
Rasa panik menyerbu dada Ella saat ini, dimana dirinya harus berhadapan langsung dengan wanita paruh baya yang menatapnya tajam. Setelah mengangkat telepon tadi, Ella langsung pulang kerumah. Dan disinilah Ella sekarang, duduk di sofa dan didepannya disuguhi pemandangan yang menyeramkan.
"Ehem! Bisa kamu jelaskan kenapa rumah sepi?" tanya wanita paruh baya itu yang tak lain adalah mertuanya sendiri.
Ella menelan ludahnya susah, disini dirinya merasa menjadi tersangka kasus yang berat. Ella tidak yakin dirinya akan selamat sekarang, mana Devan sedang tidak bersamanya. Menarik nafasnya, Ella sudah meyakinkan dirinya untuk menjawab. "Itu, saya pergi mengantarkan file yang harus saya berikan pada direktur saya." jawab Ella dengan kepala menunduk takut.
Terdengar helaan nafas panjang membuat Ella semakin ketakutan. "Nak, kamu tidak perlu seformal itu denganku. Aku mami mu sekarang, dan kamu adalah anakku." ucap Anggi dengan lembut. Ia tau kalau Ella baru beradaptasi disini, tapi tetap saja rasanya sangat canggung kalau Ella terus bersikap formal padanya.
"Iya mi" jawab Ella masih menundukkan kepalanya. Ella sungguh tidak tau harus apa sekarang.
"Apa kamu bekerja?" tanya Anggi yang membuat Ella semakin tegang mendengarnya. Dengan perlahan, Ella menganggukkan kepalanya.
"Apa mami akan menggigitmu! Huh, rasanya seperti aku sangat kejam disini." kesal Anggi yang melihat Ella tertunduk terus dari tadi. Ella yang mendengar gerutuan mertuanya, akhirnya mengangkat kepalanya menghadap Anggi yang menatapnya tersenyum.
"Nah gini kan aku bisa lihat wajah cantik menantuku." ujar Anggi dengan senyumnya. Ella ikut tersenyum canggung mendengar pujian dari mertuanya.
Ella yang terdiam menatap meja, langsung merutuki dirinya yang bisa-bisanya bodoh seperti ini. "Aa mami, maaf Ella lupa menawarkan minum. Mami mau minum apa?" tanya Ella dengan berusaha tidak seformal tadi. Anggi tersenyum bangga pada Ella, sungguh berkah Tuhan ia bisa mendapatkan menantu yang baik dan cantik seperti ini.
"Tidak, aku tidak mau minum sekarang. Tapi mami ingin menculikmu dan kita menikmati hari ini bersama. Apa kamu bisa?" jawab Anggi sembari menawarkan hal yang seja tadi dia pendam.
Ella cukup terkejut mendengar permintaan mertuanya. Bagaimana dengan pekerjaannya sekarang? Tadinya dia ingin ke proyek untuk membuat laporan juga mengenai perkembangan proyek, tapi sekarang?
Melihat menantunya yang gelisah, Anggi mendaratkan tangannya dipunggung tangan Ella. Menggenggamnya lembut, menuangkan rasa ibu pada anaknya. "Bukankah kamu bekeeja bersama Devan?" tanya Anggi yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Ella.
"Tenang saja, anak itu akan aku beritahu nanti. Atau sekarang juga tidak apa-apa. Aku akan bilang kalau aku akan menculik istri dan juga anaknya." ujar Anggi sembari mengotak-atik ponselnya dengan cepat. Sedangkan Ella yang melihat itu, tertawa kecil melihat Anggi yang begitu semangat menggoda putranya.
--------------------
__ADS_1
Seorang pria dengan helm proyek, berjalan mengelilingi tembok-tembok yang belum di cat itu. "Apa tidak ada kabar dari gadis itu?" tanya pria itu pada asisten yang selalu setia bersamanya.
"Apa maksud anda nyonya muda Alendra,Tuan?" tanya asisten itu dengan sedikit tertawa kecil dibelakangnya. Sedangkan pria tadi yang tak lain adalah Devan, berdecih mendengar godaan dari asistennya itu.
Harcen tertawa melihat tuannya yang baru pertama kali ini berhasil ia goda. "Maafkan saya Tuan muda Alendra, Nyonya muda Alendra belum sampai."Lanjut Harcen dengan masih menggoda Devan untuk yang terakhir. Devan melirik tajam pada Harcen yang menyengir dengan watadosnya.
Drtt drtt...
Getar diponsel Devan, membuat Devan merogoh saku celananya. Tempat dimana ponselnya ia taruh, karena jas yang ia pakai sebelumnya ia lepas di tempat istirahat. Devan melihat notifikasi yang tertera nama mami Alendra disana.
Monyet kecil, aku membawa istri dan juga anakmu. Dan sekarang aku marah padamu! Kalau kau tidak pulang membawakan aku tas He***s yang aku katakan padamu sebelumnya, jangan harap istri dan anakmu akan pulang.
Devan mendengus kesal setelah membaca pesan dari ibunya itu. Tapi tetap saja Devan khawatir setelah membaca pesan itu. Mengingat ibunya yang cerewet dan blak-blakkan itu, akan menghabiskan waktu bersama? Sudah dipastikan setiap rahasia Devan akan terbongkar saat itu juga.
"Pergi dan ambilkan apa yang nyonya Alendra perintahkan. Bawa secepatnya kesini!" perintah Devan pada Harcen. Setelah itu, Harcen pun pergi meninggalkan Devan di tempat istirahat sendiri.
Tapi, mengingat pernikahan yang dikarenakan nyawa yang belum lahir itulah yang menjadikan beban untuk Devan. Devan belum mengakui keberadaan anak itu, sekalipun benar itu anaknya. "Hah, hidupku perlahan mulai kacau." gumam Devan seraya menengadahkan kepalanya menatap pohon-pohon yang menjadi pelindung dari sinar matahari.
----------------
"Wah, ini cocok sekali dengamu. Emm, kita bisa couple kalau pakai ini. Dan juga ini sangat cocok untukmu yang sedang hamil."
"Celana ini juga nyaman, dan tidak menekan perut. Cocok juga untukmu."
"Benar-benar menantuku. Kamu masih bakalan mengotot ingin bekerja bukan? Dan ini setelan yang sesuai untuk mu."
Dan masih banyak lagi yang Anggi katakan pada Ella. Intinya, setiap pakaian yang Anggi pegang, akan terlihat cocok dengan Ella. Ingin rasanya Ella mengatakan kalau ini terlalu berlebihan, tapi nyonya Alendra yang terlalu bersemangat membuat Ella tidak mendapatkan sela untuk berbicara.
__ADS_1
"Pilihlah yang mana saja yang kamu suka. Tenang saja, uang para suami kita tidak akan habis." ujar Anggi dengan bangganya. Sebagai nyonya Alendra, pasti sudah terbiasa dengan ini semua. Tapi Ella? ini adalah hal baru yang ia dapatkan.
"Ella ingin ke tempat baby shop, Mi. Sepertinya, ada yang sedang meminta dibelikan sesuatu." jawab Ella sembari mendaratkan tangannya di perutnya sendiri. Sedangkan nyonya Alendra, langsung terlihat heboh sendiri dengan ucapan Ella. Karena artinya, ini adalah nyidam pertama Ella yang nyonya Alendra lihat.
"Cucuku meminta sesuatu? Apapun itu, harus beli. Jangan satu, dua atau lebih juga boleh." cerocos Anggi sembari menarik Ella menuju baby shop yang tak jauh dari mereka berada sebelumnya.
Ella yang ditarik, tersenyum saat mendapati perhatian seperti ini. Setidaknya, bayi yang ada dikandungnya sekarang akan mempunyai seorang nenek yang amat sangat sayang padanya. Untuk sekarang, Ella hanya ingin memikirkan bayi yang ada diperutnya. Untuk urusan orang tua bayi ini, Ella rasa tidak akan ada ujungnya jika dibahas sekarang.
"Sayang, kamu pasti akan bahagia dengan nenek yang sayang padamu."
.
.
.
.
.
Halooo
I'm back!
Gimana part ini?
Moga suka ya😂
__ADS_1