
Lima orang dengan perasaan berbeda-beda, menatap layar hitam dengan titik-titik putih membentuk benda kecil seukuran biji beras. Semua orang terpana melihatnya, tak terkecuali Devan yang juga terpana menatap benda kecil dilayar itu. Sejak tadi, tatapan semua orang tak teralihkan dari layar gelap itu.
"Wah, cucu Alendra sudah terlihat." goda dokter Monika sembari menggerak-gerakkan alat diperut Ella yang tertutup selimut karena Ella sedang memakai dress.
"Aku akan jadi Grandma!!" pekik nyonya Alendra dengan kedua tangannya yang menutup mulutnya sendiri saking senangnya. Sedangkan tuan Alendra manggut-manggut menyetujui apa yang istrinya katakan.
"Oh iya, foto-foto!!!! Kamera mana kamera?? Harus diabadikan ini!!!" gemas nyonya Alendra yang sekarang sibuk mencari ponsel miliknya. Setelah menemukan ponselnya, dengan cepat nyonya Alendra memotret layar USG dengan jari telunjuk dan jempolnya membentuk salanghae.
Dokter Monika menepuk jidatnya melihat aunty kesayangannya bertingkah tidak sesuai umurnya. "Aduh aunty, ingat umur dong!" ujar dokter Monika yang sama-sama gemasnya melihat aunty kesayangannya yang selalu berulah.
"Biarin!"
"Wah, son. Lihatlah benda kecil ini, sangat kecil tapi hidup." ujar tuan Alendra dengan menepuk pundak Devan yang sedari tadi terdiam menatap layar USG. Tentu saja hal itu mengejutkan Devan! Tapi dengan cepat, pria itu menetralkan dirinya kembali seperti tidak terjadi apa-apa.
Devan menoleh menatap ayahnya yang sedang memperhatikan layar USG lagi. Senyum pria paruh baya itu, terlihat jelas dan bahagia dimata Devan.
"Apa bisa Ella menikah kalau sedang hamil?" tanya Devan sembari mengalihkan pandangannya pada Ella yang terbaring di ranjang pemeriksaan. Walaupun matanya kearah Ella, tapi pertanyaannya menjurus pada semua orang yang ada di dalam ruangan ini.
Helaan nafas terdengar, dan pelakunya pasti nyonya Alendra. "Kita akan adakan pernikahan sederhana saja," ujar nyonya Alendra yang sebenarnya tidak puas dengan jawabannya. Ia sungguh ingin anak semata wayangnya menikah dengan meriah, tapi karena perbuatannya sendiri membuat mempelai wanita tidak boleh banyak bergerak atau sampai kecapean.
Devan mengangguk paham dengan apa yang ibunya katakan. Sedikit keuntungan untuknya juga agar tidak terlalu lelah nantinya. "Baiklah, memang lebih baik begitu."
"Izin menyela!!!! Apa mau di print gambar ini?" tanya dokter Monika pada semua orang.
"Tentu saja harus!" jika kalian mengira nyonya Alendra yang menjawab, kalian salah. Tuan Alendra dengan antusias menjawabnya. Rasanya, ini adalah foto pertama cucunya. Tentu saja harus diabadikan!
......................
"Aku akan mengantarkan Ella," ujar Devan setelah keluar dari rumah sakit.
"Hemm, hati-hati dijalan. Jaga cucuku dengan baik, jangan sampai ada lecet sedikitpun!" peringatan tegas dari nyonya Alendra untuk Devan. Devan berdecih dengan sikap ibunya yang terlalu berlebihan.
__ADS_1
"Mama, saya pulang dulu." pamit Ella pada nyonya Alendra dengan lembut.
Senyum nyonya Alendra langsung merekah saat beralih pada Ella. Menantu idaman yang ia cari-cari untuk putranya. "Iya, kapan-kapan datanglah kerumah. Akan sangat senang kalau kamu bisa datang ke rumah dan menemaniku." ujar nyonya Alendra dengan semangat.
"Iya, saya akan datang kalau ada waktu." balas Ella dengan senyumnya.
"Oh iya, Papa saya pamit pulang dulu." ujar Ella yang beralih pada tuan Alendra. Ella masih sedikit canggung dengan tuan Alendra, mungkin karena wajah tua Alendra yang tegas sedikit menakutkan untuk dilihat. Tapi, sekarang Ella dikejutkan dengan elusan dikepalanya. Tangan besar itu, seakan mengusap rambut Ella seperti anaknya sendiri.
"Datanglah kerumah, dan tolong jaga cucuku." ujar tuan Alendra. Hati Ella sedikit tersentuh dengan beberapa patah kata yang tuan Alendra ucapkan, dan jangan lupa usapan itu yang menambah kesan menancap dihati Ella. Ella tersenyum dan mengangguk dengan tenang, walau dalam hatinya dia ingin menangis karena mengingat sosok ayah yang sudah lama pergi darinya.
Ella akhirnya berpisah dengan orang tua Devan. Satu mobil dengan Devan lagi, membuat Ella langsung terdiam. Jujur saja Ella itu sangat nol dalam sosialisasi, tapi jika berkaitan dengan kerja akan ia usahakan bisa bersosialisasi.Walaupun hanya sebatas membahas kerja yang akan dikerjakan.
"Tuan-"
"Devan." potong Devan dengan cepat saat Ella kembali memanggil Devan dengan kata Tuan.
"De-Devan, saya rasa ada yang perlu saya bahas denganmu." ujar Ella dengan serius.
Suasana di dalam mobil kembali hening. Hanya deretan bangunan tinggi yang menjadi pemandangan Ella sekarang. Tapi....
"DEVAN STOP!!!!"
CITTT ...
Mobil yang dikendarai Devan berhenti mendadak. Beruntung ini masih jam kerja, jadi jalanan tidak ramai dan bahkan seperti tidak ada kendaraan yang lewat. Devan menoleh kearah Ella, tapi Devan kembali bertanya-tanya setelah melihat kursi penumpang kosong. Dengan celingukan, Devan mencari keberadaan wanita itu sembari memarkirkan mobilnya dengan benar.
Devan turun sembari mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita yang membuatnya kesal sekarang. Matanya membulat saat menemukan wanita yang ia cari. Dengan tergesa-gesa, Devan berjalan menyusul Ella yang dengan santai berdiri di sebelah gerobak permen kapas sembari melihat permen kapas yang sedang dibuat.
"Demi ini kamu suruh aku berhenti?!" kesal Devan setelah sampai di sebelah Ella. Ella yang baru menyadari kedatangan Devan, tentu saja terkejut karena pria itu yang tiba-tiba berteriak kesal disebelahnya.
"A-Anu, saya melihat permen kapas. Ja-jadi saya meminta untuk berhenti." lirih Ella dengan terbata-bata saking takutnya dipelototi Devan. Berbeda dengan penjual permen kapas yang tertawa melihat pelanggannya yang terlihat lucu tapi kaku.
"Aduh tuan, istri anda sedang hamil ya?" tanya penjual permen kapas sembari memutar-mutar permen kapas dengan tongkat kecil warna-warni.
__ADS_1
Devan menghela nafasnya. Walaupun bodoh masalah wanita, tapi Devan tau kalau sekarang Ella sedang menyidam. Persis seperti kakak sepupunya dulu yang mengajak Devan mencari rujak alpukat sampai keliling kota.
"Berapa pak?" tanya Devan pada penjual permen kapas setelah melihat penjual permen kapas yang mematikan mesin permen kapasnya.
Sembari memberikan permen kapas pada Ella, penjual permen kapas itu melihat Devan dengan tersenyum. " Tidak perlu dibayar tuan, saya paham kalau Tuan sedang kesal. Istri saya dulu juga menyidam seperti itu, jadi saya paham bagaimana rasanya." ujar penjual permen kapas itu ramah.
"Wah, bapak baik!!! Terimakasih ya pak!" pekik Ella yang sudah menikmati permen kapas dengan khidmat. Berbeda dengan Devan yang merasa malu melihat reaksi Ella.
"Itu pak, saya beri kartu nama saya saja ya. Kalau bapak ada apa-apa, katakan saja pada saya." ujar Devan sembari memberi kartu nama miliknya. Ingin rasanya Devan memberi uang untuk penjual permen kapas ini, tapi pasti akan ditolak mentah-mentah. Agar tidak berutang, Devan rasa ini cukup untuk menanggung malunya.
"Haha Tuan, saya senang melihat Tuan yang sabar menghadapi istri Tuan. Semoga hari anda menyenangkan," ujar penjual permen kapas sembari menerima kartu nama dari Devan.
Sekarang Ella juga Devan, kembali menuju mobilnya untuk melanjutkan perjalanan yang tertunda karena sebuah permen kapas berwarna pink milik Ella. Devan kadang-kadang melirik Ella yang memakan permen kapasnya sembari melihat pemandangan kota, terlihat lucu seperti anak kecil yang mendapatkan es krim. Tanpa sadar, senyum tipis keluar dari bibir Devan.
Gadis yang satu bulan lalu meronta dari genggamannya, kini berada disampingnya dan akan menjadi istrinya. Rasanya lucu jika dibayangkan Devan. Tapi sekarang juga, pikiran-pikiran tentang Ella sudah menghilang dari benak Devan. Tidak seperti saat sebulan setelah ia tidur bersama Ella. Setidaknya begitu......
.
.
.
.
.
Misi foya visi foya😅
Para pembacakuuuu
Vote ku yukkk
Tinggalkan jejak, agar masuk di list hatikuuuu
__ADS_1