You And Me And Destiny

You And Me And Destiny
Pernikahan


__ADS_3

Tepat dua minggu setelah kejadian permen kapan, Hari yang tidak pernah terbayangkan dalam benak dua insan yang berada di altar itu, datang dengan sambutan yang cukup meriah. Putra pengusaha ternama, menikah dengan rakyat biasa yang bahkan yatim piatu. Kabar itu menyebar sampai membuat para wartawan datang untuk mencari berita yang mereka dengar.


"Tidak perlu cemas. Selesaikan hari ini, dan semuanya akan beres." ujar Devan pada Ella yang duduk disebelahnya sambil menunduk.


Setelah orang tua Devan benar-benar menemui om dan tantenya, tentu saja om dan tantenya menyambut dengan bahagia. Bahkan mendengar kabar Ella hamil duluan saja, mereka malah memberi perhatian penuh pada Ella. Sudah pasti semua itu karena Ella akan menikah dengan keluarga Alendra.


"Apa nanti kita harus menghadapi para wartawan itu?" tanya Ella dengan lirih namun mampu didengar Devan yang notabene sejak tadi memperhatikan Ella. Bukan hanya karena terpana dengan wajah cantik Ella, tapi juga pesan dari ibunya yang menyuruhnya untuk mengawasi Ella.


"Kau tenang saja, cukup diam dan biar aku yang menghadapi." jawab Devan.


Acara hari ini begitu meriah, sampai-sampai membuat Ella merasa lelah harus menyalami semua tamu undangan yang hadir. Dari teman-teman Ella, rekan kerja Ella dan Devan, saudara-saudaranya Devan, dan jangan lupa dengan teman dari ayahnya Devan.


Kabar mengenai Ella yang menikah dengan Devan, menyebar ke kantornya dan membuat berita ini seketika menjadi heboh dan tranding topik saat ini. Semua orang mengira jika Devan maupun Ella jatuh cinta pada pandangan pertama. Karena yang mereka ingat, Ella ditugaskan di proyek yang bekerja sama dengan milik perusahaan Devan.


"Apa kau lelah?" tanya Devan pada Ella saat melihat wajah Ella yang terlihat sayu.


"Sedikit, saya masih bisa menahannya." jawab Ella dengan pasti.


Pernikahan yang membuat Ella lelah, membuat keluarga Alendra menyuruh kedua mempelai untuk pergi beristirahat. Untuk urusan tamu, Tuan dan nyonya Alendra lah yang akan mengurusnya. Walaupun tidak enak hati, tapi kalau dipikir-pikir Ella juga sangat lelah.


Pernikahan di hotel ternama, membuat Devan dan Ella tidak langsung pulang kerumahnya. Mereka dengan paksaan orang tua, akhirnya menginap saja di hotel untuk sehari saja.


"Devan, dimana kamar saya?" tanya Ella sembari celingukan melihat pintu-pintu berjejer rapi disebelah kamar yang Devan buka pintunya.


"Untuk hari ini, kau tidur satu kamar denganku. Jangan khawatir, aku tak akan melakukan apapun." ujar Devan datar dan langsung masuk tanpa menunggu Ella. Ella tidak terkejut dengan jawaban Devan. Tentu saja jika pasangan suami istri harus tidur sekamar, tidak enak juga dilihat kalau tidur di kamar yang terpisah.


Ella masuk dan dengan perlahan menutup pintu. Rasanya lelah sangat mendominasi bagi Ella. Ella berpikir, mandi pasti akan membuatnya kembali segar. Dengan begitu, Ella berjalan mengitari seisi kamar untuk mencari baju ganti. Beberapa lemari ia buka, tapi tidak menemukan satupun baju yang ia cari.

__ADS_1


"Masa aku nggak ganti baju?" gumam Ella yang masih mengedarkan pandangannya.


Ceklek....


Suara pintu terbuka, membuat Ella menoleh pada sumber suara. Dilihatnya Devan keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan sudah memakai celana dan kaos. Melihat itu, Ella yakin pasti Devan tau tempat dimana baju ganti berada.


"Emm Devan, dimana baju gantinya ya?" tanya Ella gugup. Jujur, melihat Devan dengan rambut yang basah membuat Ella terpana. Wajah yang tidak bisa dipungkiri ketampanannya, bertambah lagi tampannya dengan rambut basah itu.


"Ada dikoper itu." jawab Devan yang langsung berjalan melewati Ella.


Ella melihat tempat dimana Devan menunjuk tadi. Dan WALAAA! koper itu ternyata beneran ada. "Tadi perasaan aku nggak nemu." batin Ella.


Ella membuka koper dan matanya membola saat melihat bukan baju tidur ganti yang ia temukan. Tapi.....


"Apa ini? Bagaimana aku bisa tidur dengan ini?" batin Ella.


Ella menoleh pada Devan yang duduk di sofa sembari memainkan ponselnya. Kalau tidak ganti, gaun ini saja sangat berat. Dengan mengumpulkan keberaniannya, Ella memilih masuk kedalam kamar mandi dengan segera. Tentu saja membawa satu pakaian tidur yang sudah pasti disiapkan oleh nyonya Alendra.


Ella keluar dengan perlahan, dengan kepalanya menongol lebih dulu dan melihat sekitar. Pandangan Ella menyusuri isi kamar dan dirinya tersenyum saat tidak menemukan keberadaan Devan disana. Dengan hati-hati, Ella bergegas menuju tempat tidur untuk menutupi dirinya dengan selimut. Tapi sebelum itu terjadi,...


"Ngapain kamu mengendap-endap gitu?" pertanyaan yang muncul secara tiba-tiba dibelakang Ella. Gadis itu tentu saja terjengkat kaget mendengar pertanyaan itu. Dengan perlahan, Ella membalikkan badannya dan menundukkan kepalanya.


"Itu, saya..."


Dengan lengan yang berusaha menutupi tubuhnya, Ella tidak berani mengangkat kepalanya. Rasa malu menjalar hingga membuat pipi Ella memerah karenanya. Yap, semua karena lingerie yang disiapkan ibunya Devan untuknya. Rasanya sekarang Ella sama saja seperti tidak berpakaian. Dan itu membuat Ella merasa malu menggunakan lingerie berwarna hitam itu.


"Huft! itu pasti ulah mami. Sudah tidurlah, aku akan mengambil tempat di sofa." ujar Devan. Melihat gelagat aneh dari Ella, tentu saja dirinya tau. Tentu saja Devan pria normal! Melihat Ella dengan pakaian itu, membuat Devan merasakan sisi pria nya hampir saja muncul. Jangan lupa dengan warna merah yang mengisi wajah Ella, yang malah menambah rasa itu.

__ADS_1


Ella yang mendengar perintah Devan, langsung beranjak menaiki tempat tidur dan segera menutup dirinya dengan selimut. Berbeda dengan Devan yang kini berusaha mencari cara untuk membuat kakinya terasa nyaman. Yah, karena ukuran sofa tidak sepanjang tinggi Devan.


"Devan, kalau anda tidak nyaman saya bisa tidur di sofa." ujar Ella yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Devan yang selalu menarik kakinya.


Devan yang mendengar tawaran Ella, berpikir keras sekarang. Kalau menerimanya, pasti akan terasa nyaman untuknya tidur. Tapi disisi lain, harga dirinya akan anjlok kalau membiarkan seorang wanita tidur di sofa, sedangkan dirinya di ranjang yang empuk. "Tidak!" tegas Devan yang memilih untuk mempertahankan harga dirinya.


"Bagaimana kalau tidur di tempat tidur berdua? Saya rasa ini cukup untuk kita tidur dibagian tepi." tawar Ella sekali lagi. Menurunkan egonya, Ella pikir kalau sebaiknya untuk berbagi tempat tidur lebih baik. Ella pernah merasakan tidur di sofa, dan itu sangat menyiksa punggungnya.


Kembali dalam mode berpikir, Devan akui tawaran Ella kali ini lebih baik dibandingkan tawaran yang Ella berikan tadi. Dengan cepat dan tanpa basa-basi, Devan bangkit dan berjalan menuju tempat tidur dimana Ella berada.


Benar-benar canggung rasanya berada di satu tempat tidur yang sama, itu pun juga dirasa Devan yang notabene dering tidur dengan para wanita sebulan yang lalu. Ella mengeratkan selimutnya sampai menutupi leher, dan Devan yang tidur memunggungi Ella. Suasana yang tidak menggambarkan pengantin baru.


.


.


.


.


.


Halo haiiiii semua....


makasih sudah mampir


tinggalkan jejak kalian ya disini

__ADS_1


Maaf kalau ceritanya ngebosenin:(


cerita pertama aku:(


__ADS_2