
Mulai hari ini, Elsa tinggal di apartemen tempat dirinya bekerja. Elsa menyulap ruang perpustakaan untuk menjadi kamar sementara nya.
Ruang itu cukup lega untuk Elsa tempati. Elsa menata beberapa bajunya ke dalam lemari kecil yang memang tidak terisi apapun dan menyisakan sisanya rapi di dalam tas besarnya.
Setelah semuanya selesai, Elsa bergegas membersihkan diri dan bersiap pergi ke kampus. Kali ini jarak untuk ke kampus lumayan jauh, Elsa harus dua kali menaiki angkutan umum untuk sampai ke tempat tujuannya.
Sesampainya di kampus, Elsa berlari kecil agar tidak telat memasuki kelas mata kuliahnya pagi ini.
Pukul dua siang, Elsa sudah selesai mengikuti semua mata kuliah hari ini, ketika Elsa berdiri di halte untuk menunggu angkutan umum, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya.
Seorang wanita paruh baya dengan penampilan yang elegan layaknya ibu-ibu sosialita keluar dari mobil tersebut. Tas jinjing bermerk terkenal dengan harga yang fantastis melingkar apik di lengannya, jemarinya yang lentik dihiasi batu permata yang sangat indah, tidak lupa kacamata hitam bertengker di hidung mancung nya.
" Apa kamu yang bernama Elsa? " wanita itu menghampiri Elsa.
Elsa mengernyitkan keningnya. " Kenapa dia tau nama ku? siapa dia? " batin Elsa.
" Hello.. aku bertanya pada mu. " wanita itu menjentikan jarinya tepat di wajah Elsa yang masih tak bergeming.
" Ah,, iya apa? " jawab Elsa gugup.
" Apa kamu yang bernama Elsa Miranda? " tanya nya sekali lagi.
" Iya bu, saya Elsa, anda siapa ya? " Elsa.
Wanita paruh baya itu memndangi tubuh Elsa dari atas sampai kebawah seraya menilai penampilannya dengan sedikit mengendurkan Kacamata hitamnya.
Wanita itu menghela nafas setelah puas meneliti Elsa. " Apa kamu kenal dengan putraku? Adrian? " jelas Wina, ya wanita paruh baya itu adalah Wina ibu dari Adrian.
Elsa membulatkan kedua matanya, seluruh tubuhnya bergetar, tidak tau harus berbuat apa. Harus senang atau sedih bertemu dengan mertuanya itu.
Nyali Elsa menciut bertemu dengan mertuanya yang sangat terlihat glamour, terlihat jelas sudah perbedaan yang sangat jauh antara dirinya dan Adrian.
" Apa dia akan melabrak ku karena dekat dengan putranya? apa dia akan menampar ku? apa dia akan melempar segepok uang dan menghinaku seperti yang ada di sinetron-sinetron? " batin Elsa.
" Hey.. kenapa kamu diam! " seru Wina. " Ayo ikutlah dengan ku.. " Wina menarik lengan Elsa dan mengajaknya ikut dengannya.
Di dalam mobil, hanya ada keheningan di antara mereka. Butuh waktu dua puluh menit mobil itu berlaku dan berhenti di sebuah restoran yang sangat mewah.
" Ayo.. kita ngobrol di dalam.. " ajak Wina seraya keluar dari mobilnya setelah di bukakan pintu oleh supirnya.
Elsa hanya mengangguk menurutinya.
Di dalam restoran, Wina membuka pembicaraan. " Nggak usah gugup, mama gak akan makan kamu kok! "
__ADS_1
" Mama? maksudnya? "batin Elsa.
" Apa kamu mencintai anak ku? " tanya Wina. Namun Elsa masih diam tidak membuka suaranya.
Wina menghela nafasnya kasar. " Aku sudah tau, kamu sudah menikah dengan putraku. "
" Tante.. maaf, pernikahan kami terjadi karena kesalah pahaman. Tante tenang saja , aku akan menuruti kemauan tante untuk meninggalkan Adrian. " ucap Elsa.
" Siapa yang nyuruh kamu tinggalin Adrian putra ku! justru tante seneng, Adrian menikah dengan mu, meski penampilan mu itu membuat tante pusing, tapi itu tidak masalah. " ujar Wina.
" Tapi tan.. "
" Mulai sekarang panggil Mama jangan tante lagi. "
Elsa tersenyum dengan perlakuan Wina yang diluar dugaannya. " Baik tan.. eh.. Mama.. "
" Kamu anak yang manis pantas saja Adrian sangat menyukaimu. " ujar Wina yang membuat Elsa tersedak.
" Putra ku memang bukan pria yang baik, tapi mama yakin kamu bisa merubahnya menjadi lebih baik. " Wina mengenggam tangan Elsa seolah memberi dukungannya.
Elsa hanya terseyum menanggapinya.
" Habis ini, temenin mama shoping ya.. " ajak Wina yang di angguki oleh Elsa.
Wina tampak asyik memilih pakaian di salah satu outlet dengan brand terkenal tanpa melihat berapa harga yang tertera.
Elsa yang sedari tadi mengekori Wina hanya menurut saja, kesana kemari mengambil apa yang di lihat yang menurutnya bagus.
" Elsa, cobalah gaun ini.. " Wina menyodorkan gaun cantik berwarna merah maroon.
" Mama, aku gak terbiasa memakai gaun seperti ini. " lirih Elsa sembari menatap gaun yang sedikit terbuka si arean punggung.
" Mulai sekarang kamu harus terbiasa. Kamu harus tampil cantik biar Adrian gak berpaling ke wanita lain, " ucap Wina yang membuat Elsa tersadar apa yang di katakan mertuanya itu benar.
" Iya ma.. " Elsa meraih gaun itu dan mencobanya di fitting room.
" Nah gitu kan cantik, kepala mama jadi gak pusing liat kamu pake celana jeans jadul begitu. " ucap Wina. Elsa hanya terseyum menanggapinnya .
" Apa aku pantes memakai gaun seperti ini ma? "
" Tentu saja, kau terlihat sangat cantik Elsa, tidak salah Adrian menyukai keaslian mu. " ucap Wina.
" Mama bisa aja.. "
__ADS_1
" Ck, kamu gadis yang paling cantik yang pernah dekat dengan Adrian. Putra ku itu terlalu bodoh, bisa-bisa nya dia berkencan dengan para wanita berwajah palsu.. "
" Maksud mama? "
" Iya, wajah palsu. wajah hasil oplas! gak seperti kamu cantik dari lahir tanpa polesan make up sekali pun. " Wina tersenyum. " Tapi mama gregetan ngliat kamu, pengin mama poles dikit, boleh ya? "
" Hah?? " Elsa belum mengerti apa yang di ucapkan Wina.
Wina membawa Elsa ke perlengkapan kosmetik. " Nih.. kamu pake lipstik dikit.. biar tambah fresh dilihatnya. " ujar Wina sembari memilih berbagai warna lipstik dan memasukannya ke dalam ranjang.
" Ma, ini terlalu banyak. "
" Biar koleksi mu banyak, " jawabnya singkat. " Ini juga perlu.. ini.. ini.. ini... " Wina membeli semua perlengkapan alat make up selengkap lengkapnya yang mungkin Elsa sendiri tidak tau cara memakainya.
" Kamu harus terlihat cantik setiap saat, jangan mau kalah dengan wanita uler keket itu, biar Adrian semakin nempel ke kamu. " celoteh Wina.
" Uler keket? siapa dia? Andrian nempel terus ke aku, bahkan aku sangat menghindari nya. " batin Elsa.
Wina tak lupa mengajak Elsa ke salon untuk merawat dan memanjakan tubuhnya.
Elsa benar - benar tidak menyangka jika Wina memperlakukannya seperti putrinya sendiri, Elsa merasa beruntung dan merasa Wina menjadi pengganti ibunya yang telah tiada.
" Elsa, ikut mama pulang kerumah ya, papa pasti seneng liat kamu. " ucap Wina pada Elsa yang baru saja keluar dari mall.
" Emm.. tapi ma.. "
" Tenang aja, papa gak galak kok. " Wina terkekeh melihat ketakutan di raut wajah Elsa.
" Bukan begitu ma, "
" Lalu kenapa? semua akan baik-baik aja kok, jangan berfikir yang aneh aneh.. nurut aja sama mama. "
" Iya mah.. "
" Gitu dong...menantu mama harus nurut. "
Wina dan Elsa meninggalkan mall dengan membawa beberapa paperbag yang berisi kebutuhan Elsa. Tentu saja Wina yang membelikannya agar Elsa berpenampilan seperti yang Wina mau.
***
Vote Vote Vote.. jangan pelit2 ya.. 😁😁
bye.. bye..
__ADS_1