
Sesuai apa kata Devan tadi pagi, sekarang keduanya berada didalam mobil bersama. Devan tak berbohong akan menjemput Ella dikantornya, padahal Ella sudah cemas kalau dirinya harus menunggu tanpa kepastian. Tapi sekarang, ia bersyukur AC mobil yang menyegarkan sudah menerpa wajahnya.
Sedangkan Devan, masih terbayang-bayang wajah sekretaris Harcen saat dirinya pamit pergi tidak seperti biasanya. Sikapnya yang workholic, membuat sekretaris Harcen tidak menyangka akan merasakan pulang sebelum jam pulang. Sungguh hari yang indah untuk sekretaris Harcen.
"Apa ada yang ingin anda sampaikan pada saya? Tumben sekali anda ingin menjemput saya." tanya Ella saking penasarannya dengan sikap Devan yang sering berubah-ubah. Terkadang pria itu memiliki raut wajah yang dingin, tapi terkadang juga memiliki raut wajah bersalah dan sebagainya.
"Kita harus berbelanja bukan?" jawab Devan dengan pertanyaan yang membuat Ella tercengang mendengarnya.
Ella hanya tersenyum dengan jawaban yang Devan berikan, toh ini juga bukan hal yang aneh untuk dilakukan. Apalagi status mereka yang suami istri, sangat wajar pergi berdua seperti ini. Dan itu semua, sekarang karena mereka hidup bersama di dalam atap yang sama.
Mobil berhenti tepat di supermarket di kota. Tentu saja Ella akan turun setelah mobil yang dinaiki benar-benar sudah terparkir dengan sempurna. Namun kini Ella terkejut saat mendengar suara dari mobil terkunci, diiringi langkah yang semakin mendekat kearahnya.
Dilihatnya Devan ikut berjalan seperti sedang menyusul dirinya. Ella berhenti dan menatap Devan yang kini ikut berhenti dan juga balik menatap Ella. "Kenapa?" tanya Devan setelah melihat tatapan Ella yang terkejut melihatnya.
"Anda ikut?" tanya Ella yang langsung mendapatkan anggukan polos dari Devan.
"Jangan pikir macam-macam, kau sedang hamil." balas Devan dengan ekspresi dinginnya lagi. Dan itu langsung membuat Ela melanjutkan langkahnya dan masuk kedalam supermarket.
Didalam supermarket, Ella berusaha menarik troli yang berderet. Tapi dengan jiwa lelakinya, Devan datang dan menggeser Ella yang masih ada dibelakang troli. Lelaki itu dengan mudah menarik troli yang ingin Ella tarik tadi, dan mendorongnya seakan memberitahu Ella bahwa biarkan Devan saja yang mendorong. Tentu saja Ella langsung panik dan segera menyusul Devan yang sudah jalan duluan.
"Beli ikan apa daging ya?" tanya Ella pada dirinya sendiri daat dihadapkan dengan deretan daging-daging yang berjejer dan terlihat segar.
"Beli saja semua kalau bingung," jawab Devan yang langsung membuat Ella melotot padanya.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Ella dengan polosnya, tentu saja Devan mengangguk dengan pasti. Rasanya Ella benar-benar terkejut saat pria satu ini dengan mudahnya memberi jawaban itu. Entahlah apa yang menimpa Devan, tapi pria itu benar-benar membuat Ella terkejut untuk hari ini dengan sikapnya.
Ella dan Devan kembali memutari supermarket, dan sampailah mereka di tempat sayuran berada. Ella melihat-lihat deretan sayuran yang berwarna-warni dan terlihat segar seperti baru datang hari ini. "Anda mau dimasakan apa?" tanya Ella sembari melihat Devan yang sedang menatapnya dari tadi.
Devan yang kepergok sedang menatap Ella, langsung berdehem dan segera menjawab pertanyaan yang Ella tanyakan padanya. "Apapun itu asalkan tidak ada racunnya." jawab Devan yang kemudian di sambut wajah cemberut dari Ella. Memangnya Ella pembunuh bayaran apa!? Yang dengan sengaja memberikan Devan racun di makanannya!
Dengan sigap, Ella segera mengambil beberapa sayuran yang tentunya saling berkaitan. Tidak mungkin kan kalau semisal Ella membeli daun pepaya dan dimasaknya dengan yoghurt!? Dan benar saja, kini keranjang belanja Ella sudah hampir penuh karena belanja bulanannya yang lumayan banyak.
__ADS_1
Ella yang menjadi pemimpin didepan, berjalan melewati rak-rak keperluan ibu hamil. Dan kini dirinya berdiri tepat di depan rak yang berjejer kotak-kotak susu khusus untuk ibu hamil. Dan tentu saja mata Devan ikut mengarah pada kotak yang disentuh Ella. "Kenapa hanya kau tatap?" tanya Devan yang bingung dengan Ella yang hanya menatap susu itu.
"Saya hanya sedang berpikir. Saya memang membutuhkan ini, tapi kalau saya minum rasanya saya mual." jawab Ella dengan masih menatap kotak susu rasa strawberry didepannya.
"Ambil saja, banyak rasa disini. Mungkin kau harus coba rasa yang lain." ujar Devan yang kini berjalan duluan sembari melihat-lihat jejeran rak khusus ibu hamil.
Devan yang menatap Ella dari kejauhan, tak sengaja menyunggingkan senyumnya. Wanita yang tak pernah terbayangkan olehnya, tiba-tiba sudah berstatus sebagai istrinya. Benar-benar konyol kalau harus diutarakan apa yang Devan rasakan sekarang. Entah kenapa, wanita itu seperti menghipnotis Devan. Dari mulai Devan tidak bisa bermain wanita lagi, dan juga pikiran Devan yang selalu tertuju pada wanita itu.
Tak lama, lamunan Devan terbuyarkan dengan pekikan suara dari wanita yang tengah ditatapnya. "Devan!! Ada apa dengan saya? Kenapa menatap saya seperti itu?" tanya Ella yang merasa aneh pada dirinya sendiri setelah ditatap Devan dengan lama.
"Ehem, tidak. Hanya saja sepertinya kau membutuhkan baju yang nyaman untuk bepergian." alibi Devan setelah ia berpikir keras mencari alasan. Dan ketemulah sekarang, setelah ia melihat Ella yang pergi dengannya menggunakan celana yang sudah Devan duga sedikit tidak nyaman jika dipakai wanita dengan perut yang sudah sedikit membuncit itu.
Ella menatap dirinya sendiri, karena memang benar sekarang dia tidak nyaman dengan celana yang ia pakai sekarang. Tapi pakaian hamil untuknya kebanyakan adalah daster, dan celana yang dibelikan nyonya Alendra waktu itu habis sudah ia pakai kemarin-kemarin. Jadi terpaksa Ella memakai pakaian ini dengan sangat hati-hati agar tidak menekan perutnya.
"Saya sudah ada, hanya saja habis saya pakai kemarin. Jadi masih ada di mesin cuci dan belum sempat saya cuci." ujar Ella yang tentu saja dengan otomatis akan mendapatkan tatapan datar dari Devan yang sudah dari sono nya datar terus ekspresi wajahnya.
Namun tatapan datar dari Devan, malah mampu membuat Ella kelabakan sendiri. Ya entah kenapa rasanya aneh saja ditatap Devan seperti itu, padahal sudah biasa baginya yang sudah hidup seminggu lebih dengan Devan. "Emm, lebih baik kalau kita pergi ke rak sabun." ujar Ella segera melewati Devan dan kembali memimpin jalan.
Sampailah mereka di rak sabun yang Ella maksud. Dengan penuh kehati-hatian, Ella mengingat sabun apa saja yang sudah habis dirumah. Dari sabun cuci mukanya juga ia hitung. Dan disinilah Ella harus merutuki dirinya yang mempunyai tunggi 1,52m. Karena apa? Ya tentu saja karena sabun cuci baju yang sering dipakainya berada di rak yang tingginya melebihi tinggi badannya.
Tentu saja Ella langsung mendongak menatap Devan yang juga menatapnya. Benar, setinggi itu Devan untuknya yang kecil. "Ehem, sepertinya tiga sudah cukup." jawab Ella yang menyudahi acara tatap-tatapan itu.
Sampailah sekarang mereka di kasir tempat membayar semua barang yang mereka beli, dengan Devan yang setia berada dibelakang Ella sembari mendorong troli yang lumayan berat karena belanjaan mereka yang terbilang banyak. "Ini pakailah." ujar Devan sembari menyodorkan kartu berwarna hitam untuk Ella yang sudah bersiap meraih dompetnya.
"Eh, tidak perlu. Saya rasa saya punya uang cash nya." tolak Ella yang terkejut dengan Black card Devan yang ada didepan matanya.
"Bisa pakai ini kan?" tanya Devan pada kasir yang sekarang matanya berbinar terang karena melihat Black card yang baru pertama kali ia lihat secara langsung.
"Bi-bisa,Tuan." jawab kasir itu yang langsung mengambil kartu itu setelah Devan menyodorkannya.
Terlihat Ella segera menutup tasnya karena Devan sudah membayar belanjaan ini. Setelah gesekan kartu itu selesai, Devan memberi isyarat pada kasir perempuan itu untuk memberikan kartunya pada Ella. "Eh kok diberikan pada saya?" kaget Ella yang langsung menatap Devan dengan tanda tanya yang besar.
__ADS_1
"Pakailah, kau harus membeli pakaian kan habis ini?" jawab Devan membuat Ella melongo. Namun tak lama, dirinya tersadar karena Devan yang sudah mendorong kembali troli yang berisi kantong-kantong belanjaan mereka.
"Saya benar-benar tidak perlu pakaian lagi, Devan." ujar Ella yang masih bernegosiasi dengan Devan yang sekarang menatapnya dingin seolah mengatakan tidak ada penolakan untuk itu.
Daripada membuat heboh supermarket ini, Ella memilih diam saja sembari tangannya bergetar karena memegang black card dari Devan. Sampai akhirnya mereka turun ke parkiran dan memasukan belanjaan tadi kedalam mobil.
"Saya sungguh-sungguh...."
"Sudah sampai sini dan kau masih ingin menolaknya?" sela Devan dengan cepat, yang langsung membuat Ella bungkam. Sungguh, sangat sungkan jika seperti ini. Orang tua Devan saja sudah sangat baik untuknya, dan sekarang Devan akan bertindak seperti itu juga?
Aneh, hari ini memang sangat Aneh bagi Ella. Walaupun mereka suami istri, tapi hubungan mereka tak lebih sekadar partner bertanggung jawab saja. Tapi perlakuan Devan hari ini, terasa sangat meresapi perannya sebagai calon ayah beserta suami yang baik bagi Ella.
.
.
.
.
.
Halo semua
Welcome back
Pantengin terus yaðŸ˜
Aku usahain deh biar up rutin
tp gk janjiðŸ˜
__ADS_1
Tunggu next ya
papayyy