Adrian Haidar

Adrian Haidar
S2 Si kantong kering.


__ADS_3

Wina yang sudah duduk di kursi meja makanberdekatan dengan Jordan menatap intens pada pria yang sedang berjalan beriringan dengan putranya.


" Malam om.. tante.. " Sapa Umar, ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Wina dan Jordan.


Jordan membalas uluran tangan Umar begitu pun dengan Wina.


" Siapa pria item manis ini? " tanya Wina. Jordan memang tidak memberi tahu akan ke datangan Umar malam ini.


" Dia Umar mama.. temen deket Karin. " Ujar Karin.


" Pacar baru Karin mah.. " sela Adrian.


Wina melebarkan kedua matanya dan tersenyum, Wina merasa bahagia jika putrinya kembali membuka hati untuk pria lain setelah perceraiannya dengan David.


" Wahh... seneng nya.. udah berapa lama kalian pacaran, kok mama baru tau? " tanya Wina.


" Belum lama tante.. baru beberapa bulan? " Umar.


" Oh.. bisnis apa yang kamu jalanin? dari perusahaan mana? boleh tuh partner-an sama Adrian.. " Wina yak hentinya mengeluarkan pertanyaannya. Dia begitu antusias terhadap pria yang kini tengah duduk di sebrang nya.


" Mah, kita makan dulu.. nanya nya nanti setelah selesai makan. " Jordan.


Sedangkan Karin sudah merasa was-was di hatinya. Bagaimana jika Wina tau kalau Umar bukan pria yang seperti Wina harapkan.


" Iya deh pah.. " jawab Wina.


Wina telaten menyediakan nasi dan lauk pauk ke dalam piring Jordan sembari menggerakkan jemarinya di depan Umar secara tidak langsung.


" Aduh.. jari-jari mama masih ada yang kosong nih.. masih muat nampung satu cincin lagi.. " celotehnya dengan lirih tapi masih bisa di dengar oleh semua orang.


Adrian memutar bola matanya malas, dia tahu jika Wina saat ini sedang memberikan kode lada Umar.


Karin juga mengerti kode keras dari mamanya, dia hanya pasrah jika mamanya tau siapa sebenarnya Umar. Berbeda dengan Umar yang tidak mengerti maksud Wina, dia pikir kode itu bukan untuk dirinya.


" Nanti papa beliin. " timpal Jordan.


" Hihi.. papa juga harus.. tapi.. " Wina melirik ke arah Umar, ingin sekali ia berkata ' calon mantu, berikan kado buat calon mertuamu ini keluaran cincin terbaru. '


" Mah.. habiskan makanannya dulu. ngobrol nya si sambung nanti. " Jordan.


" Iya.. iya.. " Wina.


Setelah makan malam selesai, mereka semua berkumpul di ruang keluarga, kecuali Elsa yang kembali ke kamarnya.


Wina sangat antusias, ingin segera mengeluarkan pertanyaan yang sudah memenuhi otaknya sedari tadi. Mendapat sumber pendapatan baru, selain dari Jordan dan Adrian sungguh membuatnya bahagia tiada tara, pikir Wina.


" Ehemmm.. jadi bisnis apa yang sedang kamu jalanin sekarang? " tanya Wina to the poin.

__ADS_1


Glekk.. Karin menelan ludahnya dengan kasar, dia sudah bersiap dengan respon Wina saat tau seluk beluk Umar.


" Saya sedang menjalankan bisnis rumah makan kecil-kecilan tante.. " jawab Umar dengan jujur.


Tentu Wina mensalah artikan arti keci-kecilan yang sesungguhnya, dia pikir Umar berbicara seperti itu hanya merendah saja.


" Oh.. terus kapan kamu mau mempersunting putri saya? " tanya Wina.


Jordan dan Adrian mengernyit heran, kenapa Wina dengan mudah mengijinkan Umar untuk menikahi Karin.


" Setelah saya sukses dan bisa memenuhi kebutuhan Karin tante.. " jawab Umar.


Wina menggerakan kepalanya seraya mencerna perkataan Umar. " Sukses? apa maksud mu? "


" Mah.. si buluk itu baru saja membuka warteg, dia akan menikahi Karin jika sudah bisa membuka restoran bintang lima. " sela Adrian.


" Whatt! warteg? " seru Wina yang terkejut.


" Adrian! bisa diem gak? " seru Karin.


Jordan memijat keningnya yang tidak pusing. " Papa tinggal dulu, ada pekerjaan penting. " ucap Jordan seraya berdiri meninggalkan ruang keluarga. Menyisakan Adrian, Wina, Karin dan Umar. Jordan menyerah kan semuanya pada Wina.


" Tunggu.. tunggu.. mama belum ngerti.. apa maksudmu Adrian? " Wina.


" Ck, masa mama belum ngerti juga. " Adrian.


" Mah.. Umar baru saja merintis bisnis nya, dia membuka restoran kecil dan catering.. lumayan mah.. usahanya sekarang udah maju.. " seru Karin.


" Mah.. mama pengin punya menantu yang banyak duitnya kan? " Adrian.


Wina mengangguk.


" Mama pengin pamerin menantu mama pada temen arisan mama kan? " Adrian.


Wina mengangguk lagi.


Karin merasa kesal karena Adrian menyampaikan kebenaran Umar dengan cara yang menurut nya tidak pas. Sedangkan Umar sudah siap menerima apapun respon dari Wina.


" Mama pengin di beliin berlian mahal dan tas mahal kan? " Adrian kembali bertanya.


" Aduh.. ngapain kamu tanya gitu segala sih.. tentu saja mama mau semuanya yang berbau uang. " Wina.


" Idih.. mama matre! " Karin.


" Bukan matre Rin. Hobby! " Wina.


" Nah.. kalo Karin nikah ama si buluk ini.. " tunjuk Adrian pada Umar dengan menaikan dagunya. " Keinginan Mama cuma mimpi! "

__ADS_1


" Adrian.. please deh.. ngomong yang jelas! mama masih bingung. " Wina.


Adrian menghela nafasnya dalam. " Coba mama tanya aja sendiri, dia ke sini naik apa? "


Wina mengalihkan pandangan nya ke Umar, " Kamu naik apa emang? "


" Motor tan.. "


Wina membulatkan kedua matanya. " Motor? "


Umar mengangguk. " Yang dikatakan Adrian benar semua tan, saya memang bukan orang kaya yang seperti tante pikirkan. Tapi saya janji akan sesukses yang tante inginkan sebelum melamar Karin. "


Wina memegang dadanya merasa terkejut. Sungguh Wina sangat anti dengan kata 'Miskin'.


" Mah.. please mah.. jangan larang Karin sama Umar.. Karin cinta mah sama Umar. " Karin.


" Enggak.. enggak.. mau makan apa kamu kalo nikah sama dia! "


" Iihh.. mama nyebelin deh.. Adrian aja boleh nikah sama Elsa.. " protes Karin. Jika Wina menerima Elsa yang berstatus sama dengan Umar, kenapa Wina tidak menerima Umar.


" Bedalah Rin! Elsa kan perempuan, tinggal modal ngangkang doang.. tugas Adrian yang mencari duit! " seru Wina.


" Nah kalo kamu kebalikannya. Mama gak bisa nglepas kamu ke pria kaya gini. " jelas Wina.


" Saya ngerti yang tante cemaskan, tapi bolehkan tante memberikan saya kesempatan untuk membuktikan keseriusan saya pada Karin? " tanya Umar dengan serius dan bersungguh-sungguh.


Wina terlihat berfikir dulu sebelum menjawab, sungguh Wina tidak akan membiarkan putrinya hidup dengan serba kekurangan.


" Mah... ayolah mah.. beri Umar kesempatan. Karin cinta mah sama Umar. "


Wina menatap putrinya, terlihat jelas jika Karin mencintai pria yang sedang duduk di depannya itu.


Wina mengangguk setuju. " Baiklah.. mama memberi kesempatan pada si kantong kering itu. "


Bagaimana pun, Wina tidak akan mengulangi kesalahannya pada Karin, cukup sekali dia memaksakan kehendaknya dulu, yang memaksa menikah dengan David.


Karena sudah terlalu malam, Umar pun ijin berpamitan untuk pulang. Karin dan Wina ikut mengantar Umar sampai ke halaman rumahnya. Sedangkan Adrian memilih kembali ke kamarnya menyusul Elsa.


" Whatt!! " pekik Wina sembari memijit keningnya. Perempuan paruh baya itu terkejut melihat motor Umar. Dia pikir Umar mengendarai motor gede yang akan terlihat sedikit keren, tapi ternyata hanya motor bebek.


" Rin.. aduh.. mama pusing banget liatnya.. mama masuk dulu deh.. " Wina.


" Iya. mah.. "


*


*

__ADS_1


*


Bye.. bye..


__ADS_2