You And Me And Destiny

You And Me And Destiny
Janjimu?


__ADS_3

Didalam kamar yang sama, terasa rasa canggung yang luar biasa. Walau pernah mengalami suasana ini, tapi tetap saja tidak bisa mengubah apapun yang terjadi. Saling membelakangi, Ella dan Devan memikirkan hal yang sama namun dengan persepsi yang berbeda.


"Devan, kalau kamu tidak nyaman saya bisa tidur di sofa itu." ujar Ella mencoba menawari pada Devan yang dari tadi terlihat tidak nyaman.


"Tidak, kau sedang hamil. Kalau sampai mami liat bisa-bisa aku yang kena amuk." jawab Devan membuat Ella tertawa kecil. Karena memang benar sih, Devan pasti disalahkan kalau sampai nyonya Alendra melihat Ella tidur di sofa.


Mendengar suara tawa Ella, entah kenapa itu bisa membuat Devan merasa lega. Bagaimanapun juga, sekarang Devan sedang dalam situasi yang canggung. Apalagi ia masih terbayang-bayang tentang malam setelah pernikahan mereka saat itu, dimana dirinya yang hampir kehilangan kendali pada nafsunya.


"Devan, apa saya boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Ella membuat Devan tersadar dari lamunannya. Devan hanya berdehem mengiyakan apa yang permintaan Ella tadi.


"Apa besok pagi anda ada acara?" tanya Ella membuat Devan menolehkan kepalanya melihat punggung Ella. Punggung wanita yang menjadi korbannya itu, terlihat gelisah dengan gerakan-gerakan yang terlihat.


"Belum ada jadwal apapun. Ada apa?" balas Devan yang mulai penasaran dengan permintaan Ella. Gadis yang jarang meminta aneh-aneh padanya, kini menanyakan jadwal kegiatannya dua hari lagi sangat menarik perhatiannya.


Ella membalikkan badannya dan kini tatapan keduanya bertemu, namun hanya sebentar karena Ella langsung menunduk melihat dua pasang kaki diselimut yang sama. "Saya ada jadwal untuk check up, tapi saya masih sedikit malu jika kesana sendiri. Kalau anda tidak bisa juga tidak apa, saya akan pergi sendiri nanti." ujar Ella yang mampu menyentil hati Devan.


Hei! lihatlah kalau Devan itu seorang pria! Kalau sampai ada wanita yang menyindirnya tentu saja kan itu akan melukai harga diri seorang Devano Alendra! "Apa kau pikir aku terlalu buruk untuk itu? Akan ku luangkan waktuku lusa nanti." balas Devan dengan nada kesalnya. Ingat, dia pria!


Ella mengangkat wajahnya, dilihatnya wajah Devan yang kesal. Dan itu mampu membuat senyum diwajah Ella terpancarkan, senyum geli lebih tepatnya. Bukan niat Ella untuk menyindir Devan, tapi apa jadinya nanti kalau dia harus berhadapan lagi dengan Monica yang menjadi dokternya nanti? Pasti akan banyak pertanyaan untuknya, dan itu sungguh membuat Ella merasa seperti tersangka.


Ella membalik lagi tubuhnya, memunggungi Devan untuk beralih ke fase tidurnya. Begitu juga dengan Devan yang ikut memutar tubuhnya. Segala ingatan di hotel saat malam pernikahan mereka, masih menempel jelas di benak Devan. Sedikit menganggu tapi mampu ditahan Devan. Hidup pada club malam sudah pernah Devan lalui, jadi sudah pasti Devan bisa menahan nafsunya.


Di club malam yang berisi para wanita seksi, namun tidak semua akan menjadi tipe Devano Alendra. Karena apa? karena Devano Alendra hanya memanfaatkan untuk kesenangannya saja. Selepas itu, bahkan Devan tak sekalipun melirik wanita-wanita dengan lipstik merah menyala dan baju terbuka itu.


________________


Pagi yang cerah, menyambut hari dimana Ella akan melihat perkembangan bayinya. Segera mengenakan pakaian yang simple, Ella memastikan pakaiannya bisa digunakan untuk melakukan USG nanti. Menatap dicermin yang ada di kamar Devan, Ella sungguh harus mulai terbiasa dengan kehidupan yang mewah sebagai nyonya muda Alendra sekarang.


Bukan untuk bergaya, tapi setidaknya dengan nama Alendra dia tidak akan membuat malu keluarga besar ini. Devan yang semalam berkata akan menemaninya, pagi-pagi sekali dia sudah ke kantor untuk mengecek beberapa dokumen. Dan setelahnya, Devan berkata akan menjemput Ella untuk berangkat check up bersama.

__ADS_1


Ella turun dari kamar Devan dengan senyumnya menyambut sang ayah dan ibu mertua yang sudah berada di ruang makan. Sebenarnya tadi Ella sudah turun untuk membantu ibu mertuanya, tapi dengan tegas ibu mertuanya itu menolak bantuan darinya. Pastinya dengan alasan kalau Ella harus banyak istirahat, apalagi pagi-pagi tadi ia terbangun karena merasa mual.


"Sayang, kamu udah siap? Cepetan sini sarapan dulu sebelum berangkat." sapa ibu mertuanya dengan lembut bak ibu yang sangat di idam-idamkan. Ella mengangguk semangat dan segera mendekati ibu mertuanya itu.


"Mami, Ella ada mau tanya sedikit boleh?" tanya Ella yang sekarang sudah tidak terlalu canggung dengan ibu mertuanya itu.


Dengan senyum keibuannya, nyonya Alendra mengangguk pasti setelah mendudukkan dirinya di kursi sebelah Ella. "Ella mau tanya banyak juga boleh, apalagi mami kan juga ada pengalaman tentang kehamilan mami." ujar nyonya Alendra membuat Ella tersenyum.


"Apa waktu mami hamil, mami juga sering berubah-ubah mood nya?" tanya Ella yang membuat nyonya Alendra tersenyum sembari mengusap pucuk kepala Ella dengan sayang.


"Tentu saja, itu adalah hormon ibu hamil. Kalau kamu merasakannya, pasti cucu mami ini sudah mulai bertingkah. Tenang saja, mami sama papi akan selalu ada buat Ella." jawab nyonya Alendra dengan sayang dan disambut juga senyuman keayahan dari tuan Alendra.


Sarapanpun dilanjut, sampai semua makanan habis yang membuat Ella segera pamit menuju rumah sakit. Keluarga Alendra yang santai, membuat Ella merasakan kenyamanan keluarga yang sebenarnya. Padahal dirinya hanya berstatus menantu, tapi rasanya seperti menjadi anak sendiri.


Kebetulan karena cuaca yang mendukung, membuat Ella ingin pergi ke rumah sakit dengan berjalan kaki. Tentu saja sempat dilarang oleh nyonya Alendra, tapi dengan alasan Ella juga ingin sedikit berolahraga akhirnya ia diperbolehkan dengan syarat kalau lelah harus segera memanggil taksi.


Namun kini rasanya ketakutan Ella akan terjadi. Kurang dua nomor lagi dia akan dipanggil untuk masuk, sedangkan Devan belum juga datang menemuinya. Sampai akhirnya sekarang nomornya dipanggilpun, Ella harus pasrah kalau dia benar-benar harus sendirian.


"Dia pasti sedang sibuk, aku terlalu manja untuk sekadar check up saja." gumam Ella sebelum akhirnya dirinya masuk kedalam ruang periksa. Dan benar saja, pekikan langsung terdengar ditelinganya karena Monika yang mulai menyerangnya.


"Wah Ella, kamu datang sendiri? Kemana si kunyuk itu? Dia tidak menemani mu kah? Atau dia beralasan sibuk lagi padahal dia malas untuk mengantarmu?" serbuan pertanyaan dari Monika yang sungguh sangat Ella harapkan untuk bisa menghindarinya.


"Dia memang sibuk, kalau untuk check up saja aku juga bisa pergi sendiri. Dia pasti juga lelah kalau aku suruh datang kesini," jawab Ella seadanya. Sungguh Ella tidak bisa menjawab pertanyaan seperti itu. Dan dilihat dari tatapan Monika padanya, itu adalah tatapan jengkel karena perilaku Devan yang semena-mena.


"Dasar anak itu memang gila kerja dari dulu." ujar dokter Monika yang Ella tanggapi dengan senyuman saja. Yang Ella perlukan sekarang adalah segera keluar dari rumah sakit ini sebelum mode cerewet Monika datang padanya lagi.


Dengan teliti, Monika segera melakukan pemeriksaan pada kandungan Ella. Dan dengan sigap pula Ella langsung melihat layar yang menampilkan titik hitam dimana buah hatinya tumbuh didalam sana. Dan suara detak jantungnya juga, membuat telinga Ella merasa mendengar nyanyian merdu yang buah hatinya hasilkan untuknya.


"Apa kamu dengar suara detak jantungnya?" tanya Monika yang membuat Ella mengangguk namun tatapan matanya masih pada layar yang sama.

__ADS_1


"Sangat kecil tapi sudah terdengar detak jantungnya, dan dia sehat kok. Sangat bagus kalau kamu bacain dia buku cerita, atau dengerin musik yang halus. Dia pasti suka, dan itu sangat bagus untuk perkembangannya." ujar Monika yang hanya mampu Ella jawab dengan anggukan kepala.


"Oh iya, kalau ada keluhan katakan saja padaku. Atau kalau kamu punya hal yang mau kamu tanyain, pasti aku balas nanti." lanjut Monika membuat Ella tersenyum dan seketika Ella merasa nyaman dengan Monika. Jelas sekali kalau Monika pasti tau kecanggungan Ella, dan itu membuat Monika mulai mendekatkan dirinya dengan Ella.


"Terimakasih," jawab Ella dengan senyumnya.


Setelah Monika mengambil gambar hasil usg tadi, Ella akhirnya pamit untuk pulang. Ella yang memilih untuk berjalan kaki, berusaha menikmati suasana perkotaan yg ramai secara seksama. Banyak kendaraan berlalu lalang, tapi ini adalah kesenangan tersendiri bagi Ella. Hari ini kantornya libur yang membuat Ella bisa menikmati hari indah ini. Walau sebelumnya dia harus kecewa dengan satu orang yang kini sudah tidak mau dia pikirkan lagi.


.


.


.


.


.


Emmm halo


Aku author


👉👈aku....


Suka makan dan suka nyemil


Sampai puncaknya aku lupa untuk menulis


😀maafin ya

__ADS_1


__ADS_2