You And Me And Destiny

You And Me And Destiny
Saus tiram


__ADS_3

Didapur yang hanya dua orang penghuninya, Ella kembali memasak untuk dirinya sendiri. Jangan tanyakan dimana steaknya, karena steak miliknya sudah berada di dalam perut seorang pria yang baru datang dan langsung merebut steak miliknya. Lebih tepatnya Ella yang memberinya sih, karena kalau dipikir-pikir lagi jika dia memasakkan untuk Devan pasti steak miliknya sudah dingin. Jadi lebih baiknya miliknya menjadi milik Devan,


"Besok kau tidak perlu memasak lagi, aku akan memanggil beberapa pelayan untuk mu." ujar Devan sembari melihat Ella yang mondar-mandir saat memasak steak.


"Tidak perlu, saya lebih senang kalau seperti ini. Masak-masak itu kegiatan kesukaan ku kalau om dan tanteku tidak dirumah." jawab Ella yang masih sibuk memastikan steaknya matang dengan sempurna.


Bukan karena khawatir akan Ella, tapi mengingat gadis itu sedang mengandung itulah yang membuat Devan mau tidak mau membuang egonya. Entahlah, intinya Devan tidak mau sampai kena amukan ibunya kalau terjadi apa-apa dengan cucunya itu.


"Kalau begitu hati-hati, jangan sampai aku kena amukan mami gara-gara kau terluka." ujar Devan yang kini beranjak meninggalkan dapur. Jujur saja, Devan masih mengingat kejadian semalam. Rasanya seperti kembali menjadi diri sendiri untuk sekejap saja.


_______________


Kegiatan dirumah baru bersama Devan, sangatlah menyenangkan bagi Ella. Saat ini dia seperti merasakan arti kebebasan yang sesungguhnya. Devan yang mengurusi urusannya sendiri, membuat Ella juga bisa melakukan apa yang ia mau sendirian. Mengingat besok dia harus kembali bekerja, Ella mempersiapkan penggosok pakaian dan dibawanya ke ruang tengah.


Entah kenapa, Ella menyukai rumah ini. Terlihat simple , tapi sangat memuaskan matanya. Diruang tengah, Ella bisa sekalian melihat pemandangan diluar dari balkon yang ia buka tadi. Hamparan rumput hijau yang diterpa angin, membuat Ella serasa sedang berlibur sesaat.


"Sayang, apa kamu suka hmm?" tanya Ella pada bayinya. Sangat menyenangkan bagi Ella bisa berbincang dengan bayinya yang belum lahir, seperti moodnya langsung naik saat dirinya mengusap perutnya yang masih rata.


"Besok bantu mama ya, kita harus bekerja dulu. Nanti kalau kamu udah besar, kita istirahat okey?" ujar Ella dengan senyumnya dan jangan lupa dengan pekerjaannya sekarang. Baju kebesarannya, ia setrika dengan rapih agar PD saat bertemu karyawan yang lainnya.


Devan yang sejak tadi berada dilantai atas, turun saat merasakan haus di tenggorokannya. Angin yang masuk, membuat Devan menoleh pada sumber angin ini datang. Dan dilihatnya seorang gadis yang menjelma menjadi istrinya itu, sedang menyetrika dan sesekali tersenyum melihat kearah bawah.


"Apa yang gadis itu lakukan?" gumam Devan bertanya-tanya. Mengabaikan Ella yang sedang asik sendiri, Devan ingin menuntaskan keinginannya sendiri. Tapi saat kembali, telinga Devan terasa panas saat mendengar penuturan Ella.


"Besok bantu mama ya, kita harus bekerja dulu. Nanti kalau kamu udah besar, kita istirahat okey?"


Hal itu seketika membuat langkah Devan berhenti. Dilihatnya Ella masih tersenyum cerah sembari menuntaskan kegiatannya. Bekerja? rasanya harga dirinya hancur saat itu juga. Dan apa-apaan lagi ini? Dia menyebut dirinya mama? Lalu?


"Apa aku terlalu memanjakannya?" tanya Devan pada dirinya sendiri dengan pelan. Pikir Devan, jika dirinya dan Ella menjalani kehidupan masing-masing itu akan berjalan sempurna. Tapi entah kenapa, mendengar gadis itu masih melanjutkan pekerjaannya membuat Devan merasa kesal.


Devan mengabaikan saja Ella yang sedang menyetrika, ia memilih melanjutkan kegiatannya di kamar miliknya. Jika orang lain yang menjadi Devan, pasti punya beberapa pembantu dirumahnya. Tapi Devan dengan teliti memasukkan pakaiannya sendiri kedalam lemari miliknya, yap inilah kegiatan Devan saat ini.


Kini Ella sudah menggantung seragam kebesarannya di kamar yang diklaim menjadi miliknya. Lebih baik dibandingkan sebelumnya, terlihat nyaman dengan tempat tidur empuk tidak seperti yang ia punya dirumahnya. Ella mengusap perutnya sembari tersenyum bangga melihat mahakaryanya terlihat rapih didepannya. Tatanan kamar yang sangat Ella senangi.

__ADS_1


Suasana sore hari membuat kamar milik Ella dipenuhi warna jingga karena sinar matahari yang masuk dari jendela besar dikamar itu. Ella melihat jam dindingnya dan menyadari kalau dia harus segera memasak.


"Emm, kamu mau makan apa?" tanya Ella dengan mengusap perutnya. Ella memejamkan matanya, seakan sedang berkomunikasi dengan bayinya di alam lain. Sebuah aroma seketika tercium diindra penciuman Ella. Sekarang Ella tau kalau anak yang ada didalam perutnya sedang ingin makan...


"WAH!! KAMU MAU NASI GORENG HONGKONG?" pekik Ella dengan riang. Mampu memahami keinginan anaknya, lebih indah daripada menghasilkan banyak uang untuknya sendiri.


Ella tersenyum dan mulai berjalan ke arah dapur. Ella mencoba mencari-cari bahan yang dia perlukan. Seperti saus tiram, wortel, jagung, sedikit udang dan lainnya. Beberapa bahan sudah Ella temukan, tapi saus tiram yang wajib ada malah belum ia temukan.


"Apa di lemari atas itu ya?" tanya Ella pada dirinya sendiri sembari melihat kitchen set yang tertata sebegitu rapihnya.


Ella mencari cara agar dirinya yang notabene pendek itu bisa sampai ke lemari yang tempatnya ada diatas kompor. Perlahan Ella menaikkan kakinya kursi yang ada didekatnya. Membuka lemari itu, Ella melihat saus tiram yang ia cari-cari sejak tadi. Tapi.....


"Apa yang kau lakukan disitu?"


Deg...


Ella terkejut dengan pertanyaan itu. Beruntung dia bisa menjaga keseimbangannya, lalu menoleh pada orang yang membuat jantungnya hampir copot. "Huh, anda membuat saya terkejut saja!" kesal Ella dengan tangannya yang sudah membawa botol saus tiram.


"Hmm, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Devan lagi sembari menatap Ella yang membawa sesuatu ditangannya.


Ella yang terlampau kesal, akhirnya memilih untuk cepat turun karena ia juga sudah mendapatkan apa yang ia cari. Tapi sebelum itu, entah kenapa Ella merasa jika kursi yang ia gunakan untuk berpijak terasa tinggi. Menelan ludahnya, Ella mencoba menurunkan satu kakinya, tapi alhasil dirinya semakin takut.


Melihat Devan yang menatapnya, hanya ada satu cara agar dua bisa turun. "Devan, apa saya boleh minta tolong?" tanya Ella dengan tatapan memohon.


Devan yang mendengar permintaan Ella, menaikkan sebelah alisnya. "Tolong apa?"tanya Devan membuat wajah ceria Ella terpancarkan sekarang. Jika bertanya begitu, sudah pastikan kalau Devan akan membantunya?


"Itu, saya tidak berani turun." jawab Ella dengan cengirannya.


krikk krikk....


Memang terlihat aneh jika mendengar pertanyaan Ella. Kalau dilihat, kursi yang dipakai Ella itu tidak bisa dibilang tinggi. Untuk naik saja Ella bisa, tapi kenapa tidak untuk turun? Padahal tinggi kursinya tidak bertambah juga!


Demi menyelamatkan nyawanya dari amukan ibunya, Devan memilih mengalah saja. Walaupun dalam hatinya ia ingin mengomeli gadis didepannya ini. Dengan penuh keterpaksaan, Devan menyodorkan kedua tangannya agar Ella bisa berpegangan. Dengan hati-hati juga, Ella meraih kedua tangan Devan dan akhirnya turun dengan selamat~

__ADS_1


Eh, tapi...


Pluk....


Bukan jatuh dari kursi seperti cerita lainnya, sekarang malah Ella jatuh menimpa Devan setelah turun dari kursi. Entah kenapa, kakinya terasa lemas dan akhirnya jatuh begitu saja. Tapi untungnya...


"Aww!!" pekik dua orang yang sekarang tertidur dilantai bersama. Beruntung, Dada bidang milik Devan, mampu menompang diri Ella agar tidak mencium lantai. Tapi tetap saja sekarang rasanya, Ella....


Tatapan keduanya bertemu, rasanya baru sekarang Ella melihat mata Devan. Begitu bersinar dengan bola mata berwarna biru. Begitu juga dengan Devan, yang menatap mata berwarna coklat keemasan milik Ella. Posisi yang sangat intens, tidak membuat mereka melepas diri sekarang. Tapi seketika Devan,


"Apa kau pikir dirimu tidak berat?" sindir Devan yang tersadar dari tatapannya. Devan tersadar karena memori malam pertamanya yang hanya diketahui Devan seorang.


"Hah? aduh iya maafkan saya." ujar Ella yang kemudian bangkit dan merapikan rambutnya. Setelahnya, giliran Devan yang berdiri dan memutar tangannya yang sedikit ngilu karena terbentur lantai yang keras dan tertimpa beban yang berat.


"Apa ada yang sakit? Aduh maafkan saya, tiba-tiba kaki saya lemas. Aaaa! Bagaimana ini??" panik Ella yang mencoba memijat perlahan lengan Devan.


"Tidak. Lanjutkan saja kegiatanmu! Aku ada urusan." ujar Devan yang akhirnya memilih pergi meninggalkan Ella yang menatapnya bingung.


"Tunggu, apa tadi wajahnya memerah?"


.


.


.


.


.


Hola.....


Haloooooo

__ADS_1


Coming again😂


Harap kalian suka...


__ADS_2