You And Me And Destiny

You And Me And Destiny
Gejolak


__ADS_3

Seperti biasa , seorang gadis itu memulai harinya dengan bekerja. Menunggu bus di halte, membeli coffee untuk menemaninya di pagi hari. Sampailah gadis itu yang tak lain adalah Ella di kantornya, ruangannya. Belum banyak yang datang, membuat Ella tidak perlu berebut lift saat naik tadi.


"Hmmm, udah ready aja nih disini." ujar Aura yang baru datang.


"Iya kak, kan biasanya emang gini." balas Ella dengan senyumnya sembari memperhatikan Aura yang beranjak duduk ditempatnya.


Aura membalas senyum Ella dengan cantiknya, ya memang Aura menjadi primadona di kantor ini. Walau begitu, Aura pernah bercerita pada Ella bahwa ia tidak suka disebut dewi di kantor ini. Tapi tetap saja, wajah dan tubuhnya tidak bisa menolak untuk mendapat julukan itu.


Ella kembali bekerja sebelum akhirnya dirinya dipanggil direktur perusahaan ini. Ella berjalan dengan santai sambil membawa berkas-berkas yang diinginkan direktur, memang tugas Ella untuk membawa berkas-berkas yang lumayan berat ini. Bukan hanya membawa, tapi juga membuatnya untuk dijadikan laporan.


Ella sudah sampai diruangan direktur, ruangan monoton yang sangat cocok dengan karakter direktur yang tegas. Ella menyerahkan berkas-berkas itu dengan penuh kehati-hatian.


"Baiklah, bulan depan kita bisa melancarkan kerja sama dengan Dev company." ujar direktur itu yang puas dengan hasil kerja Ella yang sesuai untuknya.


Ella tersenyum dan mengiyakan ucapan direkturnya. Rasanya aroma-aroma lembur mulai tercium di pendengaran Ella. Eh, dihidunganya Ella maksudnya.


Ella pamit untuk kembali keruangannya disamping Aura. Dari sekian banyaknya wanita di kantor ini, kenapa harus Aura yang satu rekan dengannya? Kan rasanya Ella insecure jadinya. Yah, walaupun hubungan mereka terlihat biasa saja.


"Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Aura setelah Ella benar-benar mendudukan dirinya di kursi kebesarannya. Ella mengangguk untuk menjawab pertanyaan Aura.


"Kita akan ada kerja sama dengan Dev company bulan depan." jawab Ella sembari mencari berkas yang ingin dia benarkan.


Aura mengangguk paham dengan jawaban Ella. Rasnya Aura juga sudah mencium aroma lembur yang kental mengitari tubuhnya. Tapi apa boleh buat? Jika ini pekerjaan yang menguntungkan, pasti harus ada usaha dibaliknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu bulan berlalu, seperti apa kata pak direktur yang akan menyelenggarakan kerja sama dengan Dev company. Rasanya satu bulan ini sudah menguras tenaga Ella karena harus bolak-balik mengurus ini dan itu.


"Capeknya!!!" keluh Ella sembari meregangkan kedua tangannya keatas. Sedangkan Aura mengangguk setuju dengan apa yang Ella keluhkan.


"Jam berapa memangnya kita pertemuan?" tanya Aura yang membuat Ella seketika menoleh pada gadis cantik primadona kantor ini.


Ella menaruh telunjuknya di dagu, seakan dirinya mengingat-ingat tentang kesepakatan kemarin. "Emmm lupa," ucap Ella jujur, membuat Aura menepuk jidatnya.


"Kemarin lupa pake sepatu, trus lupa nggak bawa coffee, sekarang lupa jadwal?" heran Aura yang menatap aneh pada Ella yang menyengir.

__ADS_1


Entah kenapa, rasanya badan Ella sangat lelah untuk sekedar berpikir. Tapi untunglah, kepintarannya tidak menurun karena kecerobohannya. Ella segera membuka buku kecil yang ia gunakan untuk menulis inti-inti penting yang terjadi di kantor. Membuka setiap halaman, akhirnya ketemulah jadwal hari ini.


"Nah, sudah ketemu. Nanti kita pertemuan di jam makan siang di restaurant young dess." jawab Ella sembari membaca buku kecilnya.


Ella dan Aura segera bersiap-siap karena tugas mereka yang menjadi sekretaris pasti akan diikut sertakan dalam masalah ini. Karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas, dengan persiapan yang matang mereka berdua berjalan menemui direktur.


____________


"Apa tuan presdir baik-baik saja?"


"Aku baik, memangnya kenapa? Apa aku terlihat lemah!"


Seorang presdir dingin itu, kini sedang bersiap juga untuk melakukan pertemuan dengan perusahaan yang akan menguntungkan baginya. Walaupun kepribadiannya yang buruk, tapi jika membahas masalah pekerjaan otaknya secara otomatis akan berjalan semestinya.


"Tapi tuan terlihat pucat hari ini," ujar Harcen yang mengkhawatirkan atasannya.


"Aku baik-baik saja oke! Cepat kerjakan tugasmu! Kita tidak ada banyak waktu sekarang." perintah Devan dengan tegas pada Harcen.


Sebenarnya, Devan dari tadi memang merasakan badannya berat dan pusing. Tapi pertemuan kali ini tidak boleh batal hanya karena dirinya yang sakit! Padahal Devan yakin kalau dirinya sudah meminum obat, tapi rasanya obat yang ia minumntidak bekerja semestinya.


Restaurant young dess, tempat pertemuan dua perusahaan ternama dikota ini. Oh atau bahkan dinegara ini. Memang rasanya saling menguntungkan kalah dua perusahaan ini bekerja sama, walaupun memiliki bidang yang berbeda.


"El, tungguin lah!" teriak Aura yang sudah tertinggal jauh jalannya dengan Ella.


Ella berputar dan melihat kebelakang Aura yang sedang kesulitan berjalan. Bayangkan saja, dalam pertemuan yang harus bergegas ini dia malah memakai high heels dua belas centimeter. Bahkan Ella juga sudah memperingatkan Aura agar tidak memakai high heels itu, tapi apa daya kalau gadis itu berkata ingin terlihat tinggi.


Walaupun Aura adalah senior bagi Ella, tapi rasanya Ella yang lebih senior disini. "Hah, kau lama kak!" kesal Ella yang sudah melipat kedua tangannya didada sembari melihat Aura yang berusaha berjalan santai.


"Biarin wlee!" balas Aura dengan menjulurkan lidahnya pada Ella yang mencibir.


"Hoek, hoek."


Brakk....


"Aduh!"

__ADS_1


"Sorry sorry,"


Ella merasakan pundaknya sakit saat dirinya tertabrak bahu pria yang berjalan terburu-buru sembari menutupb mulutnya dengan tangan seakan menahan sesuatu yang akan keluar dari mulutnya. Beruntung Ella tidak jatuh, kalau sampai jatuh pasti semua berkas ditangannya juga akan ikut terbang.


Pria itu sudah pergi menghilang, bahkan Ella juga tidak melihat wajahnya. "Ella , kamu gapapa kan?" tanya Aura yang sudah berada disamping Ella yang mematung.


"Hah? gapapa kok. Ayok kak cepet kesana, nanti pak direktur marah lagi." ajak Ella segera dan menarik tangan Aura dan menggiringnya ke tempat pertemuan.


Disisi lain, seorang pria yang merasakan gejolak diperutnya akhirnya memilih segera pergi ke toilet pria. Mengeluarkan semua isi perutnya, lelaki itu terlihat pucat sampai si sekretaris ikut bingung dengan keadaan atasannya.


"Tuan, anda yakin ingin melanjutkannya?" tanya Harcen yang ikut masuk membantu Devan merapihkan dirinya kembali.


Devan menatap dirinya di pantulan cermin toilet. Beruntung toilet sedang sepi, jadi tidak ada yang melihatnya dalam keadaan seperti ini. Bisa bahaya jika ada kabar seorang presdir ternama mual-mual di toilet restaurant. Membayangkannya saja sudah membuat Devan bergidik ngeri.


"Berikan tisu itu!" pinta Devan dan langsung mengusap kasar mulutnya setelah mendapatkan tisu dari Harcen.


...Setelah dirasa dirinya sudah baik-baik saja, Devan dan Harcen kembali melanjutkan pertemuan yang sempat tertunda karena dirinya yang tiba-tiba melarikan diri. Beruntung pertemuan itu belum dimulai....


"Ada apa denganku?"


.


.


.


.


.


Thanks all.....


Buat yang sudah mampir aku ucapin selamat datang.....


Jangan lupa beri dukungan dan tinggalkan jejak kalian di komen ya:)

__ADS_1


__ADS_2