Adrian Haidar

Adrian Haidar
S2 Aku kangen kamu


__ADS_3

Karin menyelesaikan pekerjaannya tiga hari lebih cepat, dia ingin segera pulang untuk bertemu dengan kekasih pujaan hatinya. Ada rasa cemas dan cemburu saat mendengar perempuan lain dekat dengan Umar. Meski Umar sudah berbicara jujur apa adanya tentang kedekatan mereka hanya sebatas atasan dan karyawan.


Tapi, Karin merasa tatapan Aisha terlihat berbeda, seperti tatapan memuja. Karin menyadari dan memperhatikan itu pada saat membantu Umar di restorannya.


" Rin, kok kamu udah pulang? " tanya Adrian saat makan malam melihat Karin ikut bergabung di meja makan. " Kapan kamu nyampe? "


" Tadi sore.. " jawabnya.


" Emang kerjaan kamu udah beres? maen tinggal aja! " seru Adrian.


" Udah, tanya aja sama pak Anton kalo gak percaya. " ucap Karin.


" Oh.. dua bulan lagi tolong bantu Barry yak! temenin dia ke Paris. " ujar Adrian. Adrian meminta tolong pada Karin untuk membantu mengurus Home Productions nya, yang kebetulan ada project di Paris. Beberapa model yang bekerja di naungannya mengikuti lomba fashion show di negara itu.


" Apa!! gak.. gak.. gak.. aku gak mau! " tolak Karin.


" Ck, bantuin aku Rin, aku gak bisa ninggalin Elsa yang lagi hamil, lagian kerjaan di kantor juga gak bisa aku tinggalin. " jelas Adrian. Bagaimana mungkin dia meninggalkan Elsa dalam kehamilannya yang semakin membesar, apalagi Wina dan Jordan sedang berada di Jerman.


Karin mendengus kesal, kalau dirinya pergi ke Paris berarti dia akan berpisah lagi dengan Umar, sang pujaan hati. " Berapa lama? "


" Cuma satu bulan kok. " Adrian.


" Apa! satu bulan? itu lama Adrian... " protes Karin.


Melihat Karin yang merasa amat berat,. embuat Elsa tak tega. " Mas, aku gak papa kok di tinggal, kasihan Karin... lagian cuma satu bulan, " Elsa.


" Enggak sayang, aku gak mungkin tega ninggalin kamu. " Adrian mengelus punggung tangan Elsa.


Karin mencibir, " Bilang aja, kamu gak bisa jauh-jauh dari Elsa. iya kan? "


Adrian terkekeh, " Nah itu kamu tau! "


" Cih! dasar maniak!! " Karin.


" Jadi mau yak? ntar aku kasih bonus deh.. " rayu Adrian.


" Iya.. iya.. siap-siap aja uang mu terkuras abis! "


" Uang ku banyak! gak bakalan abis. " sombong Adrian.


*


Siang harinya, Karin berniat membuat kejutan dengan kedatangannya, mengunjungi restoran Umar. Karin sengaja tidak memberi tahu jika dirinya sudah pulang dari luar kota.


Karina sangat bersemangat bertemu dengan kekasihnya, ingin menuntaskan rasa rindunya. Tidak bertemu selama satu minggu lebih membuatnya hatinya begitu resah.


Karin memarkirkan mobilnya jauh dari ruko Umar. Dengan langkah yang bersemangat, Karin mencari keberadaan pria yang sangat ia rindukan.


Bibirnya tersenyum lebar saat mendapati tubuh kekar yang membelakangi nya. Karin semakin mempercepat langkahnya, sudah tidak sabar memeluk pria berkulit kecoklatan itu.


Pandangannya menyipit ketika mendapati seorang perempuan menghampiri Umar dan terlihat sangat akrab.


Senyum yang tadinya melebar, surut seketika. Rasa kesal menyelimuti hati Karin.

__ADS_1


Dengan cepat Karin menghentakkan tangan perempuan itu yang melingkar di lengan Umar. " Kamu siapa! " Hardik Karin.


Umar dan perempuan itu pun terkejut dan membalikkan badannya.


" Kamu siapa! Umar itu pacar saya! jadi jangan deket-deket! apalagi ampe pegang-pegang begini. " Karin menarik Umar, melingkarkan tangannya di lengan Umar.


Umar menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat tingkah Karin yang sedang cemburu. " Kamu udah pulang Rin? bukannya lusa ya. "


" Kenapa? gak seneng liat aku udah pulang? biar kamu bisa deket- deket sama cewek lain! gitu! " ucap Karin begitu sinis. Matanya melotot ke arah perempuan yang ada di samping Umar.


" Mas, ini pacar mas Umar? " tanya gadis itu yang bernama Diah.


Belum sempat Umar menjawab, Karin terlebih dahulu menyautinya.


" Iya! memang kenapa? " sarkas Karin. " Udah tau punya pacar masih aja di deketin.. ish nyebelin! " gerutu Karin.


" Mas, pacar mas Umar cantik tapi sayang cemburuan banget. " Diah.


" Kamu -- " ucapan Karin terpotong oleh Umar yang terlebih dahulu memperingati Karin.


" Rin, kenalin dia Diah sepupu aku yang baru dateng dari kampung. " jelas Umar.


Diah yang kebetulan sedang mencari pekerjaan, diminta Umar untuk membuat di restoran nya yang sedang membutuhkan tambahan karyawan.


" Oohh.. " Karin sedikit malu karena sudah berpikir yang tidak- tidak pada Diah, Karin pikir Diah mencoba merebut Umar darinya.


Umar dan Diah tertawa saat melihat Karin yang salah tingkah karena malu.


" Hihihi... maaf ya Diah.. aku pikir.. kamu.. "


" Beneran? " tanya Karin begitu senang.


" Benerlah.. tanya aja sendiri ama orangnya. " Diah melirik ke Umar.


Karin pun menatap Umar, " Beneran ayang beb? "


Umar mengangguk dan tersenyum malu.


Melihat Umar mengakuinya, Karin tanpa ragu memeluk Umar, " Aku kangen kamu ayang beb.. "


" Rin, malu.. banyak orang yang liatin. "


" Hihi.. tapi aku kangen ama kamu.. kamu gak kangen ama aku? "


" Kangen lah Rin, masa gak kangen ama pacar. "


Cup cup cup..


Karin mengecup singkat bibir Umar beberapa kali, tidak mempedulikan orang di sekitar.


" Cie.. cie.. aduh mataku jadi ternoda nih.. kalo mau mesra-mesraan jangan di sini dong.. di tempat lain kek. " Diah.


Umar terlihat salah tingkah di buat Karin, pasalnya semua karyawan nya bersorak meledekinya.

__ADS_1


Bukan tanpa sebab Karin melakukan itu, tidak jauh dari sana, Aisha sedang berdiri memperhatikan Umar, jadi Karin dengan senang hati seolah menunjukan bahwa Umar hanya miliknya seorang.


" Ayang beb, ayok kita kangen-kangenannya jangan di sini. " ucap Karin dengan suara yang begitu manja.


" Kamu mau kemana emang? " tanya Umar.


" Pengennya sih ke hotel, tapi kamu pasti gak mau.. hihihi... " kelakar Karin. " Jadi kita ke taman dekat sini aja. "


" Yaudah ayok.. mumpung Resto masih sepi. " Umar.


Umar dan Karin pun berpamitan pada Diah dan yang lainnya. Saat Umar keluar resto, langkahnya terhenti karena ada yang memanggilnya.


" Mas Umar.. " Aisha.


Umar dan Karin menoleh ke asal suara.


" Mas, pesenan catering udah jadi tinggal di anter. " Aisha mengingatkan Umar tentang pesanan yang harus dianter.


" Loh.. emang Yadi kemana? " Karin terlihat tidak suka jika acaranya dengan Umar terganggu.


" Yadi hari ini libur Rin. " jelas Umar, " Maaf ya Rin, kayaknya aku harus nganterin catering dulu deh.. baru kita bisa pergi. "


" Kenapa begitu? "


" Rin, gak ada yang bisa nyetir lagi selain aku sama Yadi. Jadi aku yang harus nganterin. " Umar.


" Yaudah anterin aja. Sekalian kita bisa jalan-jalan. " Karin.


" Maksud kamu, kamu ikut gitu? " Umar.


Karin mengangguk. " Iya. kenapa emang? "


" Pake mobil box Rin, yakin mau ikut? "


" Em. "


" Ntar kepanasan kamunya.. " Umar.


" Gak papa, asal sama kamu aku senang.. hehe. "


" Yaudah Aisha kamu siapin semuanya, biar aku sama Karin yang anter. "


" Baik mas, " Aisha.


Umar menyuruh Aisah dan karyawan lainnya memasukan catering ke dalam mobil box.


Usaha catering Umar semakin maju, banyak perusahaan pabrik yang memakai jasa catering nya untuk menyediakan makan siang para buruhnya.


Sedikit demi sedikit Umar menyisikan keuntungan nya. Umar berencana membangun rumah untuk kado pernikahannya kelak bersama Karin. Umar berjanji akan membahagiakan Karin, membuat Karin tidak akan pernah menyesal telah memilih dirinya.


*


*

__ADS_1


*


Bye.. bye..


__ADS_2