
Kata sabar tidak pernah lelah Ella ucapkan dalam hatinya. Setiap bulannya, Ella memang harus mengirimkan uang dengan jumlah perjanjian antara Ella dan om tantenya setujui setelah Ella masuk kerja. Tentu saja tantenya menarik bunga untuk Ella, padahal mereka masih ada hubungan darah sekalipun.
Beruntungnya sekarang Ella tinggal bersama Devan, setidaknya dirinya sudah jauh dari om nya yang selalu menggodanya. Benar-benar membuat Ella jijik dan malas untuk berhadapan dengan om nya satu itu.
Dengan ponselnya, Ella mengetik nominal uang yang akan ia kirim untuk tantenya. Dengan note yang sama seperti hari pertama Ella membayarnya. Jika boleh, Ella ingin segera membeli rumah dan tanah itu segera. Kasihan orang tuanya yang sudah lelah membangun, tapi rumah itu bukan Ella yang menempati.
"Sudahlah, yang terpenting sekarang harus memikirkan dia." gumam Ella menyadarkan dirinya sendiri sembari mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit.
Tanpa disadari Ella, raut wajahnya yang suram itu dilihat oleh pria yang teringat kalau ada sesuatu yang tertinggal di lantai bawah tempat Ella berada. Dari tangga itu, Devan melihat wajah Ella yang seakan menahan amarah tapi harus tetap bersabar. Ditambah, ia mendengar gumaman Ella yang semakin menyakinkan bahwa wanita itu sedang tidak baik-baik saja.
Ella yang sudah mulai mengatur perasaannya, kini mulai berdiri dan berniat untuk masuk kedalam kamarnya. Sementara itu, Devan berpura-pura baru saja turun dari lantai atas seakan dirinya tidak melihat Ella dengan raut wajah seperti tadi.
"De-Devan?" ujar Ella yang terkejut melihat Devan yang turun dengan santainya.
"Heh, kenapa blush on mu semakin memerah?" goda Devan pada Ella yang kini dengan sigap menutupi kedua pipinya dengan kedua tangannya.
"Ahaha, cuacanya panas sekali. Sepertinya aku merasa kepanasan sekarang!!!" jawab Ella dengan alibinya. Mana mungkin ia akan bilang kalau ia sedang salting karena Devan yang mengatakan pipinya memerah sekarang!?
Tak membalas apa yang Ella katakan, Devan melewati Ella dan berjalan menuju ke ruang TV tempatnya ia dan Ella bertengkar karena Ella menertawakannya pernah ikut casting tadi.
Devan yang sengaja keruang TV untuk mengambil ponselnya yang tertinggal, tak sengaja melihat notifikasi dari ponsel Ella yang bertuliskan transfer uang berhasil. Seketika Devan tersadar dengan raut wajah Ella yang suram tadi, pasti semua ada kaitannya dengan jumlah uang yang Ella kirim untuk seseorang yang Devan tidak tau pasti orangnya.
"Sudah kuduga ada yang tidak beres." gumam Devan yang langsung meninggalkan tempat itu dan kembali ke kamarnya.
......................
Berbeda dengan Devan yang dulu, Devan yang sekarang lebih memikirkan Ella. Sejak memutuskan untuk berdamai dengan Ella, rasanya Devan seperti perlahan merobohkan tembok besar yang ia bangun.
Sekarang saja, Harcen sudah panik karena atasannya yang terdiam melamun dengan tumpukan kertas didepannya. Bagaimana bisa semua cepat selesai kalau atasannya malah melamun di jam kerja seperti ini?
__ADS_1
"Presdir?" panggil Harcen yang sudah tak tahan melihat atasannya yang seperti patung bernyawa.
Devan masih tak bergeming, tapi tak lama ia mulai sadar karena Harcen yang terus memanggilnya. "Ada apa?" tanya Devan pertama kali saat melihat wajah panik dari Harcen yang terlihat sangat jelas. Malah setelah mendengar pertanyaan itu, kini Harcen malah merubah raut mukanya menjadi tanda tanya yang besar.
"Presdir? Apa anda baik-baik saja?" tanya Harcen pada Devan yang kini dibuat bingung.
Baik-baik saja? Apa benar begitu? Sebenarnya ia tidak tau masalah apa yang sebenarnya ia pikirkan. Tapi rasanya, Devan sangat tidak berminat untuk melakukan apapun yang tidak ada kaitannya dengan Ella. Apa mungkin karena Ella sedang hamil, jadi dia juga ikut terkena hormon nya? Seperti saat ia merasa mual-mual itu?
"Ada yang harus kau lakukan sekarang. Selidiki masa lalu Ella!" ujar Devan yang membuat Harcen tersadar dan langsung mengangguk saja.
Setelah melihat Harcen pergi, kini Devan mulai memfokuskan diri pada tumpukan kertas dan juga layar komputer didepannya. Padahal saat ini ia benar-benar tidak ingin melakukan apapun. Sebaliknya ia ingin pulang dan segera bertemu dengan Ella.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ella yang berada di kantor, mendadak merasakan sesuatu yang benar-benar harus ia dapatkan segera. Setelah mendengar beribu ucapan selamat dari rekan kerjanya, entah kenapa ada perasaan sesak yang membuat dirinya harus mendapatkan apa yang ia mau dengan segera.
Mengambil ponselnya, ia segera menekan nomor yang sudah pasti akan membantunya dalam hal ini. "Halo Devan?" ujar Ella setelah panggilannya sudah tersambung.
Ella tersenyum setelah mendengar panggilannya di balas oleh pria yang sekarang ada dipikirannya. "Devan, apa kamu sedang di kantor? Boleh aku kesitu?" tanya Ella yang langsung saja diperbolehkan oleh Devan.
Berhubung semua pekerjaannya sudah selesai, Ella mengambil izin terlebih dahulu lalu pergi ke kantor tempat Devan berada. Saat melangkahkan kakinya di perusahaan Devan, banyak mata yang memandangnya. Bahkan kini dirinya langsung mendapatkan bodyguard yang berdiri dibelakangnya.
"Nyonya, lewat sini. Lebih baik nyonya menaiki lift khusus Presdir." ujar salah satu bodyguard yang menjaga Ella.
Ella hanya menurut saja dan benar saja, lift itu langsung menuju ke ruangan Devan. Sungguh, Ella sudah bersemangat untuk bertemu Devan. Sampai lift mengeluarkan bunyi "ting" membuat Ella langsung melangkahkan kakinya ke ruangan yang sudah sangat dinantinya.
Tanpa mengetuk pintu juga, Ella langsung nyelonong masuk dan langsung menghampiri Devan yang masih diposisi yang sama. "Devan?!" panggil Ella yang langsung membuat Devan menolehkan kepalanya dan mendapati wanita yang seatap dengannya tersenyum menyapanya.
"Ada apa?" tanya Devan yang membuat Ella langsung mendekati Devan dan mengikis jarak diantara keduanya.
__ADS_1
"Ada hal yang hanya Devan saja yang bisa melakukannya." ujar Ella membuat Devan menatap Ella bingung dan sedikit curiga.
Walaupun dirinya juga senang karena kehadiran Ella, tapi tatapan seperti ingin memakan orang dari Ella itu membuatnya curiga akan satu hal. "Apa yang hanya aku seorang yang bisa melakukannya?" tanya Devan semakin membuat binar dimata Ella menyala terang.
"Bukan hal sulit sih, tapi aku harap Devan mau melakukannya. Ini permintaan dia, bukan aku." ujar Ella sembari mendaratkan tangannya di perut buncitnya.
Devan menggeser posisinya yang menandakan bahwa pria itu menunggu kelanjutan dari Ella. Seakan peka dengan itu juga, Ella langsung pada intinya yang membuat dirinya sampai disini dengan buru-buru.
"Sebenarnya.... emm, tapi apa kamu sedang sibuk?" tanya Ella setelah dirinya baru sadar bahwa ada tumpukan kertas di meja Devan. Devan melirik sebentar tumpukan kertas itu dan menggelengkan kepalanya setelah melihat ke Ella lagi.
"Ah syukurlah, jadi sebenarnya aku ingin... kamu, menggendongku sekarang!"
.
.
.
.
.
Halo hai
I'm back
Are you miss me?
Selamat membaca, jangan lupa like nya ya!!
__ADS_1
Dukung terus agar aku semangat