You And Me And Destiny

You And Me And Destiny
Semakin dekat


__ADS_3

Ruangan ramai dengan banyaknya kamera yang menjadi pusat perhatian Ella sekarang. Semenjak masuk kedalam ruangan ini, sudah Ella duga kalau dia masih tetap gugup dengan semua orang yang menatapnya sinis.


Padahal sudah biasa bagi Ella mendapatkan perlakuan seperti ini. Kehidupan Ella sebelum bekerja ini saja sudah sangat tersiksa sejak kehilangan kedua orang tuanya, dan pastinya tatapan belas kasihan dan tatapan meremehkan sudah sering ia dapatkan.


konferensi pers kali ini sudah dimulai, banyak para wartawan yang sudah menyiapkan note mereka yang pastinya berisi rentetan pertanyaan yang berhubungan dengan Ella dan Devan. Juga para kameraman yang siap dengan kamera masing-masing.


Kilauan cahaya dari flash kamera sudah terasa memenuhi pengelihatan, tapi ini bukan waktunya untuk Ella mengatakan takut. Ella harus berani, karena kalau tidak begitu ia akan berhutang banyak pada keluarga Alendra yang sangat baik padanya.


"Tuan Devano Alendra, apa benar isu mengenai hubungan satu malam yang terjadi antara tuan dan nyonya itu benar?" tanya salah satu wartawan yang sudah berdiri dengan tatapan percaya diri yang sangat tinggi.


Ella melirik Devan yang sepertinya sudah siap untuk menjawab pertanyaan dari wartawan itu. Dan benar saja, kini mic yang ada didepan Devan sudah dekat dengan wajah pria itu.


"Ya, itu benar." jawab Devan yang kemudian membuat riuh seisi ruangan.


Bahkan Ella juga terkejut dengan jawaban Devan, dan kini Ella hanya bisa tertunduk tak berani menatap kamera-kamera yang memotret dirinya dan Devan yang berada didepan. Memang benar sih kalau hubungan mereka karena satu malam itu, tapi entah kenapa rasanya sakit saja saat Devan mengakui hal mengerikan itu dengan gampangnya.


"Hubungan satu malam yang indah dengan wanita yang aku suka." lanjut Devan yang membuat para wartawan terdiam dari bisik-bisik sesamanya.


"Maaf tuan jika saya lancang, tapi banyak rumor yang mengatakan bahwa tuan dan nyonya menikah dikarenakan nyonya hamil. Banyak yang mengatakan kalau ini terpaksa," ujar wartawan yang lainnya.


Senyum Devan yang jarang terlihat, kini terlihat dan langsung menjadi pusat kamera. "Ya, karena mereka hanya tau dari istilah katanya. Bukankah lebih pasti jika mendengar dari aku dan istriku secara langsung?" balas Devan membuat semua menelan ludahnya sendiri.


Dalam benak Ella, sekarang hanya berputar kata istriku. Seorang Devano Alendra? Ella menoleh pada Devan dan benar saja, kini Devan juga sedang menatapnya. Devan mengulurkan tangannya, mengajak Ella untuk berdiri disampingnya. Ella yang paham langsung meraih uluran tangan itu, dan berdiri dengan mata masih memandang Devan.


"Untuk istriku dan juga calon anak kita. Memang salahku terlalu cepat, tapi aku ingin mengikatmu sebagai istriku selamanya." ujar Devan pada Ella dengan saling bertatapan. Sungguh momen cinta dan kasih terlihat disini.


"Apa Devan sudah gila? Tenang Ella, ini hanya akting untuk menghapus berita itu." batin Ella bergejolak.


Momen menegangkan sebelumnya, terasa hilang dalam sekejap. Para wartawan yang melihat, langsung saja meliput momen romantis pangeran dan Cinderella ini.

__ADS_1


"Bukti cinta tuan dan nyonya benar-benar terasa sampai ke kita." ujar wartawan yang tak sengaja didengar oleh Devan.


Devan perlahan menoleh pada wartawan itu dengan senyumnya. "Karena yang nyata, benar lebih ampuh daripada kata orang." kata Devan membuat seluruh wartawan yang ada diruangan ikut tersenyum malu-malu.


 -------------------------


Keesokan harinya, sesingkat itu tranding topik langsung berganti dengan kisah cinta antara putra semata wayangnya keluarga Alendra dengan putri warga sederhana yang yatim piatu. Benar-benar kisah yang sangat mendramatisir.


"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Devan yang tak sengaja melewati Ella yang sedang tertawa kecil dengan ponsel didepan mata.


Ella tersenyum pada Devan, entahlah rasanya gemas sekali melihat Devan sekarang. "Tak apa, hanya saja kamu terlihat menjiwai sekali saat adegan ini." jawab Ella dengan senyumnya sembari memperlihatkan video dimana Devan menatap dirinya dengan sungguh-sungguh.


"Hmm, dulu mami menyuruhku ikut casting film anak kecil." jawab Devan dengan polos yang tentu saja mengundang tawa untuk Ella. Wanita itu tanpa sengaja terus tertawa tanpa melihat ekspresi kesal yang Devan tunjukkan sekarang ini.


"BUAHAHAHAHA SEORANG DEVAN MAIN FILM?" tawa Ella sampai-sampai wanita itu menitikkan air matanya saking tergelitiknya ia membayangkan betapa lucunya Devan yang dingin sedang main cinta monyet ala anak kecil.


"Apa yang kau bayangkan? Apa menurutmu aku kurang menarik untuk jadi artis?" tanya Devan dengan suara beratnya. Benar-benar saat itu langsung membuat Ella terdiam karena Devan yang semakin mendekat dengannya.


Ella menahan napasnya, merasakan detakan jantung yang semakin menggila dalam dirinya. Perlahan, Ella mencoba untuk sadar akan keadaan. "A-apaan sih! Mana mungkin aku berpikir seperti itu?!" alibi Ella seraya mendorong tubuha Devan agar pria itu menjauh darinya.


"Hmm blush on yang bagus." ujar Devan yang kemudian memilih pergi menuju kamarnya dan meninggalkan Ella yang kini memegang kedua pipinya yang terasa panas.


Sejak mereka berdamai, Devan menjadi sedikit hangat padanya. Berbeda dengan Devan dingin yang pertama kali ia temui. Kupu-kupu diperutnya, menggelitik yang tak disangka membuat Ella tersenyum malu memikirkan Devan yang sudah menjadi teman baginya.


"Sayang, apa menurutmu mama jadi suka sama papamu? Pertanyaan yang konyol ya?" gumam Ella sembari mengusap perutnya yang sedikit membuncit.


Devan bukanlah tipe pria yang buruk, bahkan sekarang Devan lebih protektif kepada Ella. Seperti membagi tugas bersih-bersih rumah, dan juga selalu mengantarkan Ella berbelanja kebutuhan rumah. Ditambah, Devan juga mengantarkan Ella untuk ikut senam ibu hamil sampai mengantarkan Ella check up.


Seperti suami istri yang benar-benar bersatu karena cinta, padahal bersatu karena kesalahan. Cukup akur dengan Devan saja, sangat bersyukur untuk Ella. Yah, setidaknya dia bisa terbebas dari kurungan om dan tantenya.

__ADS_1


Ponsel milik Ella tiba-tiba berdering, tertera nama seseorang yang baru saja melintas dibenaknya. Senyum yang awalnya terpancar diwajahnya, seketika hilang bagaikan di sapu angin.


"Halo?" sapa Ella setelah mengangkat teleponnya.


"Apa kamu sudah lupa? Sudah bahagia jadi lupa? Kenapa tidak ada yang mengalir lagi di rekening ku!?" bentak orang dari seberang.


Mencoba menguatkan hatinya, Ella berusaha setegar mungkin untuk menjawab sarkasan wanita dalam telpon itu. "Maaf, Ella bukan lupa Tante. Ella benar-benar sibuk kemarin, Ella akan kirimkan." jawab Ella yang langsung saja panggilan itu diputus sepihak oleh orang yang dipanggil tante oleh Ella.


Sabar, ini adalah tanggungjawabnya terhadap hutang yang ia dapatkan dari bersekolah juga biaya rumah sakit ibunya dengan biaya dari om dan tantenya. Untung saja gaji Ella cukup untuk membayar hutang itu, lalu menabung untuk dirinya dan juga menabung untuk membeli rumah beserta tanah yang seharusnya menjadi miliknya itu.


Sekian banyaknya derita, tapi kali ini Ella merasa tertolong karena kehadiran Devan. Karena Devan yang bertanggung jawab, setidaknya penderitaan itu tak sepenuhnya terasa sesakit itu. Ella bisa, Ella kuat, dan Ella harus yakin. Itu saja yang bisa Ella katakan dalam hatinya. Untuk selalu menyemangati dirinya sendiri.


.


.


.


.


.


Halo hai


Coming back


Don't forget to like , comment and vote this story🤗


Waiting for your support🤗

__ADS_1


__ADS_2