Adrian Haidar

Adrian Haidar
S2 Pernikahan


__ADS_3

Semenjak pertemuan di rumah sakit bersama Aisha, Umar tidak lagi pernah bertemu dengan gadis itu. Di hari itu juga Aisha mengundurkan diri dari restoran Umar.


Umar tidak mau tau atau memikirkan mengenai Aisha. Umar hanya fokus pada bisnis yang sedang ia jalani dan juga Karin, calon istrinya, yang sebentar lagi akan resmi menjadi istrinya.


Umar dan Karin memilih acara pernikahannya di langsung kan dengan sederhana, lebih tepatnya permintaan Karin, sedangkan Umar hanya mengikuti kemauan Karin.


Tentu pada awalnya hal itu sangat di tentang oleh Wina, yang ingin memamerkan menantunya di depan para teman-temannya.


Dengan susah payah Karin membujuk Wina agar menyetujui acara di langsungkan secara sederhana di kediaman nya. Meski dengan berat hati, Wina pun menyetujui nya.


Hari ini, hari di mana Umar dan Karin telah resmi menjadi sepasang suami-istri. Ijab qobul berjalan dengan lancar, di saksikan sanak saudara terdekat.


Umar mencium kening Karin yang telah resmi menjadi istrinya, hal yang tak pernah ia sangka, memiliki Karin seutuhnya. Begitu juga Karin, mencium punggung tangan suami barunya.


" Selamat ya. " Elsa dan Adrian mengucapkan selamat pada sepasang pengantin baru itu.


" Terimakasih. " Umar dan Karin.


" Uhh.. baby Clara cantik banget. " Karin mencubit gemas pipi Clara yang sedang berada di gendong Adrian.


Purti Adrian memang terlihat sangat cantik, wajahnya perpaduan antara Adrian dan Elsa.

__ADS_1


" Iya dong.. siapa dulu papanya. " ujar Adrian dengan sombong.


" Pa.. pa.. pa.. pa... " celoteh Clara yang sudah berusia Dua tahun.


" Giliran kak Karin nih nyusul.. " Elsa.


" Amin.. do'a in aja ya biar cepet. " Karin.


Setelah itu, tidak lupa Umar dan Karin bersungkeman pada Wina dan Jordan untuk mendapatkan doa agar rumah tangga nya selalu di limpahi kebahagiaan.


Sore harinya Umar dan Karin memutuskan untuk pulang ke rumah Umar.


" Sayang.. gak salah kamu mau pulang ke rumah aku? " mereka kini sedang bersiap di kamar Karin membereskan beberapa keperluan Karin untuk tinggal di rumah Umar.


" Ntar kepanasan loh.. gak ada Ac? "


" Gak papa kok.. "


" Yaudah deh kalo kamu mau, aku gak bisa nolak. " Sebenernya Umar tak tega jika Karin harus tinggal di rumah lamanya.


Niat Umar untuk sementara mereka berdua tinggal di rumah orang tua Karin. Sebelum Umar memberikan surprise kado pernikahan darinya. Tapi jika Karin menginginkan untuk tinggal di rumah kecilnya, Umar tidak bisa mencegahnya.

__ADS_1


Mereka berdua berpamitan pada Wina dan Jordan. Wina sedikit keberatan jika Umar membawa Karin dari rumahnya, tapi mau di kata apalagi? Karin sudah menjadi hak Umar sepenuhnya. Dengan berat hati, Wina mengijinkan Umar membawa pulang Karin bersamanya.


" Nis. kamu nginep disini aja dulu yak. " Wina menahan Nisa untuk menginap di rumahnya.


" Loh emang kenapa tante? " tanya Nisa dengan heran, dia yang sudah bersiap ikut bersama kakanya terhenti ketika Wina menarik lengannya.


" Sini aja dengerin kata tante. ntar malem pasti ada suara horor! " seru Wina.


" Horor? " tanya Nisa mengulangi.


" Ck, horor di dengar anak di bawah umur. "


Nisa mengangguk mengerti, usianya sudah mengerti tentang hal dewasa. " Iya tan. "


Umar dan Karin semakin jauh dari pandangan Wina yang masih setia menyaksikan kepergian putrinya.


*


*


*

__ADS_1


Bye.. bye..


__ADS_2