
Karin melangkah tergesa keruangan Jordan, dia sangat takut jika kekasih pujaan hatinya di perlakuan tidak baik oleh Jordan.
" Papa! " pekik Karin saat menerobos masuk ke ruangan Jordan. " Papa ngapain panggil ayang beb aku kesini? " tanya Karin yang keceplosan dengan memanggil Umar dengan sebutan sayangnya.
Dahi Jordan mengkerut, " Ayang beb, " Jordan menatap ke arah Umar, lalu menggelengkan kepalanya tak percaya jika anak perempuan nya itu menggilai pria yang ada di depannya saat ini.
Glek..
Karin menyadari ke salahannya dengan menyebut Umar ayang beb di depan Jordan.
" Pah, kenapa Umar ada disini? papa gak ngapa ngapain Umar kan? " tanya Karin untuk mengalihkan perhatian Jordan yang kini menatap Umar.
" Memang kamu pikir, papa mau ngapain pria cupu itu! " seru Jordan. " Kamu bisa tanyakan sendiri padanya. " Jordan mengarahkan dagunya seraya menunjuk ke arah Umar.
Sedangkan Umar menghela nafas, " Ternyata bapak dan anak sama aja! anaknya menamai ku si buluk, ayahnya menamai ku cupu.. sabar.. sabar.. demi Karin. "
( Ini.. apa kabar Wina kalo bertemu Umar?? 🤣🤣)
" Iih.. papa nyebelin deh.. masa Umar ganteng begitu di katain cupu! " gerutu Karin tak Terima jika kekasihnya di panggil dengan sebutan yang tidak indah sama sekali.
" Kamu cinta banget ama si cupu itu? " Jordan.
" Iihh papa! " Karin.
Jordan tergelak. " Liat aja penampilannya.. "
" Ayang beb ganteng papa! Karin cinta ama Umar, pokoknya Karin mau nikah sama Umar! titik! "
" Yakin? " Jordan.
" Yakinlah pah.. "
__ADS_1
Sedangkan Umar masih menikmati perdebatan kecil antara Jordan dan Karin. Umar sama sekali tidak sakit hati pada Jordan, karena memang benar apa yang di katakannya.
Ayah siapapun akan seperti itu pada pria yang akan menikahi putrinya, tidak mengenal kaya atau miskin setiap orang tua pasti menginginkan kebahagiaan yang terbaik untuk teman hidup putrinya, termasuk Jordan.
" Setelah nikah kamu bukan tanggung jawab papa lagi.. yakin kamu hidup tanpa kartu hitam dari papa? " tanya Jordan.
Karin mengangguk.
" Yakin bisa nahan beli ini dan itu,.. " tambah Jordan.
Karin mengangguk lagi.
" Yakin kamu bisa tinggal di rumah nya? "
" Iya pah.. " Karin.
" Yakin tiap hari ke mana-mana cuma pake motor? " cecar Jordan.
" Pah.. masa papa tega sih.. cuma mobil aja pelit! " gerutu Karin yang tak terima.
" Loh.. papa kan cuma mau tau, itulah resiko kamu jika nikah sama si cupu itu. " tunjuk Jordan ke arah Umar.
" Ehem.. " Umar berdeham. " Saya janji om akan memenuhi kebutuhan Karin dengan sangat layak. Saya belum berani meminang Karin jika financial saya belum memenuhi kriteria yang om inginkan. " ucap Umar penuh percaya diri.
Ucapan Umar terdengar sangat indah oleh Karin," Uuhh so sweet ayang beb, aku tambah cinta ama kamu. " Karin hendak memeluk Umar, namun Jordan terlebih dahulu berdeham memberi kode. Karin pun mengurungkan niatnya dan kembali duduk tegap.
" Oke.. berapa lama kamu bisa mencapai semua itu? " Jordan kembali menatap Umar dengan tajam, pria paruh bayar itu belum merasa puas mengorek kegigihan Umar.
Umar diam sejenak, menimbang-nimbang Jawaban. " Dua tahun, InsyaAllah saya bisa mencapai kesuksesan yang om harapkan. " jawab Umar.
Kali ini Jordan mengalihkan pandangan nya ke arah Karin. " Kamu mau menunggu dia dua tahun lagi? "
__ADS_1
Karin mengangguk dengan cepat. " Mau lah pah. "
Jordan menghela nafas, dia melihat betul kesungguhan pria yang ada di hadapan nya, tidak lupa dia juga melihat putrinya yang sudah terjerat pria sederhana itu.
" Papa tidak menyetujui kalian, papa juga tidak melarang kalian. Keputusan itu tergantung dua tahun lagi. " ucap Jordan.
Umar mengangguk mengerti.
" Terus Karin gimana pah, Karin gak bakal bisa gak ketemu Umar, apalagi dua tahun.. lama banget pah.. " rengek Karin.
Jordan menghela nafas kembali. " Papa gak ngelarang kalian untuk bertemu.. tapi jaga batasan kalian! " tegas Jordan.
" Jangan sampai kamu -- " Jordan menatap Umar dengan penuh peringatan.
Tanpa harus menyelesaikan kalimatnya pun Umar sudah mengerti dengan jelas maksud Jordan. " Saya janji om, tidak akan mengambil hak yang belum menjadi milik saya. "
" Saya pegang janji mu! " Jordan.
Karin tersenyum bahagia, akhirnya dia tidak usah bersembunyi lagi untuk bertemu dengan Umar.
" Nanti malam datang lah ke rumah, kita makan malam bersama. " Jordan mengundang Umar untuk datang ke rumahnya.
" Whatt!! " pekik Karin, dia belum siap mengenalkan Umar pada Wina.
*
*
*
Bye.. bye..
__ADS_1