
Pagi hari yang cerah dengan sinar matahari yang masuk melalui celah jendela, membuat gadis dengan rambut coklat itu membuka matanya perlahan. Nuansa asing dan hawa dingin langsung menerpa dikali pertama ia membuka mata.
"Aihh," ringis Ella saat gadis itu berusaha bangun dari tidurnya . Tapi belum juga ia mengangkat tubuhnya, rasa sakit di area itu terasa sangat menyakitkan.
Air mata mengalir deras saat matanya melihat tubuh polos tanpa sehelai kain yang membuat Ella teringat akan kejadian semalam. Kejadian yang akan membuat harinya akan terasa hancur sekarang. Ella berbalik dan mendapati secarik kertas diatas baju yang bertuliskan nominal harga dirinya semalam.
Mengusap kasar air mata yang keluar, dengan usaha keras Ella mencoba bangkit menahan rasa sakit yang ia derita. Sakit batin maupun fisik ia tepis . Percuma untuk menangisi semua yang mengganjal karena sakitnya semalam yang membuatnya ternodai.
Ella keluar dari tempat lakn*t itu dan bergegas pergi ke kantor karena waktu masih pas untuk dia kesana. Dalam perjalanan, Ella sedikit bersyukur karena pria itu memberinya baju dengan lengan panjang dan celana panjang juga. Walaupun tidak se kasual biasanya, tapi untungnya ada jas yang dia pakai kemarin untuk menutupi baju bebasnya.
Tanpa riasan make up seperti biasanya, Ella menjadi pusat perhatian teman-temannya. "Eh La, kok tumben banget kamu nggak make up?" tanya Aura (rekan kerja Ella yang biasa menyapanya.)
Ella sedikit tegang saat Aura menanyainya, beruntung Ella selalu menaruh sedikit make up di meja kerjanya. "Oh itu, make up ku ada disini. Hehe, hari ini telat dateng." ujar Ella berusaha mencari alasan yang tepat.
Walaupun Ella sudah menjawab dengan natural, tapi Aura masih merasa ada yang janggal dengan Ella. Rasanya ada yang aneh dengan Ella yang berjalan seperti tertatih menahan sakit. Bukan Aura namanya kalau tidak kepo dengan yang terjadi pada rekan kerjanya
"Kamu baik-baik saja kan ,La?" tanya Aura dengan tatapan menyelidik. Ella yang sedikit gugup akhirnya memilih untuk cepat duduk di tempatnya, dan tertawa renyah pada Aura yang menatapnya curiga.
Aura memilih untuk kembali ke tempatnya dan mengerjakan tugasnya yang menumpuk. Sedangkan Ella menghela napas lega dan akhirnya memilih untuk merias dirinya dengan make up seadanya.
__________
"Presdir,"
"Presdir?"
"PRESDIR!!"
Lelaki yang di panggil Presdir itu akhirnya mendongak setelah panggilan berturut-turut yang diberikan sekretarisnya.
"Kenapa berteriak padaku!" kesal pria itu karena sekretarisnya memanggilnya dengan berteriak. Sedangkan si sekretaris menelan ludahnya karena tatapan ganas yang diberikan untuknya.
__ADS_1
"Anda tadi melamun," ujar sekretaris itu dengan ragu-ragu.
Seorang pria bermarga Alendra itu seketika tersentak dengan perkataan sekretarisnya. Apa benar dia melamun? Devano Alendra, yang terkenal kejam dan dingin. Sekarang sedang melamun memikirkan gadis yang menemaninya semalam. Bukan hal baru bagi Devan untuk menghabiskan malam bersama para wanita di klub malam itu, tapi gadis yang semalam sangat berbeda dari yang sering ia temui.
"Cen, apa menurutmu ketampananku menurun dari biasanya?" tanya Devan pada Harcen (Sekretaris Devan).
Tentu saja pertanyaan Devan membuat Harcen terkejut! Orang yang mempunyai kepercayaan diri diatas rata-rata, tiba-tiba bertanya mengenai hal yang jawabannya adalah TIDAK?
"Itu Tuan, mana mungkin itu terjadi. Bahkan dibandingkan dengan para pangeran di negeri dongengpun akan kalah dengan anda." jawab Harcen yang membuat Devan mengangguk-anggukkan kepalanya, membenarkan apa yang Harcen katakan.
Devan kembali dalam mode berpikirnya. Mengingat-ingat wanita yang semalam bergulat dengannya, tapi dengan terang-terangan menolaknya. Mengingat hal itu, Devan juga berpikir itu kali pertamanya ia memperlakukan wanita sampai tragis dan bertubi-tubi dengan wanita itu yang tak bisa berbuat apapun karena kendali ada pada Devan seorang.
"Huh, siapkan aku wanita untuk nanti malam!" perintah Devan yang langsung diangguki Harcen.
__________
Ella yang bekerja membuat laporan, merasa terganggu saat ingatan malam tadi menyerangnya. Ingatan demi ingatan dimana ia di ikat dan diperlakukan layaknya hewan. Dan cek senilai dua ratus juta menjadi harga dari apa yang ia dapat semalam?
Jam sudah menunjukkan waktunya untuk pulang. Dengan bergegas, Ella berlari menuju halte bus sebelum kejadian semalam terulang lagi. Jika Ella harus menangis meratapi semua yang terjadi padanya, mungkin hari ini ia akan dianggap membolos. Apa jadinya dengan gaji yang ia dambakan itu!
Beruntung bus yang ia nanti-nanti cepat datang. Bus yang akan membawanya kerumah, dan bus yang akan membawanya dalam penyiksaan nanti malam. Memikirkannya saja sudah membuat kepala Ella berdenyut, apalagi kalau sampai ia merasakan penyiksaannya segera.
Tak terasa, bus sudah benar-benar sampai di halte tempat biasa ia turun ataupun naik. Berjalan dengan langkah gontai, Ella yakin hari ini dirinya akan kena marah. "Tuhan bantulah aku, aku mohon kali ini bantulah aku!!" batin Ella berdoa.
Ella memejamkan matanya sebelum membuka kenop pintu yang amat ditakutinya saat ini. Tapi...
"Sudah pulang?" tanya seorang perempuan yang tak lain adalah tante nya sendiri. Ella menelan ludahnya seraya menganggukkan kepalanya.
Tapi fokus Ella sekarang ada pada koper yang ada diruang tamu, dan jangan lupa pakaian rapi yang di kenakan om juga tantenya. "Tante mau kemana?" tanya Ella sekedar basa-basi.
Tantenya memutar matanya malas, seakan ada yang salah dengan pertanyaan Ella. "Apa bekerja membuatmu semakin bod*h! Atau bekerja membuatmu tidak bisa menggunakan handphone?" jawab tante Eka yang merupakan tantenya Ella.
__ADS_1
"Maaf tante, ada beberapa tugas di kantor. Aku tidak sempat untuk membuka handphone," jawab Ella.
"Bukalah pesanku, aku lelah dan ingin tidur!" ujar tante Eka yang berlalu pergi meninggalkan Ella yang mematung karena Eka yang tidak memarahinya mengenai semalam ia tidak pulang.
Tersadar dari lamunannya, Ella segera merogoh sakunya dan mengambil handphonenya. Dan benar saja, ada beberapa pesan dari tantenya yang belum ia baca. Seketika senyum terukir saat pesan yang menandakan doanya terkabul ada dihadapannya.
Tante Eka
Aku dan suamiku akan pergi berlibur untuk malam ini.
Begitulah pesan yang ditinggalkan tante Eka untuk Ella. Itu berarti saat Ella tidak ada dirumah semalam, tantenya juga tidak ada dirumah begitu juga dengan om nya. Rasanya Ella sangat tertolong hari ini. Dengan rasa bahagianya, Ella segera pergi ke kamarnya dan mengganti bajunya. Setelah itu melakukan kegiatannya untuk membereskan rumah.
.
.
.
.
.
Hallo semuanya....
Makasih sudah mampir ke novel pertamaku
Oh iya, jangan lupa like, komen dan vote yaaaa...
Masukan dalam favorit biar tau aku up:)
Thanks all...
__ADS_1