Adrian Haidar

Adrian Haidar
S2 Keputusan Umar mengenai Aisha


__ADS_3

" Maaf Aisha, saya gak bisa bantu kamu. " ucap Umar.


Di sebuah taman dekat dengan rumah sakit, Aisha meminta bertemu dengan Umar. Kebetulan Umar berada di rumah sakit yang sama dengan abi Aisha di rawat. Karin dan Umar sedang menjenguk Elsa dan baby nya.


" Tolong mas Umar, agar abi gak mikirin aku terus.. setelah abi membaik nanti Aisha akan bicara baik-baik pada abi. " ujar Aisha.


" Aisha, bukannya akan memperburuk keadaan abi kalo terus menerus mendapatkan kekecewaan, bicaralah yang jujur pada abi. beliau pasti ngerti kok dengan keadaan kita. beliau juga gak akan memaksakan kehendak nya. " jelas Umar.


Umar menolak permintaan Aisha yang meminta bantuan agar Umar membenarkan hubungan nya dengan Aisha. Umar pikir, hal itu akan semakin rumit jika Umar mengakuinya.


Abi Aisha meminta putrinya agar cepat menikah, mengingat keadaan nya yang semakin memburuk, beliau ingin melihat putri satu-satunya menikah sebelum ajal menjemputnya. Hal itu lah yang membuat Aisha meminta bantuan pada Umar, untuk menenangkan hati abinya.


Aisha tertunduk sedih, dia tidak tau lagi harus berbuat apa.


" Aisha, saya yakin kamu bisa mendapatkan jodoh yang terbaik. Semoga Allah memberikan jalan yang terbaik untuk mu, tanpa membohongi abi. " lanjut Umar.


" Sekali lagi maaf saya gak bisa bantu kamu.. " Umar bangkit dari duduknya hendak pergi, karena sudah cukup lama Umar meninggalkan Karin di ruangan Elsa di rawat.


" Salam buat abi dan Umi. Saya pamit dulu. "


Aisha hanya mengangguk tanpa bersuara ataupun memandang Umar.


*


" Ayang beb kamu lama banget dari mana? " belum sampai ke ruangan Elsa, Umar berpapasan dengan Karin.


" Aku tadi ada sedikit perlu Rin. " jawab Umar. pria itu tidak ingin Karin tau yang sebenarnya jika Aisha meminta bantuan pada nya.

__ADS_1


" Oh.. yaudah ayok pulang. " Karin menggandeng lengan Umar.


" Aku gak pamitan dulu sama Adrian dan Elsa. " ucap Umar.


" Gak usah, tadi udah sekalian aku pamitin. "


Umar mengangguk, " Aku anterin kamu pulang apa ke kantor? " tanya Adrian saat mereka memasuki mobil.


" Emm.. aku ikut kamu aja deh.. " jawab Karin dengan memakai seatbelt nya. " Kamu mau langsung pulang apa ke resto? "


" Aku mau survei tempat Rin, buat cabang restoran ke tiga, abis itu mau cek tempat produksi baru yang kemarin baru pindahan. " jelas Umar.


Umar berniat untuk memperbanyak cabang restoran nya yang sudah mulai di kenal banyak orang dan di akui kualitas rasanya. Umar juga sudah membeli dua ruko, tempat khusus untuk mengolah masakan bisnis catering nya.


" Cie.. udah makin maju nih bisnis nya. " ledek Karin.


Umar tersenyum, " Semua ini kan berkat doa kamu. "


" Sabar ya sayang.. " Umar mengelus kepala Karin.


" So sweet.. kamu bilang apa tadi? " Karin kegirangan saat Umar memanggilnya sayang.


" Bilang apa? " ulang Umar


" Tadi kamu bilang apa sama aku. "


" Bilang sayang maksud nya? emang gak boleh panggil pacar sendiri dengan sebutan sayang? "

__ADS_1


" Boleh dong.. malah aku seneng banget dengernya. "


Mereka berdua saling melempar senyuman.


" Oh iya.. gimana menurut mu kalo aku buka cabang di luar kota dengan sistem franchise? "


" Bagus itu.. menurut aku sih oke-oke aja selama itu menguntungkan, " jawab Karin.


" Mau gak ajarin aku, aku belum ngerti hal seperti itu. " Umar tanpa malu meminta bantuan Karin untuk mempelajari lebih dalam mengenai bisnis franchise.


Karin dengan senang hati mengajari Umar tentang hal berbau bisnis, justru Karin senang Umar ingin belajar banyak mengenai bisnis darinya.


" Asiappp.. ayang beb. " seru Karin dengan semangat.


" Terimakasih.. " jika bukan karena bantuan Karin Umar akan sedikit kewalahan mengurusi bisnisnya, mengingat Umar hanya mengenyam pendidikan di sekolah menengah atas.


" Gak gratis ya! "


" Mau minta apa emang? "


" Mau minta di halalin ama kamu.. hihi.. "


" Iya.. iya.. pasti.. "


*


*

__ADS_1


*


Bye.. bye..


__ADS_2