You And Me And Destiny

You And Me And Destiny
Dia benar milikku?


__ADS_3

Devan dengan gagahnya berjalan memasuki ruangan Ella dengan kantong plastik ditangan kanannya. Sedangkan Ella yang melihat Devan masuk, hanya diam dan lebih fokus dengan apa yang dibawa pria itu.


Devan langsung meletakan apa yang ia bawa di depan Ella. "Makanlah," ujar Devan yang memilih mengambil duduk dikursi samping Ella.


Ella membuka plastik itu, dan terlihatlah beberapa makanan yang menggiurkan untuk Ella. Tanpa pikir panjang, Ella membuka beberapa bungkus makanan. Tak lupa Ella menawarkan juga pada Devan, tapi lelaki itu menggeleng.


"Ada yang ingin saya omongin denganmu." ujar Devan disela Ella sedang memakan makanannya dengan lahap. Ella menoleh pada Devan dengan mulutnya yang masih mengunyah sampai kedua pipinya mengembung.


Melihat Ella yang masih makan dengan lahap, rasanya Devan tidak tega untuk mengutarakan pemikirannya yang sudah ia pikirkan selama perjalanan menuju ke ruangan Ella tadi. "Tidak jadi, lanjutkan makanmu." ujar Devan lagi yang lalu berlalu pergi meninggalkan Ella sendiri.


"Tadi baik, sekarang?" gumam Ella setelah Devan pergi.


Di taman rumah sakit, Devan tak henti-hentinya memikirkan tentang bagaimana untuk memberitahu Ella mengenai kehamilannya. Devan masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada, bagaimana bisa gadis itu hamil di kali pertama ia melakukannya?


Tak habis pikir dengan apa yang terjadi, Devan memilih untuk mengutus beberapa orang dulu untuk mengawasi pergerakan Ella. Masih dalam kebingungan, Devan merasakan perutnya mulai bereaksi. Dengan cepat Devan berlari menuju toilet dan menuntaskan rasa tidak nyamannya.


"Tuan, istrimu sedang mengandung ya? Saya dulu juga yang merasakan mual saat istri saya hamil." ujar seseorang yang melihat Devan selesai mengeluarkan isi perutnya.


Devan menanggapi ucapan pria itu dengan senyum canggungnya. Arghh!! apa yang dipikirkan Devan?! Kalau itu benar anaknya? Huh bisa jadi itu bukan anaknya kan? Bisa jadi ini efek kelelahan kan?


Masih dalam pikirannya menolak fakta, Devan ingat kalau ini saatnya ia kembali ke ruangan Ella. Walaupun Devan belum memberitahu Ella tentang kehamilannya, Devan berencana untuk akhir-akhir ini akan mengirim seseorang mengikuti Ella .


Ella yang sudah merasa baikan, keluar dari rumah sakit bersama dengan Devan. Dalam satu mobil yang sama, Ella merasakan tidak nyaman. Walaupun banyak membantu Ella hari ini, tapi tetap saja status Devan adalah penge*ut baginya.


Dalam perjalanan, Ella mengingat sesuatu yang penting yang selalu mengganjal hatinya dalam sebulan ini. Dengan sigap, Ella mencari lembaran kertas itu yang ia selalu bawa untuk berjaga-jaga.


"Ehem, Tuan presdir. Saya hanya ingin mengembalikan barang anda yang tertinggal." ujar Ella sembari meletakan lembaran kertas dengan tulisan nominal uang dua ratus juta itu di dashboard yang ada didepannya. Devan yang melihat Ella memasukan cek yang ia berikan, rasanya geram seakan Devan adalah pria tidak bertanggungjawab.


"Untuk apa kau kembalikan itu?" tanya Devan dengan nada marahnya.

__ADS_1


Ella memilih diam dan memandangi luar jendela daripada harus menjawab pertanyaan Devan yang menurutnya sangatlah tidak penting.


Mereka sudah nemasuki kota, dan Ella juga menyuruh Devan untuk menurunkannya saja di halte. Tapi entah dorongan darimana, Devan mengotot akan mengantarkan Ella dengan alasan wanita itu belum sepenuhnya pulih.


"Sekali lagi saya berterimakasih pada anda, Tuan." ujar Ella sebelum akhirnya mobil Devan kembali melaju meninggalkan kediaman Ella.


Setelah memastikan mobil Devan menghilang dari penglihatannya, Ella masuk kedalam rumah itu, bahkan baru injakan pertama saja sebuah sendok sayur dari kayu itu melayang tepat mengenai kepala Ella. Ingin rasanya Ella mengaduh kesakitan, tapi tatapan tajam tantenya lebih dulu membuatnya bungkam.


"Oh bagus, kau kembali sampai selarut ini! Apa belum cukup hukuman yang kemarin-kemarin? Apa alasan mu kali ini? Ada pekerjaan lagi?" berbagai serbuan pertanyaan langsung tantenya ajukan pada Ella.


"Apa kau menjadi bisu sekarang? HAH? JAWAB AKU!" marah tante Eka pada Ella yang berdiri sembari memegang kepalanya yang terkena sendok sayur tadi.


Tante Eka pergi meninggalkan Ella yang berdiri diam, dan memilih kembali menuju kamarnya. Ella yang sudah melihat tantenya pergi, segera mengerjakan tugasnya untuk mencuci piring dan membersihkan rumah sebelum kejadian kemarin terulang lagi.


Kemarin Ella sangat ketakutan setengah mati saat dirinya dipaksa lembur oleh atasannya. Apa boleh buat, agar ia bisa bertahan bekerja disitu, mau tidak mau ia harus lembur sesuai apa yang atasannya perintahkan. Sampailah dirumah, sebuah cambuk berhasil menyerang punggung Ella.


Mengingatnya saja membuat punggung Ella terasa nyeri kembali. Ella yakin jika sekarang ia ada yang mengawasi, dan sesuai dugaan itu pasti om nya yang selalu terobsesi dengannya.


_____________


"Tuan, sesuai perintah anda saya sudah mengikuti nona Ella sampai dirumahnya." lapor salah satu bawahan Devan yang ditugaskan untuk mengawasi Ella.


"Hmm, bagus lanjutkan!" balas Devan diseberang.


"Tapi Tuan, ada beberapa hal yang harus anda ketahui. Nona Ella setelah tiba dirumah, dirinya sudah di pukul menggunakan sendok kayu tepat di dahinya." lapor bawahannya itu yang tadi sempat melihat dari jendela rumah Ella yang gordennya menggunakan kain tipis.


Devan mengerutkan keningnya, tangannya mengepal. Entah kenapa, rasanya Devan marah dengan apa yang ia dengar dari telepon yang bawahannya suruh. "Tetap awasi dia," ujar Devan yang kemudian menutup panggilan itu sepihak.


Devan memijat pangkal hidungnya karena saking pusingnya. Memikirkan gadis itu hamil saja sudah membuat Devan pusing, apa lagi jika ia mengetahui gadis itu tersiksa tinggal dirumah itu. Jika benar anak itu adalah anaknya, itu berarti anaknya juga ikut tersiksa dengan kesedihan yang ibunya rasakan.

__ADS_1


"Tidak! Jika itu anak keturunan Alendra, tidak bisa dia mendapatkan perlakuan seperti itu." gumam Devan yang masih fokus menyetir juga.


Devan si playboy, untuk pertama kalinya memikirkan wanita yang pernah ia temui. Biasanya jika ia bermain wanita, ia lupa dengan wanita-wanita yang ia ajak bermain. Tapi Ella adalah pengecualian. Wajah penuh air mata itu, selalu menghantui Devan.


"Arghh! kenapa jadi begini!" kesal Devan sampai ia memukul kemudinya.


Jika berpikir kalau Devan sudah menerima anak itu, kalian salah. Dalam benak Devan, ia masih selalu merapalkan kalimat bahwa anak itu bukanlah anaknya. Tapi kenyataan yang ada, selalu mengarah pada anak itu adalahnya anaknya. Dan apa yang harus ia lakukan untuk memberitahu Ella mengenai kehamilannya?


"Cen, bawakan dokter kandungan untukku besok!" perintah Devan pada Harcen melalui panggilan singkatnya.


.


.


.


.


.


Halooooooo


Haiiiiii


Holaaaaaaa


Welcome buat yang baca;)


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya......

__ADS_1


Tambahkan ke favorit juga biar tau aku up🥳


Thanks a lot...,


__ADS_2