You And Me And Destiny

You And Me And Destiny
Cucu keluarga Alendra


__ADS_3

Seluruh pasang mata, menatap wanita paruh baya yang asik menekan-nekan layar ponselnya. Senyum merekah diwajah wanita paruh baya itu, membuat kening ketiga manusia yang melihatnya berkerut.


"Semuanya beres, tinggal kalian nikah aja." ujar wanita paruh baya itu lagi, membuat yang lain semakin mengerutkan keningnya.


"Aku kan belum bilang kapannya, Mah!" protes Devan pada ibunya yang tersenyum manis ke arah Ella. Tatapan nyonya Alendra langsung beralih pada Devan, tatapan membunuh tentunya.


"Lalu? Kau mau membuat anakmu dan juga cucuku ini tidak punya marga Alendra?!" kesal nyonya Alendra yang langsung melengos kembali menatap Ella. Senyum tak pernah pudar saat melihat Ella yang ikut tersenyum manis pada nyonya Alendra.


Sejujurnya, ini keberuntungan besar untuk nyonya Alendra. Anak semata wayangnya akhirnya menikah, lalu mendapatkan wanita yang baik, juga bonus dia akan segera menjadi seorang nenek. Hanya saja, waktu yang membuat semua ini tidak tepat. Waktu yang dimana mempertemukan Devan dan Ella dengan cara yang salah dan memalukan.


Ella yang sejak tadi hanya diam memperhatikan ibu dan anak yang sama-sama tidak mau mengalah, tanpa sadar dirinya menatap tuan Alendra yang juga sedang menatapnya. Aura canggung langsung menusuk diri Ella saat itu juga. Ella menampilkan senyumnya dan tanpa disangka tuan Alendra membalas senyumnya.


"Aku setuju dengan mama mu! Lebih cepat lebih baik. Apa kau mau menunggu sampai perut Ella membesar? Atau kau mau menunggu sampai anakmu lahir duluan?" skak mat dari tuan Alendra, membuat Devan yang dari tadi masih protes pada ibunya langsung terdiam.


"Ella setujukan sama mama?" tanya nyonya Alendra pada Ella dengan mata penuh harap. Ella juga tidak menyalahkan semua yang dikatakan tuan Alendra, tapi bagaimana dengan Devan? Ella melirik Devan yang memasang wajah cemberut karena kalah dengan ayahnya tadi.


Dengan mata penuh harap bantuan, Ella berharap Devan peka untuk membantu situasi Ella sekarang. Tapi Devan malah memalingkan wajahnya, sehingga sekarang pupus sudah harapan yang Ella taruh pada Devan.


"Gimana Ella?" tanya nyonya Alendra sekali lagi, membuat Ella bingung harus menjawab apa.


"Itu, saya masih bingung harus menjawab apa. Saya juga belum memberitahu om dan tante saya." jawab Ella apa adanya. Ngomong-ngomong, Ella tersadar kalau dia belum memberitahu om dan tantenya. Ella merutuki dirinya yang bisa-bisanya melupakan hal sepenting itu. Apa Ella kabur saja dari rumah itu? tapi tentu saja itu akan membuat Ella merasa bersalah karena niatnya ingin membalas budi tertunda.


Nyonya Alendra yang sejak tadi melihat raut khawatir Ella, sangat paham dengan posisi Ella. Dengan senyum keibuannya, nyonya Alendra menggenggam tangan Ella dan mengusapnya lembut. " Tenang saja. Untuk masalah om dan tantenya Ella, akan mama dan papa urus." ujar nyonya Alendra lembut.


"Ella sudah cek kehamilan?" tanya nyonya Alendra lagi. Ella menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Jujur, Ella sangat payah dalam urusan wanita. Bahkan saat pertama kali haid saja, Ella kebingungan untuk membeli model pembalut, apalagi saat memasangnya.


Hidup tanpa ibu, membuat Ella harus belajar secara otodidak. Tapi lihatlah hasilnya, sekarang Ella mampu mengurus rumah dan bekerja. Cukup bangga juga dengan hasil usahanya, walaupun tanpa ada pendukung dibelakangnya.


"Baiklah, karena ini masih siang mari ke rumah sakit." ajak nyonya Alendra membuat Ella membulatkan matanya. Rumah sakit?

__ADS_1


"Emm, kalau tidak ke rumah sakit apa bisa ya?" tanya Ella lirih.


Rumah sakit adalah tempat yang paling dibenci Ella. Tempat dimana ia harus melihat kedua orangtuanya pergi meninggalkan dia di dunia ini sendiri. Hanya rumah peninggalan yang sekarang Ella tempati inilah harta satu-satunya, walaupun sekarang Ella tidak menganggap rumah itu miliknya karena om dan tantenya yang menandatangani hak milik sesuai dengan yang ibunya Ella minta sebelum pergi selamanya.


"Kalau tidak ke rumah sakit, nanti bagaimana bisa melihat seberapa besar cucuku sekarang." bujuk nyonya Alendra sekali lagi.


Kenapa hidup Ella selalu dihadapkan dengan pilihan yang berat seperti ini? Apa tidak bisa jika berjalan sesuai rencananya sendiri? Selalu saja Ella harus memilih pilihan yang berat untuk hidup.


"Ba-baiklah, Ma." jawab Ella dengan berat hati yang sangat-sangat berat.


Nyonya Alendra yang mendengar Ella setuju, dengan cepat menarik Ella untuk bangun dan membawanya ke rumah sakit. Tentu saja dengan dua ekor dibelakang mereka berdua.


Ā ---------------


Sampailah satu keluarga Alendra dan Ella di rumah sakit yang dipilih nyonya Alendra. Saking antusiasnya, sekarang nyonya Alendra menarik Ella terus sampai mereka sampai di ruangan tempat para ahli kesehatan ibu dan anak.


"Monika?"


"Eh, Aunty Anggi." balas seseorang yang pasti bernama Monika, seperti sapaan nyonya Alendra sebelumnya. Dan Ella tercengang mendengar jawaban wanita itu saat memanggil nama Anggi.


"Aunty, ada apa rame-rame kesini? Uncle juga ikut kesini, dan ada si setan yang kadang ada kadang enggak juga. Eh iya, siapa ini?" pertanyaan beruntun langsung dilontarkan wanita berjas putih dengan nametag Monika di dadanya. Jangan lupa tatapan dokter Monika yang melihat Ella, karena pasti asing dengannya.


"Nggak disuruh masuk dulu nih?" sindir nyonya Alendra membuat dokter Monika menyengir sebelum mempersilakan keempat tamu tak diundang ini masuk.


Dengan lemah lembut, nyonya Alendra menuntun Ella untuk duduk dengan nyaman di hadapan dokter Monika. "Apa kau sibuk sekarang?" tanya nyonya Alendra pada dokter Monika.


"Sebenarnya aunty datang tepat di jam makan siang," jawab dokter Monika dengan nada sedikit kesal karena ia harus kehilangan jam makannya sekarang. Sekarang Ella yang merasa tak enak hati dengan dokter Monika.


"Baiklah-baiklah aunty minta maaf. Tapi ini ada masalah penting, jadi kamu sebagai keponakanku harus menurut!" jawab nyonya Alendra tanpa bantahan.

__ADS_1


Para lelaki yang menjelma jadi ekor nyonya Alendra dan Ella, hanya bisa diam tanpa ikut menimbrung urusan para perempuan didepannya. Mengingat jumlah perempuan lebih unggul dibandingkan mereka.


"Ada apa ini sebenarnya aunty?" tanya dokter Monika yang sejak tadi sudah penasaran kedatangan keluarga Alendra diruangannya.


Dengan senyum manis ala ibu-ibu, nyonya Alendra mencoba menjelaskan permasalahan yang terjadi. Malu rasanya mendengar nyonya Alendra menceritakan kondisi Ella yang hamil duluan, bahkan hamil dengan keluarga ternama juga! Tapi entah kenapa, tidak ada aroma-aroma pertengkaran disini. Malahan......


"Wah!!!!! Daebak!!! Aku akan jadi aunty nanti?????" pekik dokter Monika yang menatap kagum pada Ella. Ella yang mendapat tatapan itu, tentu saja pikirannya bingung. Respon macam apa ini? Bukannya seharusnya dia dimarahi atau ditendang karena mencemari nama baik keluarga Alendra?


"Huwaaaa!!!! si balok es ternyata doyan cewe cantik juga," goda dokter Monika pada Devan yang berdecih membalas godaan dokter Monika.


Sekarang tatapan dokter Monika kembali pada Ella. Binar terang tak mampu dihindari lagi saat melihat mata dokter Monika. "Cucu keluarga Alendra sekarang ada padamu, manfaatkan baik-baik untuk membangun menara Eiffel, Taj mahal atau apalah yang seperti itu." canda dokter Monika yang Ella balas dengan tawa kecil juga.


Rasanya berbeda dengan kegugupan Ella sebelum bertemu orang tua Devan tadi. Rasanya percuma Ella merasa gugup kalau akhir-akhirnya yang terjadi seperti ini. Tapi Ella suka suasana ini, sangat hangat dan penuh tawa juga sentuhan hangat.


.


.


.


.


.


Ding dongšŸŽ‰


Datang lagiiiiii


Makasih buat yang udah mampir disini🄳

__ADS_1


Tinggalkan jejak kalian yaaaaaa


__ADS_2