You And Me And Destiny

You And Me And Destiny
Komentar


__ADS_3

Resiko menjadi menantu keluarga ternama, sudah pasti kegiatan Ella dengan Devan akan tersorot. Padahal bukan selebriti, tapi karena kisah pernikahannya dengan pengusaha besar yang sudah pasti membuatnya tersorot kamera dimanapun ia berada.


Hal itu ingin sekali Ella pikirkan, tapi mengingat posisinya yang sedang hamil maka semua itu harus ia singkirkan saja. Demi anak yang belum menginjak bumi ini, Ella harus menahan semua yang terjadi padanya bukan? tapi tentu saja itu masih terlihat oleh Devan yang sekarang melihat wanita didepannya yang hanya memainkan makanannya.


"Kenapa tidak makan?" tanya Devan mengejutkan Ella. Ella melihat Devan yang sedang melihatnya, segera ia mengalihkan pandangannya pada makanan yang ada didepannya.


"Oh, aku makan kok!" jawab Ella yang langsung melahap makanannya walaupun canggung karena ditatap tajam oleh Devan.


Berbeda dengan Devan yang sekarang terombang-ambing rasanya. Ingin sekali ia bertanya pada Ella, kenapa wanita itu tadi melamun. Tapi itu semua harus Devan tahan karena bingung harus mengungkapkannya bagaimana. Dirinya dan Ella saja dekat bukan dekat yang harus saling mengurusi kehidupan yang lain.


"Makanlah yang banyak," ujar Devan sebelum akhirnya pria itu memutuskan pergi ke wastafel untuk mencuci piringnya yang sudah habis makanannya.


Ella mengabaikan pikiran buruknya tadi dan segera menghabiskan makanannya sebelum perutnya sakit dan anaknya kelaparan didalam sana. Yah, Ella juga tidak mau pingsan konyol gara-gara kelaparan seperti waktu itu.


......................


Pikiran Devan beralih pada wanita yang seatap dengannya. Padahal sudah banyak tumpukan kertas didepannya, tapi pikiran Devan masih berada di Ella yang terlihat suram.


"Hah, kenapa juga harus kupikirkan wanita itu?" gumam Devan yang mulai menyadari dirinya tidak fokus sejak melihat Ella termenung saat makan malam kemarin dengannya.


Tepat pada saat itu, tiba-tiba pintu ruangan Devan terbuka dan menampilkan Harcen dengan wajah gelisahnya dan jangan lupa dengan benda persegi ditangannya. Sementara Devan sedikit terkejut karena Harcen yang tidak biasanya membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Ada apa?" tanya Devan pada Harcen yang masih ngos-ngosan.


Harcen dengan segera mendekati Devan sembari menyalakan ponsel yang dibawanya. "Tuan, ada berita buruk. Nyonya muda..."


Belum mendengar dengan lengkap, Devan langsung bangkit karena mendapat perasaan yang buruk dari tatapan Harcen. "Ada apa?" tanya Devan dengan raut wajah khawatirnya.


Harcen tak menjawab, tapi langsung ia berikan ponsel yang dibawanya ke Devan. Segera Devan melihat apa isi ponsel itu dan matanya membelalakkan saat dirinya menemukan sebuah tulisan yang sudah pasti menjadi salah satu penyebab wanita yang tinggal seatap dengannya terlihat murung.


"Setelah adanya komentar itu, seketika banyak orang yang ikut memberikan komentar buruk tentang nyonya muda." ujar Harcen membuat Devan segera melangkahkan kakinya yang pastinya akan melangkah ke tempat dimana wanita itu berada.

__ADS_1


Tak disangka, setelah konferensi pers waktu itu belum juga membuahkan hasil yang bagus. Ia kira semua sudah berakhir setelah penuturannya di konferensi waktu itu, tapi ternyata....


"ARGHHH!!!" pekik Devan keras sembari memukul setir mobilnya.


Pikiran Devan terus melayang antara wanita yang sudah menjadi istrinya dan juga komentar pertama dengan akun fake yang mungkin membutuhkan waktu untuk mencari wanita itu. Semua diluar perkiraannya, terasa sudah beres ternyata masih ada saja yang mengganggunya.


Mobil yang ia kemudikan sudah sampai di perusahan dimana tempat Ella bekerja. Semua tatapan mata mengarah pada pria yang berlarian di lobi. "Dimana ruangan Ella?" tanya Devan buru-buru pada resepsionis yang langsung memberikan jawaban untuk Devan.


Entah kenapa rasanya Devan sungguh sangat khawatir dengan keadaan wanita itu. Ini kali pertama bagi Devan merasakan rasa panik seperti ini, bahkan disaat berhadapan dengan rekan kerja yang galak saja dia tidak sepanik ini.


Lift menunjukkan lantai dimana Ella berada, segera Devan keluar dan benar saja dia mendapati Ella yang memegang perutnya dan dibantu Aura yang juga panik tiba-tiba Ella merintih kesakitan diperutnya. Langkah tegas Devan langsung menghampiri Ella dan segera mengangkat tubuh Ella.


"Sakit!!" rintih Ella yang masih berada digendongan Devan.


Tanpa pikir panjang, Devan langsung membawa Ella ke rumah sakit. Dalam perjalanan, Ella selalu menggeliat merasakan sakit diperutnya. Rintihan itu semakin membuat seorang Devan khawatir dalam setiap jalannya. Tanpa disadari tangannya sudah mendarat di perut Ella, mengelus perut yang membuncit itu seakan berharap bisa sedikit meredakan rasa sakit yang dirasakan Ella.


Sampailah mobil dirumah sakit, dan segera Devan membawa Ella untuk segera mendapatkan penanganan.


Devan mendadak cengo dengan pertanyaan yang diberikan oleh Monika untuknya. Tanggap dengan kondisi Devan sekarang, Monika tak ambil pusing dan segera menangani Ella yang sudah kesakitan didalam UGD.


Devan menunggu dengan cemas di luar ruangan, sampai akhirnya ruangan tempat Ella terbuka menampilkan Monika dengan tatapan marah pada Devan.


"Gimana keadaan Ella?" tanya Devan segera namun malah mendapatkan tatapan tajam dari Monika.


"Hei! aku bertanya padamu?!" kesal Devan pada Monika yang malah diam tak menjawab pertanyaannya.


Monika mendengus sebal, tapi dirinya harus profesional dengan keadaan pasien. Dengan tatapan tajamnya, Monika menjawab pertanyaan konyol dari Devan yang menurutnya terlalu tidak peka dengan keadaan. "Dia terlalu stress, dan itu tidak baik untuk kesehatan ibu dan anak dalam kandungan."


"Kau harusnya sudah tau dengan ini, tapi kenapa malah begini sih?! Hampir saja terjadi masalah besar kalau tidak cepat mendapatkan penanganan!" ujar Monika membuat Devan merasa tertusuk.


"Apa aku bisa menemuinya sekarang?" tanya Devan yang langsung diangguki Monika.

__ADS_1


"Tapi ingat! Jangan kau buat dia tambah pikiran lagi!" peringatan dari Monika sebelum Devan membuka pintu ruangan tempat Ella berada.


Hal pertama yang Devan jumpai adalah seorang wanita dengan selang infus ditangannya dan juga mata yang tertutup seakan sudah merasa tenang dibandingkan tadi. Melihat keadaan Ella, Devan segera merogoh sakunya dan menugaskan seseorang untuk melacak siapapun yang sudah berkomentar buruk terhadap Ella. Tak lupa juga, Devan menghapus berita tentangnya dan Ella.


"Percayalah, semua akan baik-baik saja." ujar Devan sembari tangannya ia letakkan di punggung tangan Ella.


Baru juga kemarin dia mengadakan konferensi pers untuk menutup berita buruk tentang dirinya dan Ella, tapi dengan cepat pula pola pikir orang-orang berubah. Benar-benar susah diprediksi sudah beres atau belumnya masalahnya dan Ella di didepan publik.


Rasa bersalah kembali menyelimuti hati Devan sekarang. Jika bukan karenanya, pasti semua ini tidak akan terjadi. Tapi juga jika tidak ada kejadian waktu itu, bisa jadi dirinya tidak bisa bertemu dengan Ella.


Menghela napasnya sejenak, Devan mencoba kembali mengatur antara hubungannya dengan Ella. Andaikan saja tidak ada tembok diantara dirinya dan Ella, sudah pasti wanita ini tidak akan menahan semua sendirian sampai jatuh sakit seperti ini.


Jika dalam hubungan ada keterbukaan dan kepercayaan, hal buruk akan mudah dihadapi. Baru kali ini Devan berpikir sampai situ, karena sebelumnya hanya ada rasa egois yang tidak ingin ikut campur dalam urusan masing-masing. Dan Devan mulai menyesali keegoisannya.


.


.


.


.


.


Halo semuaaaa


I'm back


Makasih sudah membaca


Jangan lupa like, komen dan vote ya

__ADS_1


Wajib tekan favorit:)


__ADS_2