Adrian Haidar

Adrian Haidar
S2 TAMAT


__ADS_3

Sepasang pengantin baru itu sudah tiba di rumah Umar, rumah mungil yang sangat sederhana tapi nyaman untuk di tempati. Mereka tiba saat langit sudah berubah menjadi gelap.


" Ayang beb, mau makan malam sekarang atau mau mandi dulu? " tanya Karin yang tengah menyiapkan makanan yang tadi beli di jalan saat perjalanan pulang.


" Aku mandi dulu deh.. " jawab Umar yang sudah mengalungkan handuk di lehernya.


" Iya. " Karin.


Setelah mandi Umar menghampiri Karin yang masih duduk di kursi meja makan sembari memainkan ponselnya melihat potret pernikahan nya.


Umar duduk di sebrang Karin. " Sayang.. kamu gak mandi? "


" Aku nemenin kamu makan dulu. "


" Kamu gak makan? " tanya Umar yang melihat Karin tidak menyentuh makanannya.


" Aku masih kenyang.. kamu aja yang makan. "


" Yaudah, mending kamu mandi deh.. keburu dingin. "


" Gak papa aku tinggal? kamu makan sendirian. "


Umar tergelak, " Gak papa sayang.. aku udah biasa kok, gak usah pake di temenin segala. "


Karin pun memulai ritual mandinya di kamar mandi yang jauh dari kata mewah, tidak seperti kamar mandi yang ada di kamarnya.


Seusai mandi, Karin menggenakan handuk kimono untuk menutupi tubuhnya yang basah dan sudah kembali segar. Berjalan menuju kamar, melewati Umar yang masih menikmati makanan nya.


Umar melirik ke arah Karin yang berjalan melewatinya, aroma segar seperti buah strawberry dari tubuh Karin menyeruak membuat Umar susah menelan salivanya, serta dilanda gugup, mengingat malam ini adalah malam pertama mereka.


Di dalam kamar Karin tengah mempersiapkan diri, memakai lingerie yang telah ia siapkan untuk menghabiskan malam pertama bersama Umar. Gaun tidur yang berbahan tipis itu menutupi sebagian tubuh polos Karin, memperlihatkan dengan jelas lekuk tubuh Karin yang putih mulus itu. Tidak lupa Karin memakai wewangian beraroma sensual agar memikat gairah sang suami tercinta.


Gadis yang sebentar lagi akan menjadi seorang wanita itu terlihat tidak sabar menunggu Umar untuk masuk ke dalam kamar. Jantung nya berdebar tidak karuan, menunggu saat-saat yang ia nantikan selama ini, menikmati surga dunia.


Ceklekk... pintu kamar terbuka. Umar membuka pintu lalu menutupnya kembali.


Setelah sempurna membalikkan tubuhnya menghadap Karin, Umar tertegun melihat penampilan Karin yang begitu menggoda, bahkan perkutut nya sudah mulai bangkit hanya melihat penampilan Karin.


Kerah piyama Karin begitu rendah membuat Umar bisa melihat dengan jelas kedua bukit kembar yang menyembul, meski bukan pertama kali bagi Umar melihatnya, namun tak mengurangi rasa keinginan tauan pria itu, untuk menyentuh dan menikmati nya.


Umar tersadar dari lamunannya, kemudian duduk di ranjang dengan bersandar. " Ehem... " Umar berdeham untuk mengurangi rasa gugupnya.


" Ayang beb, gimana? aku cantik gak? " tanya Karin sembari melangkah mendekati Umar.


Umar tersenyum, " Cantik banget. "

__ADS_1


Karin merangkak naik ke atas ranjang, bukan duduk di samping Umar, melainkan duduk tepat di pangkuan Umar. Karin mengalungkan lengannya di leher Umar. Umar menyambut Karin dengan memeluk pinggang Karin dengan erat.


" Kamu cantik banget sayang.. " ucap Umar dengan suara paraunya. satu tangannya sudah beralih ke paha mulus Karin, mengelus dengan lembut.


" Kamu juga ganteng ayang beb, " Karin.


Mereka saling menatap satu sama lain, tersirat api gairah dari pancaran keduanya.


" Terimakasih, sudah mau menunggu ku. " ucap Umar.


Karin mengangguk, tangannya membelai lembut wajah Umar, " Aku gak nyangka kita akhirnya nikah juga. " Karin tak henti menatap wajah Umar.


" Apa kamu sudah siap? " tanya Umar.


Karin yang mengerti maksud Umar, mengangguk dengan cepat. " Siap dong.. udah gak sabar pengin ketemu si perkutut. hihi.. "


Umar tersenyum, menangkup kedua pipi Karin lalu menundukannya, terlihat Umar melafalkan doa sebelum menyentuh istrinya.


Setelah itu, Umar mengecup kening, kedua kelompok mata Karin, pipi, lalu bibir. Saat di bibir, bukan hanya kecupan yang di berikan, Umar melummat nya dengan lembut perlahan menjadi rakus.


Umar yang merasa Karin sudah halal bagi dirinya, tanpa ragu melakukan apapun keinginan nya. Karin sangat menikmati sentuhan dari Umar. Karin tidak menyangka jika Umar akan seliar itu saat menjajaki tubuhnya. Karin masih ingat bagaimana dulu Umar selalu menahan hasratnya saat hanya berdua dengannya.


Entah sejak kapan, tubuh mereka sudah sama-sama polos tanpa sehelai benang pun. Umar sungguh luar biasa, menjungkir balikan perasaan Karin dengan sentuhan nya, merasakan sensasi baru yang luar biasa.


Susah payah Umar menerobos pertahanan Karin, dengan nafas yang terengah dan keringat bercucuran di tubuh mereka, penyatuan mereka pun terjadi.


Kedua nya tertidur karena lelah di sekujur tubuhnya. Sungguh nikmat luar biasa yang mereka rasakan untuk pertama kalinya.


*


Keesokan harinya, Umar mengajak Karin pergi ke rumah mewah yang telah di siapkan Umar dari jauh-jauh hari untuk kado pernikahan.


" Ayang beb, ini rumah siapa? " tanya Karin yang sudah berdiri di depan rumah mewah.


" Ini rumah kamu... sayang.. " jawab Umar dengan menyodorkan kunci rumah tersebut.


Karin menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang menganga tak percaya.


" Beneran? " tanya Karin dengan tangis harunya.


Umar mengangguk.


" Terimakasih.. " Karin menghamburkan pelukan pada suaminya.


" Tapi masih kosong. " ucap Umar saat mereka berdua masuk ke dalam rumah setelah Karin membukanya.

__ADS_1


" Kamu yang pilih sendiri ya isinya. " Umar memberikan black cardnya.


" Cie.. udah punya kartu pamungkas nih.. " ledek Karin.


" Hehe.. iya alhamdulillah, kamu bisa pake ini, terus balikin yang dari papa kamu. " jelas Umar.


" Siap bos. " Karin. " Ajak Nisa juga ya buat beli perlengkapan rumah. "


" Iya sayang, tapi kayanya Nisa masih di kampus deh, " Umar.


" Kita tunggu Nisa pulang kuliah dulu, baru jalan. "


" Iya.. " Umar.


*


Di tempat lain, Elsa sudah bolak balik ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.


" Sayang.. kamu sakit? " Adrian yang mendengar Elsa sakit, langsung pulang dari kantor nya. Adrian sangat khawatir dengan keadaan istrinya membuat dia meninggalkan meeting penting begitu saja.


" Gak tau, dari kemarin aku muntah terus. " jawab Elsa.


" Ayo priksa ke dokter, apa panggil aja dokter Risa.. " saran Adrian.


" Nanti aja ke dokter nya. " seru Wina yang baru saja masuk ke dalam kamar Adrian dan Elsa.


" Nih.. coba cek dulu. " Wina memberikan alat tespeck pada Elsa. " Semoga aja, dugaan mama bener. "


Elsa menerima nya, lalu pergi ke kamar mandi.


Setelah lima menit Elsa keluar dari kamar mandi dengan wajah yang berbinar.


" Positif mah. " seru Elsa.


" Alhamdulillah.. " Wina.


Adrian masih bingung. " Maksudnya apa ini? "


" Kamu mau jadi ayah lagi. " Wina.


" Beneran sayang? " tanya Adrian untuk memastikan.


Elsa mengangguk, Adrian memeluk Elsa. " Terimakasih sayang. " Adrian menghujani kecupan di wajah Elsa.


Kebahagiaan akan kembali menghiasi di keluarga kecil mereka dengan hadirnya anggota baru di keluarga Haidar.

__ADS_1


- TAMAT -


__ADS_2