
" Rin, mobil kamu parkir dimana? " tanya Umar, mereka cukup berjalan jauh untuk sampai ke mobil Karin.
" Di sana.. " tunjuk Karin, mobilnya terparkir tepat di bawah rindangnya pohon.
" Kok jauh banget parkir nya.. sepi lagi.. " ucap Umar yang melihat mobil Karin dari jarak jauh, mobil Karin terparkir di sudut ruko yang masih sepi, belum ada yang mengisinya.
" Iya.. kan aku mau kasih surprise ke kamu, "jawab Karin yang sudah merangkul lengan Umar dengan manja.
" Tapi gak jauh gini Rin, terus tadi kamu jalan kaki? gak cape? " Umar melihat sepatu heels Karin, sudah bisa di bayangkan jika Karin akan kelelahan berjalan kaki menggunakan sepatu yang lumayan tinggi.
" Hehe.. abis tapi penuh sih.. disitu doang yang kosong. Aku kan usah biasa pake sepatu kaya gini, jadi cuma pegel dikit. "
" Tuh kan.. lain kali jangan gitu ya, ntar kaki kamu pegel-pegel apalagi sampe lecet. " Umar semakin protektif pada Karin.
" Cie.. mulai perhatian nih... "
" Iya dong, masa sama pacar gak perhatian. "
" Yaudah ntar pijitin ya.. "
" Iya aku pijitin nya kalo udah halal. " Umar.
" Pengin nih cepet-cepet di halalin. "
__ADS_1
" Iya Rin, do'a in aku ya.. "
Karin mengangguk. Mereka pun tiba di tempat mobil Karin terparkir. Umar dengan sigap membukakan pintu untuk Karin, setelah itu Umar berjalan mengitari mobil, membuka pintu dan duduk di bangku mengemudi. Umar menyalakan mesin mobil.
" Ayang beb, " panggil Karin. Umar menoleh pada Karin.
" Hem. "
" Aku kangen.. kamu gak kangen aku apa? " Karin mengubah posisi duduknya untuk menghadap Umar.
" Kangen lah Rin.. " Umar menatap Karin dengan penuh kerinduan.
" Gak pengin peluk apa cium gitu... "
Pertanyaan Karin membuat Umar menelan salivanya, tidak mungkin Umar tidak menginginkan hal itu, sedari tadi Umar menahan agar tidak melakukannya.
Umar menatap Karin dengan tatapan sendu. Dilihat wajah cantik Karin yang tersenyum manis padanya, membuat Umar semakin menginginkan wanita itu.
Perlahan Umar mendekatkan wajahnya. Bibir Karin menjadi pusat perhatian kedua matanya. Karin memejamkan matanya saat Umar semakin mendekat. Bibir mereka pun saling menyatu, Umar mencium Karin dengan lembut, Karin membalas ciuman Umar. Mereka berdua saling melepas rindu, menyalurkan hasrat yang menggebu.
Ciuman Umar semakin rakus, mendorong tubuh Karin untuk bersandar. Umar menahan tengkuk Karin , sedangkan kedua tangan Karin meremmas rambut Umar.
Karin sangat menyukai Umar yang seperti ini, mengekspresikan perasaan nya.
__ADS_1
Karin melenguh nikmat saat Umar mencumbu di area lehernya. Cukup lama Umar bermain di area leher, lalu kembali ke bibir, kembali lagi ke leher.
Umar menempelkan kening mereka dengan nafas yang terengah. " Aku mencintaimu. " ucap Umar.
" Aku juga mencintai mu. " Karin.
Mereka saling melempar senyum. Umar membersihkan bibir Karin yang terlihat basah karena ulahnya.
" Sebaiknya kita jalan, kalo gak, bisa khilaf aku. " Umar.
Karin mengangguk.
Umar mulai melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit dimana abi Aisha di rawat. Di perjalanan, Umar menceritakan tentang abi Aisha yang salah paham tentang dirinya dan Aisha.
Karin sempat kesal dengan pengakuan Umar yang selama ini telah mengantar Aisha jika pulang malam. Namun karena penjelasan Umar, Karin sedikit mereda kekesalannya. Apalagi Umar sudah berani jujur dan mengakui kesalahannya.
Umar memilih lebih baik jujur dari sekarang dari pada Karin tau dengan sendirinya. Umar tidak mau kehilangan Karin hanya karena masalah sepele.
Umar berjanji tidak akan membuat kesalahan lagi. Pria itu kini tau, jika tidak ada teman wanita bagi pria yang sudah memiliki kekasih apalagi setelah memiliki istri.
*
*
__ADS_1
*
Bye.. bye..