
Dua bulan setelah pertemuan dengan keluarga Karin, Umar semakin semangat mengembangkan usahanya. Setelah di pikirkan dengan matang, Umar akhirnya membuka cabang baru di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kotanya, bukan hanya itu, Umar melebarkan usaha catering dengan mengajukan proposal pada beberapa perusahaan besar untuk menyediakan makan siang yang di peruntunkan untuk karyawan.
Sedangkan Karin, kini tengah berada di Paris menemani Barry, sesuai permintaan Adrian. Komunikasi antara Umar dan Karin berjalan terus meski jarak memisahkan mereka. Umar yang kini makin sibuk selalu meluangkan waktunya untuk menghubungi Karin, begitu sebaliknya dengan Karin.
Pembukaan restoran baru di cabang ke dua berlangsung sesuai harapan, Umar memberikan diskon 15% di hari pertama pembukaan, alhasil menarik perhatian para pengunjung. Dan semua menu makanan habis tak tersisa.
" Mas, Nisa boleh pulang duluan? " tanya Nisa saat mereka tengah membereskan restoran yang hampir tutup.
Umar mengangguk. " Mau mas anterin? "
" Gak usah mas, Nisa udah pesen ojeg online. " jawab Nisa.
" Gak nungguin mas aja, ini bentar lagi kelar loh. "
" Gak usah mas, kan mas Umar ntar mau nganterin Aisha kan? " ucap Nisa yang sudah tau kebiasaan Umar mengantar Aisha jika pulang malam.
" Oh.. iya.. " Umar.
" Mas, kayanya Aisha suka deh ama mas Umar. " bisik Nisa.
" Kamu kalo ngomong jangan sembarangan. " Umar.
" Ikh.. gak percaya, Nisa cuma mau ingetin aja. Mas Umar jangan terlalu baik ntar Aisha baper gimana? mending mas Umar gak usah pake anter -anter Aisha segala.. "
Umar diam, dirinya juga takut jika perkataan Nisa itu benar, Umar memang tidak memiliki perasaan apapun pada Aisha, cintanya hanya untuk Karin seorang, tapi bagaimana jika Aisha mensalah artikan niat baiknya.
" Udahlah.. kamu jangan mikir yang enggak-enggak. " Umar.
Nisa mencebik, " Yaudah deh.. Nisa pulang dulu. "
__ADS_1
" Iya.. Hati-hati.. " ucap Umar sembari mengulurkan tangannya untuk Nisa berpamitan.
Kegiatan membereskan restoran sudah selesai, saatnya karyawan dan Umar untuk pulang. Seperti biasa Umar akan mengantar Aisha jika pulang malam.
Di perjalanan mereka selalu tidak banyak mengeluarkan kata-kata. Hingga sampai depan rumah Aisha pun tidak ada obrolan penting, Aisha hanya akan mengucap terimakasih lada Umar.
Namun malam ini berbeda, terlihat abi Aisha tengah duduk di teras rumah, sepertit pria paruh baya itu sedang menunggu kedatangan mereka, mengingat waktu sudah terlalu malam untuk abi Aisha berada di luar.
" Asalamualaikum.. selamat malam abi. " sapa Umar yang masih duduk di sepeda motor nya.
" Waalaikumsalam.. malam nak Umar. "
" Mas Umar, terimakasih ya udah anterin Aisha. "
Umar mengangguk, " Sama sama Aisha. "
Baru saja ingin berpamitan pada abi Aisha. Abi Aisha terlebih dahulu menyuruh Umar untuk mampir sebentar untuk membicarakan hal penting.
" Nak Umar, boleh abi bicara jujur pada nak Umar? " tanya abi Aisha sebelum mengatakan niatnya.
" Boleh abi, memangnya ada hal penting apa? " tanya Umar.
Obrolan mereka berhenti sejenak tatkala Umi Aisha ikut duduk dan menyambut kedatangan Umar.
Setelah Umi Aisha berbasa-basi, abi Aisha kembali melanjutkan niatnya.
" Begini nak Umar, terimakasih sudah mengantar putri saya setiap Aisha pulang malam dan menjaganya. Apa nak Umar tidak ada niatan untuk menghalalkan Aisha, supaya terhindar dari dosa. " ucap abi Aisha yang mengira jika putri nya memiliki hubungan dengan Umar, mengingat kedekatan Umar dan Aisha, ditambah Umar selalu mengantar Aisha.
" Maksud Abi? " tanya Umar masih belum mengerti.
__ADS_1
" Kapan kalian akan menikah? meresmikan hubungan kalian dengan cara yang halal. " seru Umi Aisha.
" Uhuk.. uhuk.. " Umar begitu terkejut dengan permintaan kedua orang tua Aisha. Umar tidak pernah menyangka jika kebaikan nya berakibat buruk.
" Tapi saya --- " Umar.
Belum sempat Umar menjawab, Aisha bersuara terlebih dahulu.
" Abi.. mas Umar capek, kasian. Besok aja membahas masalah ini. " Aisha tidak ingin Abinya kembali ngedrop karena mendengar kejujuran Umar, bahwa di antara mereka tidak ada hubungan sama sekali.
" Baiklah.. " ucap abi Aisha.
Umar pun berpamitan lada Umi dan abi Aisha.
" Mas, maafin Umi sama abi ya? " ucap Aisha saat mengantar Umar ke depan.
Umar menghela nafasnya, " Tolong bicara jujur sama kedua orang tua mu, saya gak mau mereka salah paham. " ucap Umar.
" Kamu tau kan, saya udah memiliki Karin. dan hubungan saya dengan Karin itu serius. " tambah Umar, terlihat jelas ada kekesalan di wajah Umar.
" Iya mas, aku ngerti kok. " jawab Aisha pelan. Sakit, itulah yang Aisha rasakan sekarang. Mendengar pria yang di cintainya mengharapkan wanita lain.
Umar pun meninggalkan rumah Aisha, dirinya baru sadar jika niat baiknya pada Aisha membuat kedua orang tua Aisha salah paham.
*
*
*
__ADS_1
Bye.. bye..