You And Me And Destiny

You And Me And Destiny
Ketahuan


__ADS_3

Tak disangka kejadian bersih-bersih hari itu, membuat Ella maupun Devan merasa semakin dekat. Terlalu singkat memang, tapi sudah jelas tidak ada kecanggungan diantara mereka lagi. Bahkan mereka sudah tanpa sungkan saling bantu membantu seperti layaknya suami istri pada umumnya.


Tapi kejadian hari ini, membuat Ella maupun Devan harus siap menghadapi keadaan. Yap, Ella dan Devan sudah ketahuan kalau sedang hamil. Dan itu terjadi saat Ella dan Devan pergi bersama menuju rumah sakit tempat biasa mereka memeriksa kandungan Ella.


Sudah menginjak tiga bulan juga kehamilan Ella, dan sudah tidak bisa disembunyikan lagi atau menyangkalnya lagi. Berita tentang keluarga Alendra sudah seperti trending topik hari ini, pasalnya ada wartawan yang memotret Ella dan Devan keluar dari rumah sakit. Dan jangan lupa dengan perut Ella yang lumayan membuncit sekarang.


"Son, kau harus memikirkan jalan untuk ini semua. Ella sedang hamil, kau harus pikirkan jalan keluarnya sekarang. Tidak baik kalau Ella sampai stress." ujar tuan Alendra dengan tegas pada Devan.


Perkumpulan keluarga kali ini, memang sengaja untuk membahas itu. Dan kini, Devan harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa jalan keluar ada ditangannya sekarang. Pandangan Devan terpaku pada wanita yang diam dan duduk disampingnya ibunya.


"Sudah ku putuskan, alangkah lebih baik kalau besok aku mengadakan jumpa pers?" tanya Devan pada papi nya yang kini manggut-manggut menyetujui saran Devan.


"Benar, lebih cepat lebih baik. Dan kau harus lebih tegas mengumumkannya, dan kuharap kau tidak melibatkan Ella sampai jauh. Ingatlah son, kau yang bersalah disini." ujar tuan Alendra membuat Devan yakin betul dengan apa yang harus ia lakukan sekarang.


Dengan langkah pasti, Devan menghampiri Ella yang masih diam diposisi nya. Mengulurkan tangannya, Devan berharap Ella akan yakin dengan keputusannya ini. "Ayo kita pulang, kau perlu istirahat sekarang." ajak Devan yang langsung diangguki lemas oleh Ella.


Setelah berpamitan, Ella dan Devan akhirnya keluar dari mansion keluarga Alendra. Dalam perjalanan pulang pun, sesekali Devan melirik wanita disampingnya yang memandang keluar dan diam saja.


"Percayalah semua akan baik-baik saja." ujar Devan didalam mobil, yang entah itu didengar Ella atau tidak. Tapi yang penting Devan ingin mengatakan itu seakan ingin wanita disampingnya tidak terlalu panik dengan situasi yang mereka hadapi sekarang.


Mobil berhenti di rumah tenang yang ditempati Devan dan juga Ella, tapi kenyataannya semua tak seperti apa kelihatannya. Karena saat Ella dan Devan turun, rentetan wartawan langsung menyerbu mereka dan entah dari mana juga mereka datang.


"Tuan, apa benar kalau anda menikah karena bertanggung jawab saja? Jadi selama ini berita tentang cinta pandangan pertama itu cerita bohong?"


"Nona, apa benar kalau sebenarnya anda terpaksa menikah?"


"Tuan dan nona, apa kalian benar-benar melakukan one night stand ?"

__ADS_1


Dan rentetan pertanyaan dari wartawan yang tak ada habisnya menembus di telinga Devan dan juga Ella. Dengan sigap, Devan menarik Ella agar wanita itu berada aman dibelakangnya. Sedangkan Ella langsung mengulurkan tangannya dan meremas lengan kekar Devan. Benar, dia takut.


Merasakan remasan di lengannya, membuat Devan yakin bahwa rasa takut Ella sebanding dengan rasa sakit yang ia dapat ditangannya ini.


"APA KALIAN BENAR-BENAR MANIAK BERITA?!" kesal Devan yang sudah berada dipuncak. Namun tak lama setelah itu, Harcen datang dan segera menyela untuk menyelamatkan majikannya.


Memang sebelum pulang tadi, Devan sudah memberitahu Harcen untuk berjaga-jaga akan kejadian seperti sekarang ini. Dengan dibantu beberapa bodyguard, sekarang Devan dan juga Ella bisa masuk kedalam rumah dengan Ella yang sekarang berada di gendongan Devan.


Dalam posisi ini, Ella tidak bersikap apapun yang penting dia bisa menjauh dari keramaian yang mendesak dirinya untuk menjawab deretan pertanyaan dari mereka semua. Dalam gendongan Devan, Ella juga merasakan detak jantung memburu dari Devan. Tak disangka pria yang kini ada didekatnya juga merasakan seperti ini.


Perlahan Devan menurunkan Ella di sofa empuk di dekat TV. Nafas terengah dari Devan dapat Ella dengar dengan jelas, tentu saja karena Devan harus menghadapi situasi ini dalam waktu yang singkat.


"Apa kau sudah tenang?" tanya Devan pada Ella. Ella hanya mampu menatap Devan dalam, dirinya ingin menangis sekarang.


Perlahan air mata membendung di pelupuk matanya dan akhirnya tumpah juga mengalir di pipinya. Tapi apa daya, situasi ini lama-kelamaan akan tetap terbongkar karena perut Ella yang semakin membesar juga. Disitu benar-benar buntu dalam pikiran Ella, seakan otaknya tak bisa diajak kompromi untuk menyelesaikan masalah ini.


"Sudahlah, kau juga tidak bersalah dalam hal ini. Besok akan aku selesaikan masalah ini." ujar Devan yang kini akan beranjak pergi untuk mengambilkan air putih untuk Ella yang sudah sesenggukan. Tapi baru satu langkah, tangannya langsung ditahan oleh wanita yang kini duduk dan menatapnya.


"Besok boleh aku ikut?" tanya Ella dengan suara getar dan pelan. Ingin rasanya Devan menolak dengan cepat apa yang Ella inginkan, tapi tatapan mata Ella yang dalam itu tanpa sadar membuat Devan menganggukkan kepalanya.


"Hmm, sebaiknya kau cepatlah istirahat. Besok adalah hari yang berat." balas Devan yang kemudian melangkahkan kakinya menuju lantai atas dimana tempat tidurnya berada.


Ella yang melihat kepergian Devan, ikut melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil air putih agar napasnya sedikit teratur.


Suara bising diluar sudah hilang, dan itu menandakan kalau para wartawan yang sempat berkumpul didepan sudah pergi. Dan benar saja saat Harcen membuka pintu rumah dan masuk kedalam dengan langkah tegas nya.


"Sekretaris Harcen," sapa Ella pada Harcen yang sekarang membungkuk hormat pada Ella.

__ADS_1


"Jika tidak di tempat kerja, lebih baik nyonya muda memanggil saya Harcen saja nyonya muda." ujar Harcen dengan sopan dan tentu saja Ella menggelengkan kepalanya.


"Apakah tuan muda ada di atas?" tanya Harcen pada Ella yang masih menggenggam gelas kaca ditangannya.


"Iya, dia ada diatas. Naik saja, aku tidak akan mengganggu." ujar Ella dan kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar miliknya yang berada dilantai bawah.


Sudah pasti Harcen datang untuk memberitahu pada Devan mengenai jumpa pers besok. Dan benar apa kata Devan, dirinya harus segera beristirahat karena besok adalah hari yang berat. Dan juga mengabaikan Harcen dan Devan yang pasti sedang membahas masalah besok, kini Ella sudah membaringkan dirinya.


"Besok adalah pertempurannya!"


.


.


.


.


.


Hola hai


Aku up


Apa ada yang rindu??


Jangan lupa like, komen dan vote ya

__ADS_1


Bye bye


__ADS_2