
Dalam satu atap yang sama, juga harus saling berbagi udara. Setidaknya dua manusia yang saling terdiam di ruang makan itu, masih ingat untuk melakukan kegiatan yang ada di kalimat pertama tadi. Walau saling terdiam, tapi Ella masih ingat kewajibannya untuk memasak.
Devan yang makan apa yang Ella masakkan untuknya, hanya bisa memuji masakan itu di dalam hati. Benar-benar masakan yang enak dan cocok di lidahnya. Padahal kalau dilihat, Ella hanya memasakan tumis sayur dan lauk seperti ayam yang entah bagaimana wanita itu masak tapi hasilnya sangat lembut dan mudah dikunyah.
Ella yang sudah selesai duluan, memilih segera bangkit dan berjalan menuju tempat cuci piring untuk mencuci piring yang sudah ia pakai. "Kalau anda sudah selesai, letakan saja disitu. Nanti akan saya cuci." ujar Ella membuat Devan terkejut dan ingin menolak apa yang Ella katakan.
"Aku bisa sendiri, jangan terlalu membebani dirimu." balas Devan dengan datar. Memang benar kalau gengsi itu selalu menjadi penghalang untuk bisa akur, dan itu terjadi pada Devan juga Ella sekarang.
Ella hanya diam dan segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Benar-benar rumah yang sepi dan sangat sesak untuk dirasakan ibu hamil yang harusnya punya suasana hati yang ceria. Mengenyahkan pemikiran buruk yang bisa berdampak pada perkembangan bayinya, Ella segera mengambil beberapa dokumen dan laptopnya untuk menyelesaikan tugas yang memang harus ia selesaikan sekarang.
Setelah mengambil barang-barangnya, Ella kembali melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dimana ada meja yang lumayan besar untuknya meletakan dokumen miliknya dan laptop yang ia gunakan. "Semangat Ella, demi dia." batin Ella menyemangati dirinya sendiri sembari mengusap perutnya.
Devan yang sudah selesai dengan piringnya, sekarang ia akan melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Tapi langkahnya terhenti, tat kala matanya menangkap sosok wanita yang duduk di karpet lembut dengan mata yang tak lepas dari layar laptop didepannya.
Semakin ditatap, membuat Devan tak menyangka kalau sekarang dirinya sudah menikah. Tapi pernikahan ini tidaklah sesuai harapan Devan. Devan yang mengharapkan agar bisa menikah dengan wanita yang dicintainya, pupus sebelum dirinya menemukan wanita yang ia cintai. Belum mencintai siapa-siapa tapi sudah menikah, hal lucu yang seketika membuat Devan secara tidak sadar mendesis menertawai kisah konyolnya.
Devan memutuskan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya, meninggalkan Ella yang sedang fokus dengan pekerjaannya. Devan yang memiliki jabatan Presdir juga sibuk lah tentunya! Karena itu, Devan juga tak ada waktu untuk sekadar bersantai ataupun berleha-leha.
Sementara itu Ella dengan rentetan huruf dan angka didepannya, dengan fokus untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Tentu saja dengan ditemani susu ibu hamil dengan rasa strawberry disampingnya.
"Sayang, apa kamu sudah lelah? Rasanya mama sudah mengantuk. Tapi pekerjaan ini harus diselesaikan, bantu mama sebentar ya?" ujar Ella pada bayi yang ada di kandungannya.
Memang benar jika wanita hamil itu mudah merasakan lelah, tapi pekerjaan ini harus Ella selesaikan. Uangnya kan memang harus ia kumpulkan untuk membayar hutangnya pada om dan tantenya. Tanpa om dan tantenya juga, Ella tidak mungkin sekarang akan bekerja disini tanpa ijasah SMA yang harus dilunasi dengan uang.
__ADS_1
Mendadak matanya sudah tidak bisa diajak untuk berkompromi, tapi pekerjaannya benar-benar menumpuk. Dengan tekadnya, Ella tetap mengerjakan pekerjaannya walaupun terkadang kepalanya mengangguk-angguk menahan kantuk. Disela kantuknya, Ella masih sempat melihat jam yang menunjukkan angka sepuluh malam. Dan tak lama setelah itu, kepala Ella mendarat dengan sempurna di meja dan matanya tertutup saat dokumen miliknya sudah ia selesaikan dan masukkan kedalam flashdisk.
Langkah kaki yang berasal dari tangga, datang mendekat pada wanita yang sedang tidur dengan posisi yang sangat tidak mengenakkan itu. Dengan hati-hati seseorang yang tak lain adalah Devan, mengangkat tubuh Ella untuk dibawanya ke kamar.
"Bagaimana bisa kau tidur di bawah dengan tenang seperti itu." gumam Devan seraya melangkahkan kakinya menuju kamar Ella yang berada tak jauh dari tempatnya tadi.
Di kamar yang super rapi dengan warna yang didominasi putih, Devan membaringkan tubuh Ella dengan perlahan di ranjang yang ada dikamar itu. Devan yang sudah membaringkan tubuh Ella, entah kenapa sorot matanya turun pada perut yang sedikit membuncit karena sudah masuk bulan kedua wanita ini hamil.
Devan dengan berjongkok, menyamakan tingginya dengan perut Ella. "Apa benar disini ada nyawa yang hidup?" gumam Devan seraya mendaratkan tangannya di perut Ella. Mengusapnya perlahan, dapat Devan rasakan dengan pasti perut yang sedikit membuncit itu.
Entah kenapa, perasaan Devan menjadi lega saat tangannya mengikuti alur perut Ella yang bergelombang karena membuncit. Tanpa disadari juga, Devan tertawa kecil karena merasa lucu dengan keadaan makhluk kecil yang hidup diperut wanita yang bahkan belum ia kenal sebelumnya.
Ella yang merasakan sentuhan Devan, menggeliat namun tidak bangun dari tidurnya. Dan itu juga membuat Devan tersadar, kemudian lega karena Ella tidak terbangun karena ulahnya. Degan senyumnya, Devan mendekatkan wajahnya di perut Ella. "Tidurlah yang nyenyak, lihat mama mu yang terlihat lelah." ujar Devan sebelum akhirnya ia memilih keluar dari kamar Ella.
Pagi hari yang cerah, membuat Ella terbangun dengan keadaan segar. Rasa mual tidak dirasanya sekarang, bahkan tidurnya sangat nyenyak dengan memeluk guling yang selalu ada disampingnya saat tidur.
WAIT?! GULING? Tersadar, Ella segera bangkit dari ranjangnya. Mengingat-ingat sejak kapan dia ada di kamar? Apa Ella berjalan sambil tidur? Ah sudahlah, sekarang fokus Ella pada jam dinding yang sudah menyuruhnya untuk segera bangun dan menyiapkan sarapan pagi untuknya dan juga Devan.
"Masak apa ya untuk hari ini?" tanya Ella pada dirinya sendiri sembari melihat kulkas yang semakin kosong karena sudah waktunya Ella berbelanja bulanan.
Hanya ada satu pilihan yang bisa Ella masak sekarang, dan itu hanyalah telur. Sedikit kecut juga Ella melihat hanya telur yang ia punya sekarang, tapi Ella dengan kepintarannya akan berkreasi dengan telur itu.
Karena ada roti, Ella ambil roti itu sesuai porsi yang ia mau. Lalu mengambil mayonaise dan saus, juga jangan lupa dengan telur yang kita bicarakan tadi. Melihat isi kulkas lagi, Ella menemukan sosis dan selada. Yah, akhirnya Ella memutuskan untuk membuat sandwich untuknya dan Devan.
__ADS_1
Ella yang melihat Devan turun dari kamarnya, mengeluarkan senyumnya. Menyambut Devan yang harus ia anggap sebagai suaminya. "Maafkan saya, saya lupa berbelanja kemarin. Jadi sekarang saya hanya bisa membuatkan sandwich saja." ujar Ella dengan senyum minta maafnya.
"Hmm, kalau kau ada waktu nanti akan aku jemput." ujar Devan pada Ella. Tentu saja wanita itu terkejut, tapi mau tidak mau ia harus mau kalau Devan yang meminta.
"Kalau itu tidak merepotkan anda, saya bisa." jawab Ella dengan sopan.
Apa benar kalau dekat itu karena terbiasa ? Apa sekarang belum saatnya untuk Devan dan Ella dekat? Padahal masing-masing sudah lumayan terbiasa tinggal berdua? Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawabnya.
.
.
.
.
.
Halo hai semua
Aku kembali dengan kisah yang masih absurd
Ikuti terus sampai cerita ini sudah mulai terlihat titik terangnya ya🤗
__ADS_1
Sayang kalian<3