
Satu minggu sudah berlalu, Wina dan Jordan telah kembali. Jordan mendapatkan laporan dari bawahan nya.
Dahi pria paruh baya itu mengkerut saat melihat foto putrinya bersama pria yang tidak di kenalnya.
" Bisa jelaskan siapa pria itu? " tanya Jordan pada bawahannya yang di tugaskan mengikuti kegiatan Karin selama dirinya dan istri tercinta di Jerman.
Anak buahnya pun menceritakan semua kegiatan Karin yang sering mengunjungi pria tersebut, bahkan saat Karin menginap di rumah Umar tak luput dari pantauan mereka.
Jika mengenai anak perempuan nya, Jordan tidak akan lepas pengawasan. Jordan menginginkan hal yang terbaik untuk putri satu-satunya. Apalagi setelah kegagalan pernikahan pertama putrinya yang di sebabkan karena kelalaian nya, yang tidak menyelusuri seluk beluk David terlebih dahulu.
Ya, Jordan tahu alasan mengapa Karin meminta berpisah dengan David walau bukan mendengar dari Karin. Tentu mudah bagi Jordan mencari tahu nya dengan segala kekuasaan yang ia miliki.
Jordan mengangguk mengerti setelah anak buahnya menceritakan dengan detail.
" Antarkan aku untuk menemui pria itu. " Jordan ingin melihat langsung pria yang membuat Karin meliriknya.
Pasalnya pasca perceraiannya dengan David, Jordan tidak pernah melihat Karin dekat dengan pria mana pun, meski banyak sekali pria yang ingin mendekatinya, bahkan meminangnya tapi selalu di tolak oleh Karin.
" Baik tuan. "
*
Sedangkan di restoran, seperti biasa Karin memilih menemani Umar dari pada bekerja. Karin beralasan ada kepentingan pada Adrian sehingga di ijinkan bolos kerja.
" Mbak Karin.. kok ngeliatin mas Umar terus.. " ledek Diah yang melihat Karin terus menerus menatap Umar yang sedang melayani pelanggan.
" Hehe.. abis mas mu itu ganteng banget sih.. " ucap Karin pada gadis yang baru lulus SMA itu, satu tahun lebih tua dari Nisa.
" Masa sih.. ganteng juga akang icang pacar Diah.. " ucap Diah tak mau kalah.
" Kamu udah punya pacar? " Karin.
" Udah dong, malah lebih ganteng dari pada mas Umar, lebih putih, pokoknya top markotop deh pacar ku mah... " Diah.
" Justru mas Umar itu semakin sexy dengan kulit eksotisnya.. apalagi perutnya yang kotak-kotak itu buat aku gemes.. " Karin.
" Emang mbak Karin pernah liat perut mas Umar? "
" Hihi.. pernah dong.. "
Diah membulatkan kedua matanya, " Beneran? mbak Karin pernah -- "
" Huss.. mikir apa kamu! " Karin memotong ucapan Diah. " Aku cuma nebak doang. gak usah mikir yang enggak-enggak deh.. masih kecil juga. " Karin sengaja berbohong, bagaimana pun Karin tidak mau membeberkan keromantisan nya dengan Umar kalau itu, apalagi pada gadis yang masih awam.
" Hehe.. iya.. mbak maaf. " Diah.
" Kamu tinggal di rumah mas Umar Di? " tanya Karin.
" Enggak mbak, aku ngekos dekat sini. "
__ADS_1
" Loh kenapa? "
" Jauh dari sini kalo tinggal bareng sama mas Umar, ntar malah ngrepotin mas Umar antar jemput aku. " Diah.
" Oh.. iya sih.. " Karin. " Tapi kamu gak aneh-aneh kan tinggal ngekos? ntar ada maksud tertentu nih pilih tinggal sendiri, biar asyik pacaran. " Karin.
" Gak lah mbak, kan pacar ku cuma pacar khayalan. " Diah terkekeh.
" Maksudnya? "
" Nih.. " Karin menunjukkan foto dari ponselnya. " Ini abang icang ku yang paling ganteng.. " tunjuk Diah pada salah satu idolanya yang berasal dari negri gingseng.
" Iskh.. kirain pacar beneran! "
" Hehe... pacar impian mbak.. "
" Iya.. iya.. deh, anak jaman now sukanya sama oppa oppa, kalo aku sih tetep abang Umar yang paling oke.. hihi... " Karin.
" Iya aja deh mbak.. hihi.. "
" Di, mbak ke toilet dulu yak. "
" Iya mbak. "
*
" Siang Pak.. " sapa salah satu pegawai Umar.
Jordan menganggukkan kepalanya untuk membalas sapaan itu.
" Mbak, bisa bertemu dengan pemilik restoran ini? " tanya salah satu ajudan Jordan.
Pelayan itu pun mengangguk dan pergi memanggil Umar yang sedang di dapur membantu para koki.
" Pak, ada yang cariin pak Umar. "
" Siapa? "
" Gak tau pak, tapi keliatan orang kaya.. soalnya banyak pengawalnya. "
Umar pun segera menemui orang yang sedang mencarinya.
" Permisi.. ada yang bisa saya bantu? " ucap Umar pada pria paruh baya yang sedang berdiri membelakangi nya.
Jordan yang mendengar suara pria menyapanya membalikkan badan, dilihat nya dengan seksama dari atas sampai ke bawah. " Jadi pria ini yang di cintai putri ku? "
Umar menelan salivanya, wajah pria paruh baya itu terlihat familiar dengan orang yang dia kenal.
" Dia mirip sekali dengan Adrian, apa dia ayah nya Karin? " batin Umar.
__ADS_1
" Apa kamu yang bernama Umar? " tanya Jordan untuk memastikan.
" Iya pak, saya Umar. " jawab Umar dengan gugup.
" Bisa kita bicara sebentar? "
Umar mengangguk, " Mari pak.. " Umar mempersilahkan Jordan untuk duduk. Kemudian Umar duduk tepat berhadapan dengan Jordan.
Karin yang baru keluar dari toilet, di kejutan dengan pemandangan luar biasa. Papanya dan Umar sedang duduk bersama, terlihat jelas ada ketegangan di antara mereka.
" Papa! " pekik Karin, dia berlari kecil untuk menghampiri kedua pria itu. " Papa.. kenapa papa kesini? apa yang papa lakukan pada Umar? " cecar Karin.
" Papa hanya ingin mengobrol saja dengannya. Apa tidak boleh? " Jordan.
" Pah.. please.. jangan marahin Umar. " Karin terlihat begitu cemas dengan kedatangan Jordan yang menemui Umar, dia tidak mau hubungan nya tidak mendapat restu karena perbedaan sosial.
" Ayo pah, kita pulang aja. " Karin takut jika Jordan akan berbuat sesuatu pada Umar.
" Rin, gak papa kok, mungkin papa kamu memang hanya ingin ngobrol dengan ku. " Umar.
" Gak! pasti papa gak setuju kan Karin pacaran sama Umar? papa pasti mau nyuruh Umar kan buat ngejauhin Karin, kaya di sinetron-sinetron yang suka di tonton mama. " Karin.
" Ck, jangan sok tau! " Jordan. " Papa cuma ingin tau pria ini, yang berani mengencani anak kesayangan papa. " Jordan.
" Pah, please... ayok pulang pah.. " Karin menarik-narik lengan Jordan agar cepat pergi.
Jordan menghela nafas, rencananya gagal karena kemunculan putrinya. " Iya. iya. ayo kita pulang! "
Karin bernafas lega.
" Kamu jalan duluan. " titah Jordan.
" Papa mau ngapain? gak macem-macem kan. " tanya Karin yang masih curiga pada Jordan.
" Mau duluan ato papa gak jadi pulang. "
" Iya. " Karin menghentakkan satu kakinya dengan kesal, lalu menuruti untuk pergi lebih dulu.
Jordan kembali menghadap Umar setelah Karin berjalan terlebih dahulu. " Besok temui saya di kantor. " ucapnya yang tak menerima bantahan.
" Baik om. " jawab Umar dengan tegas, meski hatinya merasa gugup tapi sebisa mungkin Umar menutupi kegugupan nya.
*
*
*
Bye.. bye..
__ADS_1