Adrian Haidar

Adrian Haidar
S2 Makan malam bersama calon mertua


__ADS_3

Jika pria lain mungkin akan mempersiapkan diri dengan memamerkan kemampuannya dan sedikit merubah penampilannya demi mendapatkan perhatian lebih dari calon keluarga nya kelak, tapi tidak dengan Umar, pria itu cukup berpenampilan apik seperti biasanya tidak berlebihan.


Umar lebih memilih berpenampilan apa adanya, dengan percaya diri, pria itu datang ke rumah keluarga Haidar yang lebih mirip di sebut sebuah istana. Umar memarkirkan kendaraan roda duanya tepat di depan teras yang cukup mewah itu, setelah security mengijinkannya masuk.


Umar membuka helmnya dan meletakkan di kaca spion sebelah kanan, lalu melepaskan jaket tebalnya. Tidak lupa sebelum masuk, Umar merapihkan kemeja yang melekat di tubuhnya dan menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan.


Dengan langkah penuh percaya diri, Umar mengetuk pintu yang tidaklah kecil seperti yang ada di rumahnya.


Tidak lama kemudian seorang pelayan menyambutnya dan mempersilahkan Umar untuk duduk terlebih dahulu di ruang tamu, sementara pelayanan itu meninggalkan Umar untuk memberitahukan pada tuannya tentang kedatangan Umar.


Umar mengitari pandangannya ke seluruh ruangan itu, terlihat jelas ruangan itu mencerminkan jika pemiliknya bukanlah orang biasa seperti dirinya.


Pantas saja Jordan meragukan Karin bisa menyesuaikan dengan kehidupan Umar, ternyata memang benar, Karin sudah terbiasa hidup dengan kemewahan. Melihat itu, Umar menjadi lebih bersemangat untuk mengejar kesuksesannya.


" Ayang beb.. " teriak Karin berlari kecil menghampiri Umar.


Umar melebarkan senyumannya saat melihat Karin.


Karin menautkan kedua pipinya pada Umar. " Kamu ganteng banget, wangi lagi.. aku jadi tambah cinta. " ucap Karin.


Umar tersenyum, " Kamu juga cantik.. cantik banget malah.. "


" Iikkhh.. kamu bisa aja.. " Karin mencubit perut Umar dengan gemas.


" Aw.. sakit Rin.. " Umar.


" Abisnya kamu udah pinter gombal sih. "


" Bukan gombal Rin, tapi kenyataan kalo kamu itu cantik. " Umar.

__ADS_1


Karin tergelak, dan kembali menyuruh Umar untuk duduk bersebelahan dengan Karin.


" Papa sama mama kamu mana Rin? " tanya Umar.


" Cie.. udah gak sabar nih ketemu calon mertua? " ledek Karin.


Belum sempat Umar menjawab, Elsa datang untuk menyambut kedatangan Umar.


" Hay.. Mar, kapan dateng? " tanya Elsa yang sudah duduk di sebrang Karin.


" Belum lama Sa, kamu apa kabar? " Umar bertanya balik.


" Aku baik Mar, " jawab Elsa. " Gimana bisnis kamu Mar? makin lancar nih kayanya. "


" Alhamdulillah Sa, Karin selalu bantu aku buat ngembangin usaha aku. " Umar tersenyum pada Karin yang duduk di sampingnya.


" Sa kamu ngapain disini! " tegur Adrian yang tiba-tiba datang dengan muka masamnya.


" Ini mas, ada Umar datang. " jawab Elsa.


" Oh.. si buluk. " ucapnya lirih. Adrian duduk di samping Elsa dan memeluk pinggang Elsa dengan posesif. Entah kenapa Adrian masih tidak suka dengan kehadiran Umar, yang notabene nya adalah pria yang lebih dulu pernah singgah di hati Elsa.


" Mas.. gak boleh gitu. " tegur Elsa.


" Iya nih! nyebelin banget! ayang beb aku ganteng begini di bilang buluk! " seru Karin tak terima, sedangkan Umar hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Umar tau jelas, Adrian seperti itu padanya karena masih menganggap jika dirinya memiliki perasaan pada Elsa. Padahal Umar sudah merelakan Elsa dan berpindah hati pada Karin.


" Ck, bodo amat! " Adrian.

__ADS_1


" sudah.. sudah.. gak usah pada ribut, bentar lagi papa sama mama turun. " sela Elsa saat melihat Karin akan membalas ucapan Adrian, yang sudah pasti akan berlanjut panjang jika kedua kaka beradik itu tidak dihentikan.


" Permisi tuan.. " seorang pelayan datang menghampiri mereka berempat. " Tuan dan nyonya besar sudah menunggu di meja makan. "


" Baik bi, terimakasih. " jawab Elsa.


Mereka pun beranjak dari duduknya dan melangkah menuju meja makan.


Umar tampak tenang sekali, tidak terlihat sedikit pun gugup di raut wajahnya, justru Karin lah yang sudah gugup tidak karuan.


Karin tidak bisa membayangkan jika Wina tau seluk beluk tentang Umar. Sudah pasti gempa terjadi di rumah besar keluarga itu.


" Ayang beb, aku kok jadi deg-degannya. " bisik Karin yang berjalan beriringan den Umar.


Umar terkekeh geli, " Bukannya aku yang harusnya deg-degan, kok jadi kamu sih.. aneh.. "


" Ayang beb, nanti jangan di ambil hati ya kalo mama ku bilang sesuatu sama kamu. " Karin memperingatkan Umar agar tidak terkejut saat menghadapi Wina.


Umar mengangguk mengerti.


Jauh di lubuk hati Umar, dirinya pun merasa gugup, bohong jika dia tidak gugup sama sekali. Tapi Umar berusaha menutupinya dengan ketenangannya agar tidak mempermalukan dirinya sendiri.


*


*


*


Bye.. bye..

__ADS_1


__ADS_2