
Ini kali kedua Ella diantarkan pulang oleh Devan. Rasanya canggung sekali, bahkan setelah Devan mengajaknya menikah tadi rasanya belum hilang. Walaupun Ella belum menjawab dengan pasti ajakan Devan, tapi mau bagaimana lagi anak yang ada dikandungnya butuh identitas orang tua kandung.
"Persiapkan dirimu. Besok kau akan ikut denganku ke rumah orang tuaku. Dan jangan khawatir untuk masalah proyek." ujar Devan sebelum ia menginjak gasnya.
Ella masuk kedalam rumah dalam keadaan hati yang sangat gelisah. Memikirkan besok saja membuatnya sangat bimbang, apalagi memikirkan ini hari pertama ia tidur dalam keadaan ia tau kalau sedang hamil. Walau begitu, Ella cukup bersyukur karena hari ini ia tidak pulang terlalu larut.
"Dianter siapa?" pertanyaan yang menyambut kedatangannya. Siapa lagi kalau bukan tantenya yang bertanya seperti itu!
"Sama temen, tante." jawab Ella. Tante Eka hanya manggut-manggut saja, membuat Ella segera berjalan masuk menuju kamarnya dan bersiap untuk membersihkan rumah yang sudah menjadi rutinitasnya.
...----------------...
Keesokan pagi yang cerah, Ella sudah berada di halte bus. Tapi bukan bus yang ia tunggu, melainkan seorang pria yang memberinya perintah tepat tadi malam. Ella hanya memakai pakaian formal dengan lengan panjang dan celana panjangnya. Jujur, ia bingung harus memakai apa untuk menemui orang tua Devan.
"Apa begini saja benar-benar cukup ya?" gumam Ella sembari melihat lengan dan celana yang ia pakai.
Masih mengamati penampilannya, Ella tak sadar jika mobil putih dengan atap terbuka sudah bertengger didepannya. Benar-benar Ella merasa jika dirinya tidak pantas berjumpa dengan keluarga kaya seperti keluarga Devan.
"Kau mau naik, atau aku junjung kau!" suara bariton itu, langsung menyadarkan Ella. Dengan cepat Ella mendongak dan mendapati Devan yang menatapnya.
"Saya akan naik sendiri, Tuan." jawab Ella dengan cepat.
Ella masuk kedalam mobil dengan perasaan gelisah. Devan yang menyadari tingkah Ella yang aneh, akhirnya mengerti saat Ella selalu memandangi baju yang ia pakai. Dengan senyum tipisnya, Devan berpikir jika Ella tidaklah seperti wanita yang ia kenal. Ella berbeda daripada mereka.
"Tenang saja, aku akan bawa kau cari baju." ujar Devan membuat Ella terkejut.
"Eh, tidak-tidak! Saya malah tidak nyaman nantinya." tolak Ella yang merasa malu karena ketahuan.
Devan tertawa kecil mendengar penolakan Ella yang terdengar lucu. Bahkan Devan sudah merencanakan dari kemarin untuk membawa Ella ke butik. Tentu saja Devan juga ingin memberi kesan yang sempurna didepan orang tuanya.
__ADS_1
"Anggap saja ini hadiah dariku." ujar Devan yang membuat Ella bungkam. Ingin menolak lagi, tapi pasti ujungnya Devan akan memaksanya. Mau tidak mau, Ella diam saja agar semua segera selesai.
Tak lama, mobil berhenti di depan butik ternama di negara ini. Ella sendiri pernah menginjakkan kaki disini hanya karena mencari hadiah untuk istri dari atasannya yang ulang tahun. Tentu saja itu pakai uang atasannya, dan Ella hanya diperintah karena kodratnya sebagai wanita.
"Tuan, saya rasa ini tidak perlu." tolak Ella yang tau pasti harga satu baju di butik itu saja hampir mendekati gajinya.
"Kau akan bertemu orang tuaku." jawab Devan yang berjalan mendahului Ella. Ella yang tidak mau terkunci didalam mobil, akhirnya memilih untuk ikut saja dengan apa yang direncanakan Devan.
Saat memasuki butik, ia disapa para karyawan yang tersenyum ramah padanya. Dan jangan lupa dress - dress indah yang menyapu netranya. Tidak salah kalau atasannya dulu menyuruhnya untuk mencarikan hadiah istrinya disini. Karena apa? Emang sebagus itu.
Ella yang berjalan pelan-pelan sembari melihat dress - dress yang berjejer di sepanjang jalannya, tak menyadari jika ada sepasang mata yang menatapnya. Siapa lagi kalau bukan Devan! Pria itu memandangi Ella yang sesekali menyentuh dress yang bisa saja wanita itu sukai. Walaupun dress disini terlihat simpel, tapi sangat elegan jika dipakai.
"Apa kau sudah selesai memilih?" tanya Devan yang mengejutkan Ella. Ella terjengkat, lalu mengeluarkan cengiran khasnya.
"Tuan, saya rasa semua ini tidak perlu. Dress disini terlalu.."
"Aku sudah bilang tidak ada penolakan bukan?!" jawab Devan cepat.
Saking kesalnya, Devan akhirnya memanggil salah satu karyawan dan memintanya untuk mencarikan dress yang cocok untuk Ella. Dan benar saja, karyawan itu langsung menarik Ella dan membawanya keruang ganti.
"Tuan, apa tidak apa-apa kalau saya pakai seperti ini?" tanya Ella yang sedikit malu dengan penampilannya. Berbeda dengan Devan yang sebenarnya terpana melihat Ella yang terlihat berbeda dari biasanya. Walau ia pernah melihat gadis itu tanpa sehelai kain, tapi tetap saja saat itu ruangan hanya remang-remang.
"Tidak. Cepatlah!" ujar Devan yang sebenarnya sudah tidak bisa berkata-kata lagi saking terpananya melihat Ella. Ingat ya kalau Devan juga pria normal! Melihat cewe cantik, tentu saja hatinya tidak bisa munafik!
Devan berjalan dulu menuju kasir untuk membayar baju yang dikenakan Ella. Sedangkan Ella segera menyusul Devan yang sudah jalan duluan.
Dalam perjalanan, Ella terdiam sembari melihat kearah luar. Mengerti kegelisahan Ella, Devan mencoba untuk memenangkan gadis itu agar tidak perlu takut dengan orang tuanya. Bahkan kemarin saja, satu bogeman sudah mendarat sempurna di pipi Devan saat Devan memberitahu orang tuanya kalau ia sudah menghamili gadis polos seperti Ella.
"Jangan terlalu cemas," ujar Devan dingin namun berkesan khawatir. Ella menghela nafasnya untuk mengurangi kegelisahannya. Tapi tetap saja, ini pertama kalinya ia bertemu langsung dengan orang tua pria. Pacaran saja tidak pernah, dan sekarang menikah?
"Tuan, apa tidak apa-apa kalau saya tidak membawakan sesuatu untuk orang tua anda?" tanya Ella yang sejak tadi sudah dipikirkan gadis itu disepanjang jalan.
__ADS_1
Devan sesekali menoleh pada Ella. Melihat raut wajah Ella, membuat Devan hampir saja kehilangan kendali. " Tidak." jawab Devan cepat.
"Dan juga, mulai sekarang panggil aku Devan. Jangan panggil aku Tuan lagi jika didepan orang tua ku." lanjut Devan.
"Iya Tu- Devan." jawab Ella sedikit salah diawal.
"Dan jangan gunakan bahasa formal padaku!" ingat Devan lagi pada Ella. Ella mengangguk setuju, lagipula ini demi anak yang ia kandung. Kalau bukan demi identitas anaknya kelak, Ella bahkan tidak sudi untuk bertemu Devan.
Tak terasa, mobil Devan sudah berhenti didepan restauran yang terkenal di negara ini. Rasanya Ella seperti tidak sanggup untuk menginjakkan kaki di tempat mewah seperti ini. Sudah butik mewah, dan sekarang ia juga harus masuk kedalam restauran mewah juga?
Ella dan Devan turun dari mobil. Berjalan beriringan membuat Ella merasa gugup, seketika tangan Ella sudah bertengger dilengan Devan. "Aww!!!!!"
Pekikan itu, membuat Ella langsung melepaskan tangannya. Dilihatnya Devan yang meringis kesakitan. Seketika Ella teringat kalau kemarin ia belum sempat mengucapkan maaf pada Devan karena tangan lelaki itu yang terluka karena menyelamatkannya.
"Tuan, maafkan saya." ujar Ella cepat sembari meniup-niup luka Devan yang tertutup kemeja.
Melihat itu, Devan sedikit terperangah. Tapi dengan cepat Devan menarik tangan Ella dan menaruhnya dengan perlahan di lengannya. "Jangan lupa untuk memanggilku Devan."
.
.
.
.
.
Holaaaaaa
Makasih buat yang udah mampir
__ADS_1
Tinggalkan jejak kalian disini yaaaaaa
Tambahkan dalam favorit yaaaaaa