
Dua insan yang terlihat seperti anak dan ayah berkeliling di dalam kantor yang ramai akan karyawan yang bekerja di sana. Tentu saja dua manusia tadi menjadi pusat perhatian, dan sudah pasti juga mereka berdua akan menjadi trending topik lagi.
Siapa lagi kalau bukan Devan dan Ella yang sekarang membuat para wanita langsung terpana dengan sikap Devan pada Ella. Sangat terlihat jelas, sekarang Ella berada di gendongan Devan dengan Devan yang berjalan dilobi untuk membawa Ella ke tempat makan karena wanita itu tengah lapar sekarang.
"Apa aku berat?" tanya Ella pada Devan. Devan seketika menoleh kebelakang dan melihat wajah penuh tanya dari Ella yang terlihat gemas. Devan menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Ella.
Sampailah mereka ke depan kantor dan langsung dibukakan pintu mobil oleh supir pribadi yang dikirim Harcen untuk Devan dan Ella. Sebenarnya bisa saja Devan yang mengemudi, tapi entah kenapa nyonya muda Alendra ingin menempel dengan tuan muda Alendra terus sejak datang ke kantor Devan.
"Kau mau makan apa?" tanya Devan lembut sebelum mobil melaju.
Ella berpikir sejenak, pastinya seraya bertelepati dengan dia yang ada diperutnya. Dan muncullah aroma yang menggugah selera Ella. "Aku mau makan bakso ikan yang enak," ujar Ella yang langsung diangguki Devan.
Selama diperjalanan pun, Ella selalu menempel pada bahu Devan. Sementara Devan merasa geli karena Ella yang mengendus-endus bahu sampai lehernya. Yah, Devan sudah duga ini adalah ulah bocah yang masih di perut Ella,. Tapi tetap saja ini memancing nalurinya sebagai pria bangkit!
"Parfumnya Devan apa? Tenang banget aromanya." ujar Ella yang masih saja mengendus-endus leher dan bahu Devan secara bergantian. Devan yang mendapatkan pertanyaan dari Ella, sungguh bingung harus apa, pasalnya sekarang daja Devan sedang mengontrol dirinya yang semakin geli karena Ella belum berhenti mengendus nya.
"Devan?" panggil Ella tepat di telinga Devan. Sudah cukup, sekarang pertahanan Devan sudah runtuh. Devan dengan cepat memutar tubuhnya dan menahan kedua tangan Ella dengan erat. Tatapan keduanya bertemu dan saling terdiam menikmati keindahan mata didepannya.
"Dev-Devan?!" ujar Ella terbata-bata setelah sadar akan posisinya dan juga sadar jika tidak hanya mereka berdua yang ada di dalam mobil ini.
Devan yang mendengar panggilan lagi dari Ella, segera tersadar dan segera menjauh dari Ella. "Ehem! Apa kau tidak tau kalau itu geli?!" ujar Devan dengan dingin setelah duduk di kursinya sendiri. Sementara Ella, langsung memfokuskan pandangannya ke luar saking malunya kejadian tadi yang sudah pasti diketahui oleh supirnya.
Mobil melaju dalam diam dan sampailah di tempat dekat pantai yang menjual beberapa makanan laut yang enak. Seketika mulut Ella terbuka membayangkan apa saja makanan-makanan yang tersaji disana. Melihat pemandangannya saja sudah indah, apalagi didalamnya.
Mobil berhenti tepat didepan restauran, dan Ella masih dengan mulut terbukanya menatap takjub pada restauran tempat ia berada sekarang. Tentu saja itu membuat Devan yang akan keluar dari mobil mengentikan niatnya saat melihat Ella yang masih terdiam menatap arah luar.
"Apa kau tidak mau turun?" tanya Devan membuat Ella tersadar dan segera membuka pintu mobil yang dinaiki nya.
Dirinya bersama dengan Devan segera masuk kedalam restauran dan memesan menu yang membuat Ella tergiur. Aroma masakan seafood dan hembusan angin laut yang menyegarkan membuat Ella tersenyum mengekspresikan perasaannya yang tengah senang sekarang.
__ADS_1
"Waw, lautnya bersih." puji Ella sembari menatap luas lautan didepannya.
Devan ikut melihat ke arah pandang Ella, memang benar jika laut ini terlihat bersih. Pantulan langit saja bisa terlihat dari laut itu, yang membuat laut terlihat biru dengan ombak yang tidak terlalu besar.
Tak menunggu lama, pesanan mereka datang dan tentunya disambut bahagia oleh wanita berbadan dua itu. Dengan mengusap perut buncitnya, Ella seakan mengatakan pada anaknya bahwa fishball yang diinginkan sudah datang dan siap disantap. Dan semua itu tak lepas dari pandang Devan, karena sejak tadi pandangan Devan terpaku pada wanita yang tengah berbahagia.
Melihat Ella yang makan dengan lahap, rasanya Devan ikut bahagia karena senyum wanita itu yang tak pudar. Sesekali Devan juga menahan tawanya saat melihat pipi Ella yang mengembung karena terisi fishball. Sedangkan Ella yang merasa ditatap, langsung mengarahkan pandangannya ke orang yang tengah menatapnya.
"Ahaha, ke-kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Ella yang merasa risih ditatap Devan seperti itu. Dalam hati Ella memikirkan apa Devan menatapnya karena makannya yang terlalu banyak?
"Apa kau suka dengan makanannya?" tanya Devan pada Ella dengan sungguh-sungguh. Sebenarnya Devan tak tau topik apa yang harus ia bahas.
"Suka! Apalagi dengan pemandangan ini." jawab Ella sembari menatap laut seakan mengatakan pada Devan, inilah pemandangan yang aku katakan.
Devan tak habis pikir, bagaimana dia bisa berjumpa dengan Ella. Dan kenapa harus Ella yang ada di malam itu? Sedikit rasa penyesalan sudah Devan rasakan, Ella adalah wanita yang baik yang salah bertemu dengannya. Jika saja Devan tidak termakan emosi saat itu, pasti kehadiran nyawa tak terduga di perut Ella tidak terjadi.
Kalau boleh berharap, Devan ingin mengenal dan bertemu Ella secara normalnya. Ingin bersatu karena sudah saling nyaman, tapi pertemuannya malah kacau dan hina seperti itu. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Devan membuat Ella terkejut mendengarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai di rumah, Ella masih memikirkan pertanyaan Devan yang sangat dalam itu. Ini kali pertamanya di tanya pasal keadaan dengan wajah serius seperti itu. Tapi sampai mereka di rumah, Ella belum menjawab pertanyaan dari Devan. Jujur dia bingung harus menjawab apa, karena Devan yang bertanya kurang spesifik. Baik-baik dalam hal apa? Beruntungnya Devan langsung mengalihkan topik pembicaraan sebelum suasana canggung total.
Dirumah, Devan langsung menuju kamarnya. Sedangkan Ella masih duduk di ruang tamu sembari mengecek ponselnya yang dipenuhi pesan dari rekan kerjanya yang sudah pasti Aura.
Kak Aura
Gila, kamu masuk trending topik lagi?
Ternyata izin pulang cepat itu mau mesra-mesraan sama mas suami ya? :)
__ADS_1
Aaaa, jangan bikin aku iri dong!
Boleh gak sih cariin aku yang kayak Presdir Alendra gitu?!
Ya kira-kira seperti itu teror dari Aura. Tapi benar saja, setelah Ella membuka ponselnya langsung ada berita yang membawa namanya dan juga Devan. Beruntung itu berita yang bagus-bagus, tapi berbeda dengan komentarnya.
Satu yang membuat Ella tersenyum kecut, saat komen yang merendahkan dirinya terpampang jelas dengan jumlah like yang banyak.
Hanya anak yatim piatu dengan keberuntungan besar saja bangga! Ups, keberuntungan atau terpaksa ya?
Yah, tapi Ella tak bisa menyalahkan itu. Memang awal kisahnya dengan Devan sudah salah , jadi untuk apa mau membela lagi kalau mereka sudah berpikir Ella yang salah disini. Selebihnya, Ella sudah bahagia dengan hidupnya sekarang karena bisa jauh dari om dan tantenya. Itu sudah cukup untuknya bahagia sekarang.
.
.
.
.
.
Hola hai
Comeback lagi
Jangan lupa like komen dan vote!!!
Tekan favorit biar tau kalau aku up:)
__ADS_1
Papayyy