarang. Tak lama, tatapan itu berakhir karena teriakan dari orang-orang yang berada di dekat lokasi kejadiannya.


"Presdir!!" pekik Harcen yang lari terpogoh-pogoh saat melihat atasannya sudah tergeletak di rerumputan dengan wanita dipelukannya.


Ella yang mendengar teriakan orang-orang disekitar, langsung bangkit dan mendapati Devan yang tergeletak disampingnya. "Emm, sekali lagi makasih." ujar Ella yang berlalu pergi meninggalkan tempat itu.


"Tuan, biar saya obati dulu." ujar Harcen yang sudah menbawa kotak P3K.


"Tidak usah, ini bukan luka yang parah." tolak Devan yang langsung bangkit dan berlari mengejar Ella yang berlari lumayan kencang.


Semua orang menatap kepergian Devan dengan tatapan bingung yang sama. Jika dipikir-pikir, tangan Devan terluka cukup parah. Terlihat jelas dari darah yang sudah mengenai kemeja putihnya.


Devan menemukan Ella yang berada di toilet tempat istirahat. Sebenarnya suara Ella yang membuat Devan langsung tau dimana Ella berada. Suara orang muntah-muntah membuat Devan yakin kalau Ella tadi tidak bermaksud menjauhinya setelah ia menyelamatkan nyawanya.


Dengan keberanian penuh, Devan masuk kedalam toilet dan memijat tengkuk Ella agar terasa nyaman. Ella sedikit terkejut, tapi rasa nyaman di tengkuknya membuat ia bodo amat dengan orang yang menolongnya sekarang.


Setelah dirasa perutnya tidak berontak lagi, Ella segera membersihkan mulutnya dan mengangkat kepalanya. Matanya membola, saat dari pantulan cermin didepannya ia melihat Devan ada dibelakangnya.


"Sudah baikkan?" tanya Devan yang sedikit khawatir saat melihat wajah pucat Ella.

__ADS_1


"I-iya sudah." jawab Ella yang merasa malu disaat seperti itu Devan malah membantunya.


Devan meraih kedua tangan Ella. Entahlah, ancaman Siya bisa membuat bulu kuduknya berdiri. Dengan pemikiran yang matang, akhirnya Devan ingin membuat anak tidak berdosa itu hidup saja. Tapi sebelum itu.....


"Aku berubah pikiran. Aku akan bertanggungjawab atas kesalahan bulan lalu. Dan aku akan menikahi mu untuk identitas anak ini." ujar Devan membuat Ella menatap tak percaya pada Devan yang berbicara tanpa hambatan.


"Maaf Tuan?"


Devan yang paham dengan kebingungan Ella, menghela nafasnya. Dengan tatapan serius, Devan mengulangi lagi ucapannya. "Ayo kita menikah!"


.


.


.


.


.


Holaaaa


Haloooo


Haiiiiiiiii


Makasih buat yang udah mampir di ceritaku


Harap suka dan masukan dalam favorit


Dukungan kalian juga doa buat aku up terus...

__ADS_1


__ADS_2