
Keesokan harinya, Umar mulai memikirkan saran dari Karin mengembangkan usaha rumah makannya, untuk membuka jasa catering.
Selain menambah tenaga kerja, Umar juga berencana membeli sebuah mobil box untuk memudahkan saat mengantar pesanan catering.
Umar memikirkan rencana itu dengan sangat matang, agar tidak mengalami kerugian. Niat untuk mempercepat menikahi Karin membuat dirinya semakin bersemangat.
Apalagi setelah Umar melakukan hal di luar batas pada Karin, ingin rasanya cepat- cepat menghalalkan Karin agar bisa melakukan apapun tanpa dosa.
" Assalamu'alaikum.. " sapa Aisha.
" Waalaikumsalam.. " jawab Umar. Umar meletakkan penanya, menghentikan aktifitas dan menoleh ke sumber suara yang menyapanya.
" Mas Umar, apa bener mas lagi butuh karyawan lagi? " tanya Aisha yang melihat selembar iklan tertempel di dingding restoran Umar.
" Iya Aisha.. kami lagi butuh tambahan karyawan.. kenapa emang? apa Aisha ada teman yang mau atau butuh pekerjaan? " tanya Umar.
" Emm.. kalo saya yang melamar bekerja di sini boleh? "
" Loh.. bukannya Aisha jaga toko sendiri? "
" Toko udah ada Umi sama abah yang jaga. kalo mas Umar gak keberatan, saya mau kerja di restoran mas Umar. " ucap Aisha.
Umar mengangguk.
" Bagaimana mas? apa saya harus membuat surat lamarannya dulu? " tanya Aisha.
" Gak usah Ais.. maksudku Aisha. "
" Gak papa mas boleh kok panggil saya Ais saja. "
" Iya Ais, kamu bisa kerja mulai besok kalo memang udah siap. "
" Iya mas, saya siap kok kerja mulai besok. " ucap Aisha dengan begitu senangnya. Meski sangat tidak mungkin memiliki Umar, setidaknya berdekatan dengan Umar sudah cukup bagi Aisha.
" Nisa.. " panggil Umar pada adiknya itu yang baru saja datang.
" Asalamualaikum.. " Nisa menyalami Umar.
" Walaikumsalam.. " jawab Umar dan Aisha bersamaan.
" Dateng sendiri? temen kamu gak ikut Nis. " tanya Umar yang melihat Nisa datang sendiri setelah menginap di tempat Naya teman baik Nisa.
" Gak mas, Naya cuma anter Nisa, dia ada perlu sama bundanya jadi gak bisa mampir. " jelas Nisa.
Umar mengangguk mengerti, " Oh iya Nis, ntar mas titip resto ya, mas ada perlu keluar sebentar. " tutur Umar.
" Pergi kemana mas? bukannya ntar pelanggan rame, ini kan hari minggu. " Nisa.
" Iya, tapi mas cuma sebentar kok.. "
" Maaf mas Umar, kalo boleh biar saya langsung bekerja saja hari ini. kebetulan saya gak ada kegiatan. " Aisha.
" Aisha mau kerja disini? " tanya Nisa yang belum tau tentang rencana Umar.
__ADS_1
" Iya Nis, mas lagi butuh tambahan karyawan. "
" Ohh.. "
" Yaudah Nis, mas pergi dulu ya. Karin udah nungguin mas. " Umar bergegas ke sepeda motornya untuk menemui Karin.
" Ciee... yang mau ketemu mbak Karin. pantes aja gak sabaran. " ledek Nisa.
Umar pergi begitu saja tanpa menghiraukan ucapan Nisa. Sedangkan Aisha mencoba menegarkan hatinya yang terasa sakit.
*
Umar memarkirkan sepeda motornya di depan sebuah cafe tempat Karin menunggunya. Umar tidak mengerti kenapa Karin memintanya untuk bertemu di cafe.
" Ayang beb.. " seru Karin sembari melambaikan tangannya.
Umar tersenyum lalu menghampiri Karin, duduk bersebrangan dengan kekasihnya itu.
" Maaf ya ayang beb, kamu pasti lagi sibuk banget ya. " ucap Karin.
" Gak papa, buat kamu apa sih yang gak. " gombal Umar.
" Cie.. ayang beb udah bisa gombalin aku nih. " Karin mencubit gemas hidung mancung Umar.
Umar terkekeh, " Sekali kali boleh lah gombalin kamu dikit. " ucapnya. " Oh iya kamu mau ngomong hal penting apa? " tanya Umar.
Senyum Karin tiba-tiba menyurut. " Mar, aku ada kerjaan di luar kota. "
" Terus? "
" Peka gimana Rin? "
Karin berdecak kesal. " Aku mau keluar kota dua minggu ayang beb! " seru Karin.
" Iya kamu tadi udah ngomong kan. "
" iikkh sebel deh, aku pergi dua minggu artinya kita gak ketemu selama dua minggu ayang beb. " Karin mengerucutkan bibirnya.
" Iya gak papa Rin, kan cuma dua minggu.. ntar juga kita ketemu lagi. "
" Itu lama ayang.. ntar aku kangen ama kamu gimana? "
" Kita masih bisa Video call Rin, jaman udah canggih. " Umar.
" Yaudah ntar malem aku nginep ya di rumah kamu, mau nabung rasa kangen. "
" Uhuk.. uhuk.. " Umar terbatuk. " Rin, bahaya kalo kamu nginep di rumah aku. " seru Umar.
" Bahaya kenapa? " tanya Karin.
" Ya bahaya, ntar kejadian kaya kemaren. " Umar tidak mau kejadian kemarin yang hampir melewati batas terulang kembali, meski tidak dipungkiri Umar sangat menikmati nya.
" Hihihi... bukannya ada Nisa di rumah? " Karin.
__ADS_1
" Iya ada sih.. "
" Kalo ada Nisa, kita aman. bisikan setan gak bakal mempan. " ucap Karin dengan tawa ruangnya.
" Iya.. iya.. kamu emang di bolehin sama mama papa kamu? " tanya Umar.
" Hehe.. tenang aku bisa bikin alesan. " jawab Karin.
" Rin, gak boleh begitu.. gak baik bo'ong orang tua. "
" Iya yang penting kan aku gak aneh-aneh.. apalagi sama kamu. "
" Aneh-aneh juga aku seneng.. biar cepet di sahin ama kamu.. hihihi.. "
" Karin! " panggil seseorang, membuat Karin dan Umar pun menoleh mencari asal suara itu.
" David. " lirih Karin.
Umar menyatukan keningnya melihat wajah Karin yang terkejut melihat sosok pria tampan yang kini sudah berdiri di depan mereka.
David, mantan suami Karin yang sudah lama tidak bertemu dengan nya setelah perceraian mereka, hampir dua tahun lebih lamanya.
David tidak berubah sedikit pun, bahkan lebih tampan dari sebelumnya, tidak lupa karisma kepemimpinannya terlihat jelas di mimik wajah tampan itu.
" Apa kabar? " sapa David.
Karin tersenyum kecut. " Baik. "
David menoleh ke arah Umar. " Ini siapa? "
" Dia calon suami ku! " seru Karin.
David menatap lekat wajah Umar, entah apa yang di pikiran lelaki tampan itu. Umar yang masih tidak mengerti situasi itu menatap Karin seraya bertanya ' siapa dia? '.
Karin seakan mengerti arti tatapan Umar. " Ayang beb, kenalin ini David.. mantan suami ku. "
glekk.. Umar menelan salivanya, dirinya menciut melihat mantan Karin yang begitu sempurna di atasnya. Tampan, kaya, tidak ada yang kurang sedikit pun di lelaki itu.
" David. " Ujarnya seraya mengulurkan tangannya.
" Umar. " Umar membalasnya.
" Ayang beb, kita ada perlu kan. ayo.. " Karin menarik Umar untuk segera meninggalkan cafe itu, dia tidak ingin berlama-lama dengan mantan suaminya itu.
" Aku pergi dulu. " ucap Karin lalu bergegas pergi.
David mengangguk menatap kepergian wanita cantik yang pernah mengisi lembaran hidupnya.
*
*
*
__ADS_1
Bye.. bye..