Adrian Haidar

Adrian Haidar
S2 Clara Arabella Haidar


__ADS_3

Kehamilan Elsa semakin membesar, hari ini hari dimana Elsa dan Adrian menunggu buah hatinya terlahir ke dunia ini. Elsa dan Adrian memutuskan proses persalinannya dengan operasi Caesar, karena berbagai hal pertimbangan.


Adrian menemani Elsa ke dalam ruangan operasi, pria itu menggenggam erat tangan istrinya, memberikan dukungan agar Elsa merasa lebih tenang.


Setelah hampir satu jam berlalu, operasi caesar berjalan dengan lancar. Adrian terharu mendengar tangisan putri kecilnya yang baru saja lahir di dunia ini. Adrian dan Elsa di anugrahi seorang putri cantik sebagai anak pertama mereka.


Adrian tak henti memberikan kecupan di wajah istrinya yang telah memberikan keturunan nya. " Terimakasih sayang.. "


Elsa mengangguk dan tersenyum sebelum dirinya tertidur karena lelah.


Dengan tangan yang bergetar, Adrian menggendong putri kecilnya dan memberikan lantunan adzan di telinga mungil itu. Adrian tidak menyangka jika dirinya akan secepat ini menjadi seorang ayah. Tak terasa air matanya mengalir begitu saja, air mata bahagia tentunya.


Wina dan Jordan tengah menunggunya di luar, mereka sangat antusias menanti kehadiran cucu pertamanya.


" Adrian.. bagaimana? " Wina menghampiri Adrian yang baru saja keluar dari ruang operasi.


Adrian tersenyum lebar, " Semuanya baik mah.. " jawabnya lirih.


Dipandangi wanita paruh baya itu dengan tatapan penuh arti. Tangannya mengulur begitu saja ke wajah Wina dan mengelusnya. " Maafkan Adrian mah.. " Adrian memeluk Wina dengan erat.


Wina mengelus punggung Adrian.


" Maaf jika selama ini Adrian selalu membuat mama marah. " ucapnya. Ada rasa penyesalan pada diri Adrian, mengingat kelakuan nakalnya selama ini.


Melihat Elsa berjuang untuk melahirkan buah hatinya membuat Adrian terbuka hatinya, bahwa seorang ibu lah yang telah mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan anaknya. Terlepas dari proses persalinan secara normal atau caesar, semua itu memiliki resiko yang sama, yaitu nyawa taruhannya.


" Sudah mama maafkan nak, " Wina menepuk-nepuk punggung Adrian.

__ADS_1


" Sudah sudah.. kok jadi melow begini sih. " ucap Wina mencairkan suasana. Wina mengusap sudut matanya yang sudah terlihat basah.


Adrian tersenyum lalu melepaskan pelukannya.


" Mana cucu papa? " tanya Jordan.


" Sebentar lagi pah, lagi sama suster. " Adrian.


" Lalu gimana keadaan Elsa? " tanya Wina.


" Elsa juga baik mah.. bentar lagi mau di pindah ke ruang rawat inap. "


" Syukurlah.. "


Di ruang rawat inap, Elsa sudah sadarkan diri. Dia tersenyum bahagia saat melihat mama mertuanya dengan wajah berbinar menggendong putrinya. Begitu juga dengan Jordan, pria paruh baya itu terlihat bahagia, sesekali mengajak mengobrol cucunya meski dia tahu jika cucunya belum mengerti apa-apa.


" Namanya Clara Arabelle Haidar mah.. " Adrian dan Elsa sudah jauh-jauh hari memilihkan nama untuk putrinya.


" Nama yang cantik.. " Wina memandang wajah Clara yang mirip sekali dengan Adrian.


" Secantik wajahnya dan hatinya. " ucap Jordan.


" Amin.. " Adrian dan Elsa bersamaan mengamini ucapan Jordan.


" Setelah ini kasih cucu cowok ke mama ya. " Wina


" Mah.. luka Elsa aja belum kering udah minta cucu lagi. " Adrian.

__ADS_1


" Maksud mama bukan sekarang, tapi ntar lah.. " Wina.


" Tinggal minta jatah ke Karin mah. " Adrian.


Mendengar Karin, Wina jadi teringat sosok Umar. " Hufft.. masih lama! nunggu si kantong kering ampe tebel kantong nya. " gerutu Wina.


" Mah, Umar baik loh mah.. dia cowok lurus gak neko-neko. Baik untuk Karin. " seru Adrian. Bagaimana pun Adrian mengakui jika Umar pria yang baik, bahkan lebih baik dari pada dirinya saat masih melajang dulu. Dan Adrian percaya jika Umar akan kebahagiaan Karin.


Tunggu! baik untuk Karin. Bukan untuk Elsa!


Elsa tersenyum mendengar Adrian memuji Umar di depan Wina. Karena setau Elsa, Adrian sangat tidak menyukai Umar.


" Jangan tersenyum! " bisik Adrian.


" Aku seneng kamu belain Umar di depan mama. " balas Elsa yang juga ikut berbisik.


" Tapi aku gak suka kalo kamu muji Umar. Aku gak suka kamu dekat-deket ama Umar. " gerutu Adrian.


Elsa terkekeh geli melihat Adrian yang masih cemburuan dengan Umar, padahal sudah jelas jika cinta Elsa hanya di berikan pada Adrian seorang.


Sedangkan Wina diam saja tidak mau menanggapi perkataan Adrian. Hatinya mengatakan benar jika Umar pria yang baik, tapi bagi Wina yang nomor dua adalah Uang! jangan harap kalo tidak punya Uang bisa menikahi putrinya.


*


*


*

__ADS_1


Bye.. bye..


__ADS_2