You And Me And Destiny

You And Me And Destiny
Baju bayi


__ADS_3

Lelah sekarang yang Ella rasakan. Kakinya sungguh terasa lemas saat dirinya sejak tadi berkeliling mengikuti nyonya Alendra yang sangat bersemangat untuk berbelanja. Bahkan sekarang, paper bag yang berisi barang-barang yang dibeli sudah dibawa orang untuk diantar ke kediaman Alendra.


"Kamu harus menginap untuk malam ini. Mami akan masakan kamu makanan yang sehat untuk ibu hamil." pinta Anggi pada menantunya yang kini lebih dianggap sebagai anak daripada putrinya sendiri.


Ella tersenyum mendapati permintaan Anggi yang menurutnya sangat hangat. Anggi yang menyenangkan, juga Anggi yang keibuan. "Iya, Mi. Tapi Ella belum meminta izin sama Devan." jawab Ella membuat Anggi tertawa kecil. Sedangkan Ella menatap bingung ibu mertuanya yang malah tertawa.


"Aduh sayang, kamu tenang aja. Devan bakal kesini tanpa kamu minta izin padanya." ujar Anggi yang membuat Ella mau tak mau mengangguk saja.


Ella dan Anggi yang kini berada di kedai es krim, memilih untuk segera pulang karena waktu sudah menunjukkan kalau mereka harus pulang sebelum melewatkan makan malam. Dan tak sampai setengah jam, kini mereka sudah sampai di mansion milik keluarga Alendra.


"PAPI!!"pekik Anggi saat dirinya baru memasuki mansion . Tentu saja itu membuat Ella yang berada disampingnya sempat terkejut.


Tak lama, muncul pria paruh baya yang berjalan menghampiri Anggi dengan gelengan kecil menghiasinya. "Sudah berapa kali aku katakan, jangan berteriak atau pinggangmu akan sakit lagi." ujar tuan Alendra yang sudah terlalu jengkel dengan istrinya yang sulit diberitahu.


Nyonya Alendra melengos dan beralih menatap Ella yang terdiam menatap keduanya. " Ella, sini sayang. Kamu pasti capek banget ya? Aduh maafin mami ya," ujar nyonya Alendra membuat Ella menjadi tidak enak sendiri.


"Aa tidak kok, Mi. Ella malah seneng tadi bisa menghabiskan waktu bersama mami." jawab Ella dengan lembut dan senyumannya.


"Ayah, apa kabar?" tanya Ella pada tuan Alendra yang kini menatapnya dengan lembut juga. Walaupun hanya sedikit terlihatnya. Mungkin karena wajah tuan Alendra adalah wajah-wajah tegas, jadi sangat aneh saat tersenyum.


Tapi dalam senyumnya, Ella tau kalau itu adalah senyum tulus dari tuan Alendra. "Kabar papi baik, bagaimana dengan Ella dan cucuku? Apa cucuku menyusahkanmu?" tanya tuan Alendra pada Ella. Tentu saja Ella menjawab baik dan menggeleng untuk mengatakan kalau anak didalam perutnya ini tidak menyusahkannya.


"Tapi papi tau nggak? cucu kita tadi minta dibeliin sesuatu!" ujar nyonya Alendra yang sangat antusias menceritakannya. Sedangkan Ella sendiri malah malu karena dia juga ikut serta dengan apa yang anaknya inginkan.


Tuan Alendra yang mendengar penuturan istrinya, ikut antusias untuk mengetahui barang apa yang cucunya inginkan. "Cucu kita sangat pemberani, belum lahir saja sudah tau cewe cantik dan cowo cakep loh pi." ujar nyonya Alendra dengan tertawa kecil yang membuat Ella menundukkan kepalanya malu.


Flashback on


Dua perempuan berbeda generasi itu, memasuki baby shop dengan anggunnya. Yap, itu adalah nyonya Alendra dan Ella . Nyonya Alendra yang mulai tertarik dengan barang-barang untuk cucunya, berbeda dengan Ella yang terpaku dengan baju bayi yang terlihat menggemaskan.

__ADS_1


"Apa yang cucuku minta?" tanya nyonya Alendra sembari mengamati Ella yang terlihat bingung.


Ella yang mendengar pertanyaan ibu mertuanya itu, tersadar dari lamunannya. "Eh, mami. Tadi mami tanya apa ya?"tanya Ella membuat nyonya Alendra tersenyum. Sangat paham baginya untuk mengerti bagaimana rasanya menyidam. Semua yang terlihat lebih penting daripada lainnya.


"Apa yang cucuku inginkan?" tanya nyonya Alendra dengan senyum keibuannya.


"Emm itu, sepertinya ingin baju bayi." jawab Ella yang langsung ditarik nyonya Alendra ketempat baju bayi.


Sesampainya di rak baju bayi, binar dimata Ella langsung menyala. Baju bayi berwarna-warni sungguh membuat senyum gemas menghiasi wajah cantik Ella. Sungguh, ini pemandangan yang indah lebih dari apapun bagi Ella. Bentuk, gambar, warna yang lucu-lucu membuat Ella bingung harus memilih yang mana.


"Mas, mau tanya nih! Kalo anak cewe cantikan pakek yang mana?" tanya Ella pada petugas toko sembari memperlihatkan baju yang dimaksud. Dan anehnya, kenapa tidak tanya pada karyawan yang perempuan saja? Dan itu tidak disadari oleh Ella, entahlah moodnya tiba-tiba begitu.


Mas petugas toko itupun menunjuk warna pastel yang terlihat soft yang membuat Ella tersenyum. Ella berterimakasih sebelum akhirnya kembali memilih baju bayi lagi dan beralih mencari karyawan perempuan yang juga ada di toko ini. "Mbak, mau tanya ya. Kalau untuk anak cowo bagusan yang mana?" tanya Ella yang langsung mendapatkan jawaban dari mbak-mbaknya untuk memilih warna netral.


Dengan bahagianya, Ella berjalan menuju kasir dan membayar baju yang ia pilih tadi. Eh, maksudnya dipilihkan sesuai mbak dan mas nya tadi.


Tuan Alendra yang mendengar cerita dari istrinya itu, kini beralih menatap Ella sembari mengusap rambut Ella pelan. "Cucuku pasti pintar, dan papi tidak sabar menunggu cucuku keluar." ujar tuan Alendra membuat Ella tersenyum malu.


Kini dimeja makan, sudah tersaji hidangan seperti yang nyonya Alendra katakan. Nyonya Alendra sudah selesai memasak. dan itu tanpa bantuan dari Ella maupun pelayan sedikitpun. Ella tentu saja berniat membantu, tapi tentu saja ditolak oleh nyonya Alendra dengan alasan kalau Ella harus banyak istirahat.


Nyonya Alendra, Tuan Alendra juga Ella sudah berada di kursi masing-masing. Namun, tiba-tiba tanpa diduga datang seorang pria dengan paperbag ditangannya. Dan itu cukup mengejutkan Ella, berbeda dengan nyonya Alendra yang kini melipat tangannya di depan dada sembari menatap putra semata wayangnya dengan tajam.


"Apa kau datang demi meredakan marahku, atau kau datang deki istri dan anakmu?" tanya nyonya Alendra dengan tajam.


"Aku datang karena mami yang mengancam ku." jawab pria itu yang tak lain adalah Devan. Dan kini Devan mendekat pada nyonya Alendra sembari menyerahkan paperbag yang Ella tau itu membuat nyonya Alendra tersenyum.


"Ternyata kau anak yang baik juga. Bagus bagus, kalau begitu sebaiknya kau ikut makan dan hari ini menginaplah disini." ujar nyonya Alendra yang sudah tidak bisa dibantah lagi. Kalaupun membantah, harus siap-siap dengan resikonya nanti.


Semua makan dalam diam, sampai akhirnya tuan Alendra mengangkat suara terlebih dahulu. "Kapan kalian bulan madu?" tanya tuan Alendra membuat Ella dan Devan tersedak bersamaan. Devan dan Ella saling tatap sampai akhirnya Ella mengakhiri tatapan itu terlebih dahulu untuk menjawab pertanyaan tuan Alendra.

__ADS_1


"Papi, Ella pikir itu bisa dilakukan dilain waktu. Devan pasti sedang sibuk sekarang," jawab Ella yang langsung membuat tuan Alendra beralih menatap Devan.


"Apa kau sibuk?" tanya tuan Alendra


"Iya." jawab Devan dingin.


Terlihat tuan Alendra menghela napasnya, memang ia tau kalau pernikahan putranya ini karena kesalahan putranya sendiri. Tapi Ella? dia korban yang sekarang sedang mengandung cucunya. "Kau harus mengajak Ella pergi berlibur, akan ku handel kantormu." putus tuan Alendra membuat Devan membelalakkan matanya.


"Apa?"


.


.


.


.


.


Halo loha olah....


Apa kabar?


Baik?


Sama😂


lope lope nya kakak❤️

__ADS_1


__ADS_2