
Suara dengan nada tinggi mulai menusuk telinga Devan, suara yang tak ada dalam bayangannya sebelum ini. Suara apa lagi yang tinggi kalau bukan suara amarah dari sang ibunda dengan segala ceramah serta kritikannya.
Yap, setelah Devan menelpon orang tuanya langsung saja ibunya itu bergegas dan datang dan langsung menarik Devan serta langsung memberi sejuta kata didunia yang mampu menjebolkan telinga Devan. Sungguh rasanya Devan sudah lelah mendengarkan ini, tapi kalau dia tidak bicara bakal lebih sulit lagi sepertinya.
"Ma.."
"Tidak ada ma ma ma, kamu nggak lihat istrimu didalam lagi lemas begini gara-gara kamu yang teledor. Gimana nasibnya menantu dan cucuku kalau hidup tertekan denganmu seperti ini! Beruntung cucuku dan menantuku kuat, kalau sampai terjadi apa-apa pada mereka berdua sudah jelas kau yang akan aku hukum!" ceramah dari seorang Anggia Alendra.
"Mami tau kalau pernikahan kalian bukan dasar kasih sayang, tapi sudah ada pewaris Anderson yang harus dijaga bersama. Dan mami gatau apa yang ada dipikiranmu, tapi mami sudah terlanjur suka dengan Ella. Dia gadis baik, dan mami menyesal mendidikmu seenaknya sampai kamu bisa bertemu dengan Ella seperti itu." ujar Anggi yang sudah terlanjur kecewa dengan putra semata wayangnya.
Anggi menatap putranya yang kini menunduk, membenarkan ucapan wanita yang ia sebut ibu selama ini. Devan tak pernah menyangka sama sekali, kejadian seperti ini tak pernah ada di bayangannya selama hidupnya ini. Anggi dengan hati keibuannya, juga tak tega melihat anaknya yang merasa menyesal akan semua yang dia lakukan sendiri.
"Selesaikan masalah ini baik-baik, sejujurnya mami sudah bangga saat kamu mau mengakui dan bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan pada Ella. Dan sekarang, mami harap rasa bangga mami tidak sepenuhnya hilang." ujar Anggi sebelum akhirnya wanita paruh baya itu meninggalkan Devan yang terduduk lemas di depan ruangan Ella.
Mencari benda pipih di sakunya, Devan segera mengecek apakah berita-berita bodoh itu sudah hilang atau belum. Dan syukurlah, sudah selesai walaupun belum ditemukan siapa penulis komentar buruk itu.
Devan yang langsung teringat wajah kesakitan Ella, kini pria itu beranjak masuk ke dalam ruangan Ella. Menatap wanita yang masih tertidur itu dengan lekat dan membayangkan betapa sakitnya Ella tadi. Melihat wajah kesakitan itu saja sudah membuat Devan panik, apalagi merasakan rasa sakit itu.
Perlahan, mata yang awalnya tertutup akhirnya terbuka. Lenguhan terdengar saat sinar lampu dipadukan dengan warna cat putih menyerang pengelihatannya. Sembari menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya, Ella juga menerka-nerka apa rasa hangat yang menyentuh tangan kirinya itu.
Sudah bisa mengatur dengan pas, Ella mulai melihat wajah Devan yang menatapnya dengan tatapan kosong. Pria itu benar-benar seperti mayat sekarang, bahkan tidak berkedip sama sekali. Apa sekarang Ella sudah di alam baka? atau jiwanya sudah terpisah dengan tubuhnya? Bagaimana bisa pria itu tak melihatnya sudah bangun?
"Devan?" panggil Ella yang seketika membuat Devan tersadar dan mengedipkan matanya menandakan bahwa pria itu sudah sepenuhnya sadar dari lamunannya.
"Oh ya, apa masih ada yang sakit? Kau bisa beristirahat lagi." balas Devan membuat Ella semakin yakin kalau sekarang adalah alam baka.
Si balok es menanyakan kabarnya? Bagaimana mungkin bisa begitu? Tapi jujur saja, sekarang fokus Ella ada pada tatapan Devan yang berbeda dari biasanya.
__ADS_1
"Apa kamu menangis?" tanya Ella saat dirinya melihat garis merah di bawah mata Devan. Sedangkan Devan langsung menyeka bawah matanya yang tidak ada apa-apa untuk di seka.
"Apa kau pikir bagus menyembunyikan apapun sendiri?! Telingaku hampir jebol karena ceramah dari mami!" ujar Devan membuat Ella tersenyum. Yah, setidaknya sekarang ia sudah yakin kalau ini bukanlah alam baka. Melihat betapa sikap dinginnya pria itu sudah kembali seperti biasanya.
Ella mencoba bangun, tapi perutnya benar-benar masih terasa nyeri. Tapi beruntung Devan langsung peka dan membantunya agar bersandar. "Jika butuh apa-apa katakan padaku." ujar Devan sembari membetulkan bantal yang akan menjadi sandaran Ella.
"Terimakasih," ujar Ella yang kemudian terjadilah keheningan sementara, sampai saat pintu ruangan terbuka dan menampilkan seorang wanita paruh baya berjalan kearah mereka berdua.
"Mami?" sapa Ella dengan senyumnya pada wanita yang tak lain adalah nyonya Alendra dengan wajah lega keibuannya.
Segera nyonya Alendra mempercepat langkahnya dan langsung mengisyaratkan pada Devan agar dirinya bisa duduk di kursi tempat pria itu berada. Devan yang peka, langsung bangkit dan berdiri mempersilahkan ibunya untuk duduk ditempatnya tadi.
"Apa masih ada yang sakit?" tanya nyonya Alendra yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Ella.
"Ella sudah baik mami, dan juga bayi dalam kandungan Ella," balas Ella sembari mendaratkan tangannya di perut buncitnya, diikuti nyonya Alendra yang ikut mengusap perut buncit Ella dimana tempat cucu pertamanya berada.
Satu koper sudah memasuki kediaman keluarga Alendra, dimana koper itu berisikan baju milik Ella. Yap, saat ini Ella akan tinggal dirumah mertuanya. Tentu saja ini perintah dari nyonya Alendra yang mau memberi pelajaran kepada Devan sebagai suami Ella.
"Ayo masuk," ujar nyonya Alendra yang menyambut kedatangan Ella didepan pintu utama.
Ella melangkahkan kakinya dengan perasaan yang sungguh aneh. Bukan kali pertama Ella kesini, tapi rasanya Ella kehilangan satu hal yang ia rasakan saat pertama kali datang kesini. Apa faktor dari tidak ikutnya Devan kesini ya? Rasanya hambar saja tidak ada pria itu disampingnya.
"Nah, kamu pakai kamar yang dibawah saja ya. Kasihan kamu sudah perut buncit gitu kalau harus naik tangga." ujar nyonya Alendra dengan senyum keibuannya.
"Iya mami, Ella tau kok kalau mami pasti sayang sama Ella." balas Ella dengan senyuman miliknya juga.
"Kalau ada apa-apa, kamu bisa langsung cari mami. Atau kamu bisa panggil mbok Nah buat bantu kamu ya?"
__ADS_1
Ella mengangguk yakin dengan apa yang ibu mertuanya suruh. Tapi bukan itu yang Ella pikirkan sekarang, tapi tidak adanya pria itu disampingnya langsung membuat perbedaan hawa yang kentara sekali untuknya. Jika biasanya malam begini Ella akan sibuk menyiapkan makanan untuk Devan, tapi sekarang Ella malah kepikiran apa pria itu sudah makan atau belum.
"Mami, Ella masuk dulu ya buat naruh koper." pamit Ella pada nyonya Alendra.
"Iya, nanti langsung keruang makan ya." balas nyonya Alendra yang sudah pasti langsung diangguki Ella.
Didalam kamar, Ella merasa maju mundur dengan keputusannya. Dengan ponsel digenggaman nya, Ella berpikir untuk mengabari Devan. Tapi untuk memulainya saja, sudah membuat Ella bingung sendiri apalagi kalau menanyai nya nanti.
"Kirim tidak kirim tidak kirim tidak kirim?"
.
.
.
.
.
Halo gaisss
Gimana dengan part ini?
Aa Devan sama teh Ella terpisah loh:(
Gimana nih lanjutannya:(
__ADS_1
Like dan masukkan favorit biar tau👌