
Dirumah gaya Eropa yang terlihat nyaman ini, tercium aroma wangi masakan yang membuat setiap orang yang menciumnya akan tergoda untuk datang kemari. Dan tentu saja itu dilakukan oleh Devano Alendra yang mencium aroma yang datang dari dapur rumahnya.
Devan yang dari lantai dua, menuruni anak tangga dan terdengarlah senandung-senandung merdu seiring dengan suara musik yang berputar. Suara merdu itu sudah dipastikan dari seorang wanita yang sedang hamil itu, bahkan suaranya terlalu merdu untuk musik remix yang dia putar.
Devan yang melihat, hanya menatap dengan tangan yang dia lipat didepan dada. Aneh juga melihat tingkah wanita yang menurutnya dulu pendiam, menjadi seperti ini.
Sedangkan wanita dengan badan bergoyang seirama dengan lagu, juga bibirnya yang tak hentinya bersenandung tidak sadar akan kehadiran Devan dibelakangnya. Tapi saat dia berputar, dan.....
"AAAAAA JANTUNGKU!!" pekik Ella yang terkejut melihat Devan yang sudah berdiri dibelakangnya dengan wajah yang entah apa artinya itu. Sedangkan biang keroknya malah diam saja seakan merasa tak bersalah.
Sudah mengatur kembali detak jantungnya, Ella menatap nyalang ke Devan yang berdiri diam dengan posisi yang masih sama. "Apa anda benar-benar manusia? Kenapa tidak ada suaranya saat jalan kemari?" pertanyaan sekaligus ledekan dari Ella. Benar-benar Ella tak mendengar suara langkah kaki dari Devan, dan tentu saja itu menjadi poin utama yang membuat Ella terkejut.
"Bukannya kau yang serius dengan lagumu?" balas Devan yang tak mau kalah dengan Ella.
Ella melengoskan wajahnya karena malu ketahuan bersenandung dan menyalakan musik untuk menemaninya masak. Wait? MASAK!? Seketika Ella tersadar dan langsung kembali ke kegiatannya semula. Beruntung masakannya tidak sampai gosong, hanya saja menjadi kering tanpa kuah.
Devan masih berdiri diposisi yang sama, sembari mengamati Ella yang masih sibuk dengan masakannya. Kalau dipikir-pikir, benar apa yang Devan pikirkan siang tadi. Dia harus bisa akrab dengan Ella, sebagai teman saja sudah cukup kan? Ini juga demi mereka yang selalu kesorot mata orang lain karena semua orang sudah mengetahui status mereka yang sudah menikah.
"Apakah sesulit itu berbicara infomal denganku?" tanya Devan membuat Ella menghentikan kegiatannya sebentar.
"Bukankah saya sudah jelaskan siang tadi pada anda?" balas Ella yang langsung kembali fokus pada masakannya yang hampir mendekati gosong ini.
"Apa kau tidak pernah berpikir apa yang orang lain lihat kalau kau sering berbicara formal padaku?" tanya Devan lagi dengan penuh tekanan agar dimengerti Ella bahwa topik yang dia bicarakan saat ini benar-benar serius.
Mendadak pikiran Ella seperti menyetujui apa yang Devan katakan. Tapi bagaimana Ella memulainya? Bahkan Ella tau diri akan kedudukannya yang berada jauh dari tempat Devan berada. Mendadak hamil ini lah yang membuat Ella seperti Cinderella yang berasal dari keluarga biasa saja menjadi menantu keluarga kaya.
Menurunkan ego nya, Ella memang harus setuju dengan apa yang Devan katakan kali ini. "Lalu bagaimana saya harus memulainya?" tanya Ella dengan serius, bukan nada kesal seperti biasanya.
"Hilangkan panggilan anda dan saya, kurasa itu sudah lebih dari cukup. Kau bisa memanggilku Devan seperti biasa." jawab Devan dengan spontan dan itu membuat Ella harus berpikir lagi.
"Baik, akan ku coba. Ehem!!!! Apa kamu mau makan sekarang? Masakanku sudah jadi," kata Ella dengan ragu-ragu akan pengucapannya. Benar-benar canggung berbicara seperti ini dengan Devano Alendra.
Devan yang mendengar pengucapan Ella yang masih kaku, benar-benar berusaha keras untuk menahan tawanya. Dan itu diganti Devan dengan hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia menerima tawaran dari Ella, dan juga sudah lumayan untuk pengucapan wanita itu.
__ADS_1
"Okey, kamu duduk aja dulu akan aku siapkan." ujar Ella yang lidahnya sedikit kaku tapi masih bisa dikontrolnya.
Makan malam dengan capcay goreng buatan Ella, dengan beberapa buah pendamping dan jangan lupa dengan susu hamil milik Ella sudah tersaji dengan rapih di meja makan. "Kamu mau apa?" tanya Ella pada Devan, karena Devan yang baru saja mau duduk.
"Kau hanya masak capcay, kenapa tanya mau apa?" ujar Devan dingin yang kemudian membuat Ella merasa bodoh dengan pertanyaannya sendiri.
"Ah, maksudku kamu mau nasi dan lauk seberapa?" alibi Ella yang seakan typo dalam mengatakan hal yang seharusnya ia tanyakan. Tapi tetap saja itu masih terlihat memalukan kalau diingat-ingat.
Devan yang melihat Ella menunduk, tersenyum tipis karena ulah wanita aneh yang seatap dengannya. "Sudah cukup segitu saja nasinya. Aku akan mengambil lauknya sendiri." ujar Devan yang membuat Ella segera duduk dengan tenang di kursinya.
Makan malam yang sedikit berbeda sekarang, karena biasanya Ella maupun Devan jarang berbicara panjang sebelum makan seperti ini. Ditambah sikap Devan yang tak sedingin biasanya.
"Gimana rasanya?" tanya Ella setelah melihat Devan menyuapkan masakannya kedalam mulutnya.
Devan manggut-manggut yang membuat senyum cerah bersinar di wajah Ella. Padahal Ella sudah takut tadi kalau masakannya akan benar-benar gosong, tapi sekarang dirinya benar-benar sudah lega karena masakannya yang dikata Devan sudah pas dan enak walau hanya dari anggukan kepalanya saja.
Makan malam benar sudah Ella dan Devan lalui dengan tenang. Sampai akhirnya mereka berpisah karena jam sudah menunjukkan waktu untuk mereka kembali ke kamar masing-masing, dan sudah tentu kalau itu adalah waktu untuk mereka tidur. Dan menikmati malam libur mereka.
-----------------------
"Apa kau sedang mengamuk padaku?" ujar Devan yang setengah sadar sembari menuruni tangga dengan wajah khas bangun tidurnya.
"Pagi? Maaf kalau aku membangunkan mu, sepertinya aku harus membersihkan rumah ini mumpung libur." ujar Ella seraya menyapa Devan yang terlihat masih mengantuk.
"Hmmm, Hoammmm!!!" balas Devan dengan diikuti suara orang menguap saking ngantuknya.
Melihat jam dinding, membuat Devan sedikit terkejut karena jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. "Tunggu sebentar, aku cuci muka dulu." ujar Devan yang langsung naik lagi ke kamarnya meninggalkan Ella yang menatap kepergian lelaki itu dengan wajah penuh tanya.
Dan benar saja, tak lama setelah itu Devan datang dengan muka yang sudah terlihat fresh dibandingkan saat dia bangun tidur tadi. "Apa yang bisa ku bantu?" tanya Devan pada Ella yang membuat wanita itu merasa aneh dengan sikap Devan hari ini.
"Wah, apa karena aku menaruh barang terlalu keras benar-benar sudah merusak otak mu ya?" tanya Ella polos yang di tanggapi Devan dengan kesal.
Seketika tangannya langsung terulur dan merebut paksa sapu yang ada di tangan Ella. "Kau mengepel, aku yang nyapu. Untuk barang-barang itu, biar aku yang taruh dan kau hanya perlu bilang ditaruh dimana saja benda-benda itu." ujar Devan yang tak mau ambil pusing dengan pertanyaan bodoh dari Ella.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Ella untuk memastikan saja. Dan tentunya hanya dibalas anggukan kepala dari Devan.
Sudahlah, sekarang saatnya mereka bekerja sama membersihkan rumah ini. Dengan Devan yang menyapu, Ella yang mengepel, lalu Devan membersihkan kaca-kaca dan Ella yang menunjuk-nunjuk tempat dimana Devan harus meletakan barang-barang yang sempat Ella beli di supermarket saat itu.
Yah, pekerjaan yang seharusnya memakan waktu lama sudah selesai dalam waktu dua jam. "Aku akan memasak sekarang." ujar Ella yang hendak beranjak menuju dapur kalau saja tak ada tangan yang menahannya.
"Kita pesan online saja, kau sudah terlalu lelah hari ini." ujar Devan yang tentu saja membuat Ella tersenyum manis karena Devan yang mengkhawatirkannya.
"Terimakasih, aku tak pernah menyangka akan bisa akrab denganmu." ujar Ella yang langsung membuat Devan mendengus.
"Setidaknya aku tidak mau hidup dengan batu di atap yang sama." balas Devan yang entah kenapa malah membuat Ella tertawa, dan itu tak lepas dari pandangan Devan.
"Aku juga." balas Ella setelah ia benar-benar sudah menyelesaikan tawanya.
Hari ini benar-benar ditutup dengan Devan yang memesan makanan secara online dengan porsi yang besar. Sampai dirasanya cukup untuk sampai makan pagi kesiangan ini.
Ditambah Ella yang ikut memesan makanan yang benar-benar membuatnya mengiler saat ini. Efek mengidam nya benar-benar terlalu mencolok di bulan ini. Sampai akhirnya mereka makan bersama dan sedikit mengikis tembok diantara mereka berdua.
.
.
.
.
.
Halo haiiii
I am comeback
So, don't forget to like, comment and vote !!!
__ADS_1
See you guys