
Pagi - pagi sekali Karin sudah bersiap diri bukan untuk ke kantor pastinya, melainkan ke rumah Umar, pria yang akhir - akhir ini memenuhi otaknya.
" Bi, buburnya udah jadi? " teriak Karin sembari menuruni anak tangga.
" Rin, kamu mau kemana? tumben pagi - pagi udah rapih. " tanya Wina yang melihat Karin sudah rapih tidak seperti biasanya yang datang ke kantor pun selalu siang.
" Mama kepo deh.. " jawab Karin sekenanya.
" Walah.. ni anak berani bener ama mama yah! " gerutu Wina.
Karin pun sudah siap menenteng sebuah kotak makan yang tersusun rapih.
" Rin, kamu bawa apaan? buat siapa? " Wina kembali menelisik tingkah anaknya.
" Bubur Nyonya. " Bibi menjawab pertanyaan Wina.
" Buat siapa Rin? " Wina masih penasaran.
Bukannya menjawab, Karin langsung berpamitan untuk pergi. " Karin jalan dulu ya mah, " Karin memberikan ciuman di pipi Wina.
" Mau kemana Rin? Karin! " teriak Wina yang di hiraukan oleh Karin.
" Karin ada misi penting mah. " jawab Karin yang sudah menjauh dari Wina.
Wina hanay bisa menggelengkan kepalanya melihat putrinya melenggang pergi begitu saja tanpa menghiraukan pertanyaannya.
Karin dengan wajah sumringah nya melajukan mobilnya menuju ke rumah Umar. Butuh waktu 40 menit untuk sampai ke rumah Umar.
" Assalamu'alaikum.. " ucap Karin sembari mengetuk pintu.
" Wa'alaikumussalam.. " terdengar suara Umar dari balik pintu yang masih tertutup rapat.
" Karin.. " ucap Umar yang mendapati Karin setelah membuka pintunya.
Karin meringis menunjukan gigi rapihnya, " Pagi Umar, "
" Emm... Pagi. " jawab Umar.
" Aku gak di bolehin masuk nih.. "
" Eh, iya silakan masuk. " Umar mempersilahkan Karin untuk masuk.
__ADS_1
Karin dengan santai nya mendudukan diri di sofa tanpa disuruh terlebih dahulu. " Nisa kemana? "
" Nisa sekolah. "
" Oh.. " Karin mengangguk. " Kamu masih sakit Mar? " tanya Karin.
" Udah agak mendingan Rin, " Sebenarnya Umar merasa canggung jika berduaan dengan Karin, apalagi mereka belum lama kenal dan Umar juga tidak menyangka jika Karin sungguh akan datang pagi ini, pikir Umar ucapan Karin kemarin hanya omongan belaka.
" Mar, aku bawain bubur nih buat kamu, " Karin mulai membuka rantang yang berisikan bubur.
" Aduh Rin, gak perlu repot - repot, aku bisa beli sendiri di depan. " ucap Umar yang merasa tidak enak.
" Aku gak repot kok Mar, aku malah seneng.." ucap Karin disertai senyum manisnya.
" Maksih ya Rin. " Umar.
Umar pun memakan bubur itu dengan lahap, " Enak Rin, kamu bikin sendiri? "
" Hah! gak Mar, bukan aku yang bikin, bibi di rumah yang masak.. hehe.. "
" Oh.. " Umar manggut - manggut.
" Kapan - kapan deh aku masakin buat kamu, biar kamu tambah suka sama aku." Karin.
" Hati - hati dong Mar, " Karin menyodorkan segelas air putih dan menepuk punggung Umar.
Umar menerima minum yang diberikan Karin dan meminumnya. " Terimakasih. "
Setelah Umar selesai, Karin berinisiatif untuk mencuci piring dan gelas bekas Umar tadi.
" Eh Rin biarin aja, gak usah dicuci. "
" Gak apa Mar, " Karin berusaha terlihat apik di mata Umar, padahal dirumahnya sendiri Karin tidak pernah memegang pekerjaan rumah.
" Pranggggg... " piring pun terjatuh.
Umar yang melihat Karin kesusahan mencuci piring berusaha menahan tawanya. Umar sudah mengira jika Karin tidak pernah melakukan hal itu.
" Mar.. " teriak Karin.
" Iya Rin, " Umar pura - pura tidak tahu.
__ADS_1
" Piring nya pecah.. " lirih Karin.
" Oh.. gak apa, biar aku yang beresin. "
" Maaf ya Mar, aku malah jadi ngrepotin kamu. " ucap Karin dengan nada memelas.
Umar pun segera membersihkan pecahan piring di lantai yang berserakan. Karin ikut berjongkok untuk membantu Umar.
" Astaghfirullah!! " pekik Umar yang melihat gundukan Karin dari celah kerah baju Karin yang rendah. Umar segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
" Kenapa Mar, kamu kena pecahan beling. " Karin segera menarik tangan Umar untuk melihat lukanya, " mana Mar yang kena? "
" Hah, " Umar menarik tangannya dari genggaman Karin, " Gak ada yang luka kok. "
" Oh.. Kirain. "
Umar bisa dengan jelas melihat wajah Karin yang sangat dekat, begitu cantik menurut Umar. Berdekatan dengan Karin, Jantung Umar berdetak lebih kencang.
Karin pun mengalihkan pandangannya kearah Umar, seketika pandangan mereka bertemu, cukup lama mereka berdua saling mengagumi satu sama lain.
" Tampan. "
Cup. Karin dengan beraninya mengecup bibir Umar.
Kedua mata Umar membulat sempurna ketika Karin mengecup bibirnya hingga mematung di tempat.
Karin di buat gemas dengan Umar yang hanya diam,
Cup. cup. cup
Karin mengecup kembali bibir Umar, " Aku pulang.. " Karin berlari secepat mungkin meninggalkan Umar. Dirinya merasa malu dengan kelakuannya sendiri.
Sedangkan Umar sangat terkejut, Umar baru pertama kali ini merasakan sentuhan dari wanita.
*
*
*
Nyosor aja lu Rin, kan mas Umar jadi syok! ini mah sebelas dua belas sama abang Adrian 😂😂
__ADS_1
Bye.. bye..