
Hari semakin gelap saat mereka tiba di halaman rumah Umar, hujan tak kunjung reda bahkan semakin deras. Membuat Umar dan Karin berlari untuk cepat sampai di teras rumah Umar menghindar dari derasnya air hujan.
" Kan jadi basah baju kamu, aku bilang tunggu aja di mobil. " ucap Umar seraya membuka pintu rumahnya.
" Gak ah serem ada petir. " jawab Karin.
" Ayo masuk. " Umar mempersilahkan Karin untuk masuk. " Tunggu sebentar ya, aku ambilkan handuk. Pintunya tutup aja kalo dingin. " Umar, Karin pun mengangguk.
Saat Umar kembali membawa handuk, dia melihat Karin menggigil kedinginan karena pakaian nya semua basah.
" Ini handuknya, baju kamu basah semua, mau ganti punya Nisa? " tanya Umar.
Karin meraih handuk pemberian Umar, " Emang muat sama aku? " tanya Karin. Tubuh Nisa begitu mungil sedangkan tubuh Karin semampai membuat Karin tidak yakin baju Nisa muat di tubuhnya.
" Hehe.. iya sih. Apa mau pake baju aku? aku ambilin yah. " Karin mengangguk mengiyakan.
Sebelum mengambil baju untuk Karin, Umar terlebih dahulu mengganti pakaiannya yang basah sama seperti Karin.
Umar ke luar dari kamar nya setelah selesai mengganti pakaiannya. " Ini Rin, ganti di kamar ku aja kalo gak di kamar Nisa juga gak papa. "
" Makasih ya Mar. "
" Aku bikinin teh anget mau? "
" Iya Mar. " ucap Karin dengan tersenyum.
Karin memasuki kamar Umar untuk kedua kalinya. Kamar yang tidak terlalu luas namun sangat besih untuk ukuran laki-laki, tidak seperti kamar Adrian yang selalu berantakan meski bibik di rumah rajin membersihkannya, tapi dulu saat Adrian masih singgle.
Terdengar suara petir menggelegar bersamaan dengan padamnya listrik.
" Umar!! " teriak Karin.
Umar dengan cepat menghampiri Karin. " Aku disini Rin. "
" Aku takut gelap Mar. Ada petir juga, serem. " ucap Karin.
" Iya bentar. " Umar mencari ponselnya yang tadi ia letakkan di atas kasur.
Umar pun menyalakan senter di ponselnya. " Astaghfirullah.. " pekik Umar yang melihat Karin hanya mengenakan dalaman karena belum sempat memakai kaos pemberian Umar.
" Maaf Mar, " Karin pun dengan cepat memakai kaos Umar.
Umar di buat kaku tak bergerak, melihat tubuh Karin yang nyaris telanjang membuat hasrat Umar timbul, meski sebisa mungkin ia tahan dan tutupi.
Umar semakin susah menelan salivanya saat melihat Karin menggunakan kaosnya tanpa celana training yang ia berikan. " Rin, kok celananya gak di pake? "
" Kedodoran Mar, melorot. " jawab Karin.
" Aku cari daster Nisa ya, siapa tau muat di kamu. "
" Iya Mar. " jawab Karin, dirinya pun merasa risih memperlihatkan paha mulusnya di depan Umar.
Lagi-lagi suara petir membuat Karin terkejut dan reflek mendekat ke arah Umar. " Mar, aku takut. "
" Iya, tenang ada aku disini. "
" Yah mati Rin, aku lupa gak charge. " Ponsel Umar mati, Satu-satunya sumber cahaya untuk menerangi mereka. " Hape kamu mana? "
" Di tas aku, tapi si mobil. "
Akhirnya mereka duduk di tepi ranjang, kaki Umar tak hentinya ia gerakan.
" Mar kaki kamu kenapa sih? " tanya Karin yang melihat kaki Umar terus saja bergetar.
" Hah.. emm.. gak papa. " ucap Umar untuk menutupi kegugupannya di depan Karin.
Bagaimana pun juga Umar lelaki yang normal, wajar saja jika sesuatu di dalam sana memberontak ingin keluar saat berdekatan dengan lawan jenis, berdua dengan wanita cantik dengan suasana mendukung. Sungguh godaan yang sangat menyiksa bagi Umar.
__ADS_1
Karin mengeratkan pelukannya saat petir kembali terdengar. Membuat mereka semakin dekat tanpa jarak.
Tatapan mereka bertemu, wajah mereka sangat dekat dan semakin dekat. Jantung keduanya pun sama-sama berdetak sangat kencang.
Cup.
Satu kecupan mendarat di bibir Karin, kali ini Umar lah yang terlebih dahulu mengecup bibir Karin, tidak seperti biasanya.
Kecupan itu berubah menjadi lummatan, mereka terbuai akan nikmat nya setitik surga dunia.
Karin dengan sendirinya mengalungkan tangannya di leher Umar dan membalas lummatan Umar yang begitu memabukkan.
Ciuman Umar semakin turun ke bawah, menyessap aroma tubuh Karin. Umar benar-benar di buat hilang akal, pertahanan yang selama ini ia jaga runtuh sudah saat melihat kemolekan tubuh Karin.
Desahan Karin terdengar sangat indah di telinga Umar, membuat dirinya semakin menginginkan lebih.
Umar menghentikan aksinya saat akal sehatnya muncul kembali. " Maaf Rin. " ucapnya dengan nafas tersengal.
Karin menatap Umar, terlihat jelas di wajah Umar yang menahan gairahnya. " Mar, aku.. aku menginginkannya.. "
" Ini gak benar Rin. " jawab Umar, tidak di pungkiri dirinya memang sangat menginginkan hal itu, tapi sebisa mungkin dia menahannya.
" Tapi kamu juga menginginkannya kan? " Karin.
" Aku pria dewasa yang normal Rin, bohong kalo aku gak menginginkannya. "
" Aku mau, kamu juga mau, terus kenapa gak bisa. "
" Aku belum berhak Rin. "
" Tapi aku mengijinkannya. Apa kamu gak mau karna aku janda? "
" Sstt.. jangan ngomong kaya gitu lagi. aku Terima kamu apa adanya. "
" Terus? "
" Kita? kamu kali bukan aku. "
" Rin.. "
" Iya aku tau. " lirih Karin.
" Rin, bukan itu maksud ku.. jangan berfikir aku nyesel -- "
" Terus.. "
Umar menatap lekat Karin lalu melabuhkan ciumannya kembali, pertahanannya kembali rapuh saat bisikan setan memenuhi pikirannya.
Perlahan ia tanggalkan pakaian Karin hingga menyisakan pakaian dalamnya saja, Umar pun begitu melepaskan kaos yang melekat di tubuh kekarnya.
Umar terbuai dengan keindahan lekuk tubuh Karin. Dengan lihai ia menikmatinya, meski hal ini adalah yang pertama bagi Umar tapi tidak mengurangi kepandaiannya yang timbul begitu saja melalui insting kelelakian nya.
Satu persatu kain tipis itu lepas dari tubuh Karin, memperlihatkan tubuh polos Karin. Untuk yang beberapa kalinya Umar mengagumi tubuh indah yang ada di hadapannya.
Saat Umar bermain-main di inti tubuh Karin, Umar merasa ada yang janggal. Ia menatap heran ke arah Karin dengan penuh tanda tanya.
" Rin.. "
" Lakukanlah.. "
" Kamu.. masih -- "
Belum selesai Umar berkata, Karin terlebih dahulu menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan Umar.
Umar menjatuhkan tubuhnya di samping Karin, memeluk tubuh Karin yang masih polos. " Kita hentikan, akan lebih nikmat kalo kamu udah sah jadi istri aku. Aku janji akan menikahi mu lebih cepat. "
" Beneran? " tanya Karin.
__ADS_1
" Iya. "
" Tapi jangan lama-lama nanti keburu kiamat, ntar aku gak -- "
" Sstttt... aku pastikan kamu akan menikmati surga dunia sebelum kiamat. " Umar terkekeh.
" Janji ya.. "
" Iya.."
" Tapi tiga taun lagi masih lama dong ayang beb, "
" Gak nyampe tiga tahun, aku berubah pikiran. Aku udah gak sabar. "
" Kalo gak sabar sekarang aja ayang beb, aku udah siap nih. "
" Aduhh Rin jangan godain aku terus nih, ntar kejadian gimana? "
" Gak papa kok, aku sih seneng-seneng aja. "
Umar mengusap wajahnya dengan kasar, sungguh Karin membuatnya semakin tergoda dan hilang kendali.
" Itu kamu juga udah tegang, emang gak pusing gitu.. di diemin aja. " Karin menunjuk bagian bawah Umar.
" Rin, jangan godain aku terus. "
Tapi Karin semakin menggoda Umar dengan tangannya yang berani menyentuh milik Umar.
" Ahh.. Rin.. " desah Umar.
" Ayang beb, itu kamu luar biasa.. " ucap Karin saat merasakan milik Umar yang besar di tangannya.
" Rin.. " lirih Umar dengan suara parau.
Entah belajar dari mana Karin bisa tau cara memuaskan Umar tanpa menyatukan tubuh mereka. Membantu Umar menuntaskan hasrat yang tertunda.
Listrik kambali menyala, hujan pun sudah mulai reda. Mereka kembali ke restoran Umar. Berkali-kali Karin memandang Umar dengan tatapan penuh arti.
Umar sangat malu pada Karin mengingat dirinya mencapai pelepasan di depan Karin. Wajahnya terlihat begitu memalukan saat itu, membuat Umar malu setengah mati.
" Rin, jangan liatin aku kaya gitu napa? " ucap Umar tanpa menoleh ke arah Karin. Umar memilih fokus ke depan sembari melajukan mobil.
" Hihihi kamu lucu... "
" Ck, gak usah di inget - inget. "
" Bakalan inget terus lah, pemandangan yang sangat langka. "
Bagaimana Umar tidak malu? dirinya mencapai pelepasan bersamaan listrik menyala kembali, membuat Karin melihat jelas mimik wajah Umar saat itu, bukan hanya itu, Karin pun melihat dengan jelas tubuh polos Umar.
" Aku makin cinta deh.. cinta ama kamu, juga sama si perkutut.. hehe.. "
" Rin!! " Umar benar-benar malu, tapi Karin semakin senang menggoda Umar.
" Iya.. iya.. tapi janji ya si perkutut cuma milik aku. gak boleh mencrok ke tempat lain. "
" Ehemm.. " Umar.
" Iihh ayang beb, jawab yang bener dong. "
" Iya.. iya.. "
*
*
*
__ADS_1
Bye.. bye..