You And Me And Destiny

You And Me And Destiny
Rasanya berbeda


__ADS_3

Dua manusia yang berada dalam satu ruangan itu, masih saling terdiam walaupun harusnya banyak yang mereka bisa mereka bicarakan. Sebatas topik pekerjaan kah, atau topik membahas mengenai rumah tangga mereka. Tapi tetap saja, mereka saling terdiam dan tak ada yang memulai pembicaraan terlebih dahulu.


"Canggung banget sih!" batin Ella yang sudah merasa tak enak sejak tadi.


Ella yang sudah selesai makan, memilih untuk berjalan-jalan untuk sekedar melihat proyek yang masih berlangsung. Daripada melihat Devan yang bahkan tidak melihatnya, lebih baik kalau melihat para pekerja yang ada diproyek kan?


Walaupun hanya sekedar melihat dari luar tenda, tapi tanpa disadari dari tadi ada sepasang mata yang melihat kearah Ella. Mengamati wanita hamil itu dari belakang dengan tatapan yang entah apa artinya. Dan perlahan tatapannya semakin tajam tanpa mengerti kalau wanita yang ia tatap sejak tadi sudah berbalik menatapnya.


Devan pikir, ia hanya berhalusinasi bahwa wanita itu berbalik. Tapi siapa sangat, wajah memerah langsung terlihat jelas di wajah Ella yang ditatap oleh Devan. "Devan?" ucap Ella yang langsung menyadarkan Devan.


Seketika Devan tersadar dan langsung menggelengkan kepalanya berulang kali. "Ah, apa kau sudah kenyang? Jangan biasakan tidak sarapan. Kau dan anak itu juga butuh makanan." ujar Devan tiba-tiba karena rasa malunya.


Ella hanya terkekeh melihat tingkah salting Devan yang menggemaskan. Baru kali ini Ella melihat wajah memerah Devan karena malu kepergok olehnya. Bahkan Ella tak pernah berpikir akan melihat wajah itu, karena Devan yang sangat dingin padanya.


"Emm, baiklah. Saya terlalu terburu-buru tadi, jadi saya tidak sempat untuk sarapan." balas Ella setelah mengakhiri tawanya.


"Apakah kau harus se formal itu denganku?" tanya Devan tiba-tiba yang membuat Ella tersedak ludahnya sendiri. Dan sungguh , itu pertanyaan yang sulit untuk Ella jawab. Apalagi mengingat posisinya yang hanya sekretaris, sedangkan Devan yang CEO mana bisa dia bersikap infomal seperti yang Devan harapkan?


"Maafkan saya, tetapi rasanya saya harus formal dengan anda. Karena kita hanyalah partner kerja sama perusahaan dan juga partner bertanggung untuk dia yang ada di perut saya." jawab Ella seadanya. Tapi tidak tau saja bahwa kata terakhir yang Ella katakan itu sangat membantu Devan tercengang.


"Partner bertanggungjawab?" tanya Devan pelan pada dirinya sendiri. Tapi Ella yang mendengarnya, langsung mengangguk-anggukkan kepalanya polos dengan pelan seakan membalas apa yang Devan katakan.


Sedikit rasa tertusuk dihati Devan karena mendengar apa yang Ella katakan. Walaupun itu tak sepenuhnya salah juga, karena tujuan mereka menikah hanyalah karena anak yang ada di perut Ella. Dan kebetulan juga kalau perusahaannya akan bekerja sama dengan perusahaan tempat Ella bekerja.


"Hmm, lakukan semau mu saja." ujar Devan dingin sebelum ia pergi keluar dari tenda dan meninggalkan Ella sendiri didalamnya.

__ADS_1


Ella yang melihat kepergian Devan, merasa sedikit curiga dengan ekspresi dingin lelaki itu. Bagaimana bisa seseorang seperti Devan berwajah dingin pada semua orang? Kalau normalnya orang akan berwajah dingin dengan orang yang tidak disukainya, tapi Devan? Sepertinya tak ada bedanya.


Melihat tenda yang sepi, Ella akhirnya memutuskan untuk menyusul Devan yang melihat-lihat proyek dari dekat. Ini juga keharusan untuknya, karena laporan yang ia kumpulkan harus detail dan sesuai juga.


Ella sudah sampai ditempat dimana Devan berada. Perlahan Ella mendekati Devan yang berdiri memandang proyek yang hampir jadi ini dengan keringat yang bercucuran. Mungkin karena siang hari yang lumayan panas ini, membuat Devan jadi sedikit berkeringat.


Tapi entah kenapa, Ella merasa harus mendekati Devan sekarang juga. Entahlah, tapi ada aroma manis yang nikmat di hidung Ella dan itu berasal dari Devan yang berada tak jauh darinya. Perlahan Ella mendekati Devan dengan langkah pasti, sampai akhirnya ia berjinjit untuk menyamakan tinggi hidungnya dengan leher Devan.


Devan yang belum menyadari keberadaan Ella, masih diam memandangi proyek didepannya. Ditambah pikirannya yang penuh dengan kata-kata Ella tentang partner bertanggungjawab tadi.


"Emmm~ parfum apa yang anda pakai?" ujar Ella yang akhirnya membuat Devan tersadar dan terkejut dengan keberadaan Ella yang sedang mengendus-endus lehernya yang banyak keringat.


"KAU!!" pekik Devan saking kagetnya.


Menatap sekeliling, Devan mengatur napasnya dan berusaha bersikap tenang walau jantungnya hampir copot saat itu juga. "Apa yang kau lakukan?" tanya Devan dingin pada Ella yang kini berdiri didepan Devan.


Ella yang ketakutan sendiri memilih untuk menundukkan kepalanya, sampai-sampai dia tidak melihat wajah merah dari Devan yang merasa aneh dengan dirinya sendiri. Sudah sering di pegang wanita, tapi kenapa Ella sangat berbeda dengan wanita lainnya.


Menghela napasnya sejenak, Devan mencoba mengerti dengan apa yang Ella alami sekarang. "Hmm, jangan kau tundukkan kepalamu seperti itu. Terasa seperti aku mau memakanmu hidup-hidup." ujar Devan yang sudah berhasil mengontrol dirinya.


Ella mengangkat wajahnya, terlihat warna merah dibawah mata yang tidak dia sadari bahwa ada aliran air yang membasahi pipinya. "Ah maaf, mungkin ini karena hormon. Saya sulit mengendalikan diri saya sejak hamil ini." ujar Ella sembari mengelap air mata yang ada di pipinya.


Entah kenapa tangan Devan terangkat untuk membantu menghapus air mata yang belum di seka oleh Ella. Kejadian itu, tentu saja dilihat oleh pekerja-pekerja yang sedang bekerja, dan juga Harcen yang tersenyum geli melihat tingkah Devan yang sangat jarang ia temui. Sangat lucu sampai ia merogoh sakunya untuk mengambil benda pipih untuk memotret kejadian langka ini. Tentu saja langsung melesat ke nomor milik nyonya Alendra dengan cepat.


Kembali ke Devan dan Ella, mereka berdua menjadi saling bertatapan seraya tangan kanan Devan masih mengusap pipi Ella dengan lembut. Tak lama setelah itu, Devan tersadar namun belum juga mengalihkan pandangannya agar terlihat natural dan normal-normal saja.

__ADS_1


"Kau masih belum menyeka yang bagian ini." ujar Devan membuat Ella langsung tersadar dan secara reflek menyentuh pipinya yang masih ada tangan Devan disana.


"Benarkah? sepertinya saya harus ke kamar mandi sekarang." ujar Ella yang langsung pergi meninggalkan Devan yang masih mematung.


Tangannya yang tadi dia gunakan untuk mengusap air mata Ella, ia lirik lalu ia kepalkan seperti menggenggam sesuatu."Apa mungkin hormon karena dia hamil juga membuatku tidak normal seperti sekarang?" batin Devan.


Entahlah, tapi rasanya tidak buruk juga untuk akrab dengan Ella. Sepertinya Devan tak perlu menjadi seorang yang harus waspada terhadap wanita itu, karena Ella benar-benar sudah berhati-hati dalam bertindak. Dan Devan mengira, bahwa ia dan Ella benar-benar harus berteman sekarang.


.


.


.


.


.


Halo???


Aku kembali👌


Apa yang terjadi dengan Papa Devan ya?


Jangan lupa like, komen dan juga vote deh!!

__ADS_1


Dadahhhh


__ADS_2