Adrian Haidar

Adrian Haidar
S2 Menunggu


__ADS_3

" Rin, kamu mau kemana lagi? " tanya Adrian yang melihat kaka perempuan nya itu belum lama tiba di rumah dan akan pergi lagi.


" Aku mau nginep di rumah Lisa. " Karin berbohong akan menginap di rumah salah satu temannya.


" Jangan bohong kamu! " sarkas Adrian yang melihat gelagat Karin terlihat mencurigakan.


" Mas.. " sela Elsa mengingatkan.


" Idih Gak percayaan baget sih! kalo gak percaya, nih ngomong langsung sama Lisa. " Karin menyodorkan ponselnya seraya menyuruh Adrian menanyakan kebenarannya pada Lisa, meski ada perasaan was-was jika Adrian sampai melakukannya.


" Sudahlah mas, lagian kak Karin kan bukan anak kecil lagi.. " ucap Elsa dengan mulut yang takut henti menyantap buah-buahan segar.


Bukannya mengekang Karin, Adrian bersikap seperti itu demi kebaikan Karin apalagi Wina dan Jordan tidak ada di rumah, Adrian lah yang menggantikan tanggung jawabnya atas Karin, meski usianya sudah terbilang sangat dewasa.


" Awas ya! kalo kamu macem-macem! apa lagi sama si buluk itu! " ancam Adrian.


" Iya.. " jawabnya.


" Gak macem-macem tapi cuma satu macem.. hihihi... "


Setelah lolos dari kecurigaan Adrian, Karin langsung menuju ke rumah Umar. Di rumah Umar sudah ada Nisa yang menunggunya, sedangkan Umar sendiri masih berada di restoran nya menunggu hingga tutup.


" Mbak Karin.. " sapa Nisa yang sudah menyambut kedatangan Karin di teras, saat mobil Karin terlihat memasuki halaman rumahnya.


Karin pun menyapa Nisa dan tersenyum lebar, " Nisa, bantuin aku dong angkatin ini.. " ucap Karin meminta bantuan Nisa untuk membawa beberapa kantong berisi makanan dan cemilan.


" Banyak banget mbak. " Nisa.


" Hehe.. iya, kita kan mau nonton bareng..aku bawa pizza loh kesukaan kamu... " ucap Karin.


" Waahhh... makasih ya mbak, mbak Karin tau aja kesukaan Nisa. " ucap Nisa dengan girang.


" Iya Nisa, Sama-sama. "


" Ayo mbak masuk. kita nunggu mas Umar sambil nonton drama Korea. "


" Ayuk Nis. "


*


Di restoran Umar, Aisha yang baru saja bekerja hari ini terlihat sangat cekatan melayani pelanggan. Ada untungnya juga saat Aisha main di restoran Umar dan melihat cara kerja karyawan Umar sehingga tidak butuh waktu lama Aisha sudah menguasai cara kerjanya.


Pelanggan semakin rame saat malam tiba. Umar pun ikut turun tangan, kadang dia ikut serta menjadi koki dadakan, kadang juga ia menjadi waiters.


Waktu menunjukkan pukul 11 malam, saatnya Umar menutup restorannya, karena hari ini weekend, jadi tutup lebih malam, biasanya di weekday tutup sampai pukul 10 malam.


Umar dan beberapa karyawan lainnya sudah siap menuju sepeda motornya Untuk segera pulang. Umar sudah tidak sabar untuk pulang dan bertemu Karin yang sudah menunggu nya di rumah.


Apalagi saat Karin tadi menghubungi nya dan merajuk karena Umar tak kunjung pulang.


" Yadi, tolong anterin Aisha ya. " ucap Umar yang sudah memasang helmnya.


" Aduh maaf mas, saya bareng wulan soalnya searah.. " ucap Yadi menolak permintaan Umar, dan kebetulan Wulan hari ini tidak membawa sepeda motornya.

__ADS_1


Mendengar penolakan Yadi, Umar mengitari pandangannya melihat para karyawan nya yang ternyata sudah ada barengannya.


" Gak papa mas Umar, Aisha telpon Abi aja buat jemput.. " ucap Aisha.


Dengan ragu, Umar pun menyanggupi untuk mengantar Aisha terlebih dahulu mengingat Abi nya Aisha sudah cukup tua untuk berkendara di tengah malam.


" Gak usah telpon Abi Ais, kasihan.. saya aja yang anterin kamu. "


" Makasih mas.. " ucap Aisha dengan senyum merekah.


Selama perjalanan mereka hanya diam, Umar yang sibuk memikirkan Karin dan Aisha yang terlalu bahagia bisa di antar oleh Umar.


Dering ponsel Umar terdengar, membuat Umar menghentikan laju motornya untuk menerima panggilan itu, yang ternyata dari Karin.


" Ayang beb.. kamu lama amat sih.. "


" Bentar lagi Rin, aku lagi di jalan, tunggu yah."


" Ahh.. bete nih.. aku sengaja nginep mau berduaan ama kamu, kamunya malah pulang malem "


" Minta di temenin Nisa dulu biar gak bete. "


" Nisa nya udah tidur.. besok kan dia sekolah.. "


" Yaudah tunggu ya, aku gak lama lagi kok. "


Aisha yang bisa mendengar dengan jelas percakapan Umar dan Karin di telpon membuatnya mendadak murung, senyum yang tadinya selalu mengembang sekarang telah pudar.


" Maafin Aisha ya mas. " ucap Aisha.


" Maaf untuk apa? " tanya Umar.


" Emm.. gara-gara Aisha, mas Umar jadi telat pulang. "


" Oh.. gak papa. " Umar.


Sebenarnya Aisha sangat penasaran dengan keberadaan Karin yang ada di rumah Umar. " Tapi mbak Karin jadi marah sama mas Umar. "


Belum sempat menjawab, mereka telah sampai di rumah Aisah. " Ini rumahnya? " ucap Umar untuk meyakinkan jika alamat yang tadi di berikan Aisha benar.


" Iya mas. makasih ya.. " Aisha.


Umar hanya mengangguk dan kembali melajukan kendaraan nya. Aisha melihat kepergian Umar sampai tak terlihat.


Sesampainya di rumah, Umar mendapati Karin tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala. Tidak lupa, meja yang awalnya rapih terlihat berantakan dengan sisa-sisa cemilan, sudah di pastikan sedari tadi Karin menunggunya sampai bosan.


" Maafkan aku.. " Umar membelai wajah Karin yang terlihat menggemaskan saat tidur. Ada rasa bersalah membuat kekasihnya menunggu, padahal Umar sudah tau jika Karin ingin menghabiskan waktu bersama sebelum Karin pergi ke luar kota.


Umar beranjak untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum memindahkan Karin. Seusai mandi dan berpakaian, Umar membangunkan Karin untuk pindah ke kamar Nisa.


" Rin, " di tepuknya dengan pelan pipi Karin.


Karin merasa tidur nya terusik, membuka matanya dengan pelan. " Kamu udah pulang? " ucapnya dengan tersenyum manis saat melihat wajah tampan Umar di depannya.

__ADS_1


Umar membalas senyuman Karin dan mengangguk. " Pindah gih di kamar Nisa, ntar badan kamu pegel-pegel tidur di sofa. "


Karin mengerucutkan bibirnya. " Baru kek ketemu kamu, masa mau langsung tidur. "


" Maaf ya.. tadi resto rame banget jadi tutup lebih lama. " bukan maksud Umar tidak mau jujur, tapi Umar tidak mau membuat Karin kecewa jika tau dirinya mengantar Aisha terlebih dahulu.


Karin mengangguk. " Kangen.. " ucap Karin yang langsung memeluk Umar.


Umar terkekeh, " Iya aku juga kangen sama kamu.. mau tidur lagi apa mau lanjut nonton? " tanya Umar, meski tubuhnya terasa lelah dan ingin segera di istirahatkan, tapi demi Karin Umar rela begadang menemaninya sampai pagi.


Karin menggeleng, " Aku udah gak ngantuk lagi.. " cicitnya.


" Mau nonton lagi? "


" Iya.. "


" Yaudah aku temenin. "


Mereka pun kembali menonton drama yang di sukai Karin. Karin sangat antusias menonton drama itu, tapi tidak dengan Umar, terlihat jelas di wajahnya sedang menahan kantuknya.


Karin yang melihat Umar begitu letih merasa kasihan. " Ayang beb, kita tidur yuk.. Tiba-tiba aku ngantuk nih.. "


" Beneran ngantuk? gak di lanjutin nontonnya. "


" Gak, mau bobo aja... "


" Yaudah tidur duluan gih, aku beresin ini dulu. "


" Beresinnya besok aja. kita langsung bobo aja. "


" Yaudah.. "


" Tapi aku bobo sama kamu ya. "


" Tapi Rin.. "


" Tenang aja, kita cuma bobo doang kok, gak ngapa-ngapain. kamu mikir jorok ya? "


" Hehe... cuma takut khilaf. " Umar.


" Pintunya kita buka, lagian kamu capek kan? aku cuma pengen peluk-peluk kamu doang. "


Umar pun menyetujui permintaan Karin. Lagian di rumah ini masih ada Nisa, jadi tidak mungkin terjadi hal yang tidak di inginkan, pikir Umar.


Dan benar saja, setelah Umar membaringkan tubuhnya, tak butuh waktu lama ia pun terlelap. Begitu juga dengan Karin yang menyusul Umar ke dunia mimpi dengan dada Umar yang menjadi sandarannya.


*


*


*


Bye.. bye..

__ADS_1


__ADS_2