
Masih dengan pikiran yang maju mundur, Ella menatap layar ponselnya yang terdapat tulisan dimana ingin Ella kirim kepada Devan. Tapi Ella masih ragu untuk mengirim pesan itu, dan sampai sekarang tangannya masih terdiam diatas ikon kirim yang membuatnya pusing tujuh keliling.
Menutup matanya, Ella mulai menekan ikon kirim itu. Tapi bukannya pesannya terkirim, malah sekarang dirinya mendapatkan panggilan dari seseorang yang ingin dia kirimi pesan. Senyum tiba-tiba saja timbul dari seorang Parnuella Sakiara yang jarang sekali terlihat sangat tulus seperti sekarang ini.
Tanpa menunggu lama, Ella langsung menggeser tombol hijau itu dan langsung terdengar suara bariton dari pria yang sudah ia kenal selama beberapa bulan ini.
"Halo?"
Sapaan dari seseorang yang berada di sebrang sana. Ella kembali mengeluarkan senyumnya, sudah pasti senyum itu adalah senyum yang tidak Ella sengaja. Ella mendekatkan ponselnya ketelinga.
"Halo?" balas Ella pada sapaan pria di sebrang sana.
"Ehem! Apa kau baik-baik saja ? Atau mami menyulitkan mu?" tanya Devan dengan nada yang khawatir pada Ella.
Ella tak habis pikir, sekarang pikiran Ella dan Devan seakan berkompromi. Ella juga ingin menanyakan keadaan Devan dan apa pria itu sudah makan, tapi ternyata Devan juga memikirkan keadaannya.
"Iya, aku baik-baik saja. Dan mami tidak menyulitkan ku, sekarang saja mami sedang menyiapkan makan malam dan aku tidak boleh membantunya." jawab Ella yang sedikit curhat dengan kekesalannya pada nyonya Alendra.
"Benar kata mami, kau sebaiknya banyak beristirahat. Kalau ada apa-apa katakan padaku." ujar Devan dengan lembut yang langsung diterima ramah oleh telinganya.
"Iya, akan aku ingat. Ngomong-ngomong apa kamu sudah makan?" tanya Ella pada Devan. Pertanyaan ini yang sudah Ella persiapkan sejak tadi, dan akhirnya ia bisa mengatakan langsung pada Devan via telepon.
"Jangan khawatirkan aku. Ada Harcen disini." jawab Devan membuat Ella akhirnya lega.
Ella yang sedang menghela napasnya, mendadak panik saat pintu kamarnya terdengar ketukan dari luar. Seketika jari-jemari Ella langsung menekan bulatan merah pada ponselnya dan terputuslah sambungan telepon antara Ella dan Devan. Sudah pasti semua ini karena wanita paruh baya yang tak lain adalah Anggia Alendra, nyonya besar keluarga Alendra.
Segera Ella keluar dari kamarnya dan menghampiri nyonya Alendra yang menatapnya dengan tatapan khawatir. Mungkin karena Ella yang lama berada di kamar, padahal semua masakan sudah siap.
Disisi lain, seorang pria mendadak menjadi orang yang memikirkan masalah wanita. Yah, tapi Devan sudah tau juga kalau wanita yang ia telpon itu pasti dipanggil ibunya. Tapi tetap saja, ini kejadian langka karena tak pernah sekalipun seorang Devano Alendra memikirkan wanita sampai menelfon dahulu.
"Tuan, ini saatnya anda pulang." ujar Harcen menyadarkan atasannya yang sedang memikirkan istrinya.
__ADS_1
"Oh, iya. Siapkan mobilnya, aku akan pulang sendiri. Istirahatlah Harcen, kau sudah bekerja keras." balas Devan sembari menepuk pundak Harcen yang membuat lelaki dengan kedudukan sekretaris sekaligus asisten itu tertegun.
Devan keluar dari kantor dan mengendarai mobilnya menuju rumah. Dalam perjalanan, pikiran Devan benar-benar penuh dengan Ella. Malah sebenarnya Devan sendiri malas untuk pulang, tapi dia tidak tau harus kemana kalau tidak pulang.
Sampai dirumah, rasanya sepi tak seperti biasanya. Devan segera naik ke kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di kasur yang selama ini ia tiduri sendiri. Bahkan Devan mengabaikan perutnya yang sejak tadi berbunyi minta diberi makan, karena Devan tidak berniat untuk melakukan sesuatu sekarang.
Tapi sebuah pesan membuat Devan kembali bersemangat. Seakan habis ganti baterai, Devan bersemangat dan turun menuju dapur untuk memasak sesuatu yang sudah wanita yang selama ini tinggal bersamanya itu siapkan untuknya.
Yap, Ella mengirimi Devan pesan kalau dirinya menyiapkan masakannya dan disimpan di kulkas. Sekarang Devan hanya tinggal menghangatkannya saja sebelum memakan masakan Ella. Dengan antusias, Devan rela menunggu didepan microwave agar perutnya terisi sesuai perintah dari Ella.
Sedangkan Ella, sekarang diam menatap layar ponselnya yang menghitam tanda pesan yang ia kirim belum juga mendapatkan balasan dari pria yang ia kirimi pesan.
......................
"Sudah ku bilang kan, kalau kamu harus mengambil cuti terlebih dulu. Kamu baru keluar dari rumah sakit, bagaimana bisa kamu mau berangkat kerja sekarang?" omelan demi omelan yang sudah pasti dari nyonya Alendra untuk Parnuella.
"Tapi, Ella benar-benar tidak enak kalau terus-terusan meninggalkan pekerjaan Ella." jawab Ella dengan penuh harap agar ibu mertuanya ini mau mengizinkannya.
Gelengan demi gelengan sudah dilayangkan nyonya Alendra, dan sudah pasti itu tidak bisa Ella hindari lagi. Sekarang wanita itu benar-benar tidak tau harus berbuat apa di mansion keluarga Alendra yang sebesar ini. Sampai akhirnya ibu mertuanya datang ke kamarnya dan membawa dirinya untuk ikut senam ibu hamil.
Ella hanya mengangguk membenarkan ucapan nyonya Alendra. Memang benar sih, dirinya tidak boleh egois akan kepentingannya sendiri. Dan mungkin saja, tak lama ini Ella harus keluar dari pekerjaannya. Tapi bagaimana dengan balas budi kepada om dan tantenya nanti?
Hah, memikirkan itu saja sudah membuat mood Ella benar-benar turun sekarang. Sampai akhirnya dirinya tiba di tempat senam yang ibu mertuanya rekomendasikan padanya.
"Ayo masuk, mami akan daftarin kamu kesini agar kandungan mu sehat selalu." ujar nyonya Alendra dengan senyum keibuannya.
Didalam tempat ini banyak sekali ibu-ibu yang sudah datang. Diantara mereka, kandungannya terlihat sudah masuk usia tua. Ella melirik perutnya yang sedikit membuncit itu, ya wajar saja masih usia tiga bulan. Tapi fokus Ella kini terganti saat melihat para suami juga menemani istrinya untuk senam ibu hamil.
"Apa Devan juga akan seperti itu kalau aku ajak kesini?" batin Ella . Ella menatap para suami yang dengan senang hati membantu istrinya untuk duduk, meluruskan kaki, dan yang lainnya. Malah terlihat lucu menurut Ella melihat pemandangan seperti itu.
"Dengan nyonya Alendra?" sapa seorang wanita yang mendekati Ella.
__ADS_1
"Ah iya, saya." balas Ella dengan senyumannya.
"Wah, senang bertemu dengan anda. Mari saya antar ke ruang ganti, anda bisa berganti baju disana agar terasa nyaman saat senam nanti." ujar pegawai disana dengan ramah pada Ella.
"Terimakasih," balas Ella dengan senyuman yang manis.
Diruang ganti, hanya ada Ella sendiri. Sudah pasti karena dirinya yang datang paling akhir. Ella mengganti bajunya dengan kaus dan celana yang tidak menekan perutnya. Sementara ibu mertuanya, pergi membeli minum untuk Ella nanti karena mereka lupa membawa minum tadi.
Setelah berganti, terlintas ide dimana sekarang Ella mengambil ponselnya untuk berselfi. Yap, kini dirinya sedang berselfi untuk dikirimkan kepada pria yang tak lain adalah Devan. Sudah pasti dengan kata-kata yang sekarang mampu membuat Devan tersenyum saat membaca pesan dari Ella.
Mami menyuruhku untuk bersenam, sekarang aku mau senam dulu. Babay🤗
Seperti itulah pesan dari Ella yang disandingkan dengan foto selfi wanita itu. Benar-benar membuat Devan gila sekarang, bahkan sampai Harcen geleng-geleng melihat atasannya yang tersenyum sambil menhentak-hentakkan kakinya dengan cepat.
"Semoga anda bahagia selalu,Tuan."
.
.
.
.
.
.
Hola everybody 😂
Kangen gak sama aku?
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote ya ðŸ¤
Papayyyy