Adrian Haidar

Adrian Haidar
S2 Menepati janji


__ADS_3

Dua bulan setelah kelahiran baby Clara, Adrian di buat gelisah setiap malam. Adrian yang belum bisa menyentuh Elsa selalu saja melampiaskan kekesalannya pada semua karyawan nya, entah mereka salah atau benar, Adrian tidak peduli.


" Sayang.. apa Clara udah bobo? " tanya Adrian saat baru saja selesai mandi. Hari ini pekerjaan Adrian lumayan banyak hingga Adrian harus lembur dan pulang larut.


" Baru aja bobo. " Elsa mengambilkan piyama tidur untuk suaminya.


Namun seperti biasa, Adrian akan tidur hanya menggunakan boxer.


" Pake bajunya mas. "


" Gak ah gerah. " Adrian merebahkan tubuhnya di ranjang.


Elsa ikut tidur di samping Adrian.


" Sa, apa masih belum boleh? " tanya Adrian mengubah posisi tubuhnya miring menghadap Elsa dengan tangan yang menjadi penyanggah kepalanya.


Elsa pun ikut memiringkan tubuhnya menghadap Adrian. " Masih dua bulan lagi.. " jawab Elsa dengan berbohong.


Adrian langsung menghempaskan tubuhnya tak bersemangat sembari berdecak kesal. " Ck, lama amat! "


" Hihihi.. sabar ya.. " Elsa mengelus dada Adrian.


Adrian dengan cepat memegang erat tangan Elsa, " Jangan godain aku deh.. " hanya dengan elusan tangan Elsa di dadanya, mampu membuat gairah Adrian naik kembali.


" Iya.. lagian aku gak godain kamu kok. "


" Beneran nih gak boleh Sa? " tanyanya masih tak percaya.


" Beneran mas, masa gak percaya sih.. tanya aja sama mama kalo kamu gak percaya. " Elsa.


Adrian yang masih tak percaya dengan perkataan Elsa, meraih ponselnya dan menanyakan hal itu pada mbah google.


" Sa, kamu bohongin aku ya! " pekik Adrian setelah membaca berbagai artikel di internet.


Elsa menelan salivanya, " Enggak ko.. " ucap Elsa dengan gugup.


" Tapi disini bilang cuma empat puluh hari atau satu bulan setengah gak boleh melakukan hubungan suami-istri pasca melahirkan. " jelas Adrian yang kembali membaca info tersebut.


Elsa hanya bisa menyengir kuda. " Abisnya aku masih takut, perut ku masih ngilu. "


" Ck, kamu gak kasihan apa sama junior ku. " gerutu Adrian.


" Hehe.. maaf. "


Seringai mesum di wajah Adrian kembali terlihat. " Jadi udah boleh dong.. " Adrian dengan cepat mengungkung tubuh mungil Elsa.


Elsa mengangguk, " Tapi pelan-pelan ya.. masih ngilu nih perut aku. "

__ADS_1


" Oke sayang.. " ucap Adrian dengan wajah berbinar.


" Dan jangan lama-lama loh.. " Elsa kembali memperingati Adrian.


" Gak janji Sa.. aku kan janjinya cuma pelan-pelan, lama apa enggak nya belum tau. "


" Iish.. " cebik Elsa.


*


*


*


Dua tahun kemudian.


Kesuksesan Umar sudah berada di puncak. Bisnis Restoran nya sudah tersebar di berbagai kota, catering nya pun masih berjalan dengan lancar bahkan semakin banyak yang berminat memakai jasa layanannya.


Hari ini, Umar mengajak Karin dan Wina ke salah satu mall terbesar untuk menepati janjinya.


" Ayang beb, kamu mau ngapain ajak aku sama mama ke sini? " tanya Karin.


" Mau nepatin janji aku. " ujar Umar.


Mereka bertiga berhenti di salah satu counter perhiasan langganan Wina.


" Iya dong mah. " Umar sudah mendapatkan ijin untuk memanggil Wina dengan sebutan mama.


" Aduh... kamu memang calon mantu idaman.. " Wina mencubit kecil pipi Umar.


Karin memutar bola matanya dengan malas mendengar ucapan Wina. " Mama bisa banget! giliran udah banyak duit aja di akui calon mantu! "


Wina dengan semangat empat lima memilih satu set berlian yang berharga fantastis.


" Mah, jangan khilaf deh.. nanti duit Umar abis. " gerutu Karin yang melihat Wina tanpa malu memilih yang paling mahal.


" Gak papa sayang.. kamu juga milih dong buat cincin pernikahan kita. " Umar.


Karin mengangguk dan mulai memilih cincin untuk pernikahan mereka yang akan berlangsung dua minggu lagi.


" Tuh denger.. si item manis aja gak keberatan! " seru Wina.


" Iya.. iya.. terserah mama deh. " cibir Karin.


Cukup lama mereka berada di dalam toko perhiasan itu. Setelah selesai, Umar mengajak Karin dan Wina ke sebuah toko tas branded.


" Ayang beb, serius kamu mau beliin tas ini? "

__ADS_1


" Iya sayang, kan aku dulu udah janji mau beliin kamu tas. " Umar.


" Mama mau dong sekalian. " Wina tak mau kalah.


" Iihh mama apa apan sih.. mama kan udah punya banyak di beliin papa! " Karin merasa malu dengan sifat Wina pada Umar.


" Gak papa sayang.. " Umar mengelus pucuk kepala Karin.


" Mama boleh kok pilih yang mama mau. " Umar.


" Tapi di bawah 50 juta ya mah! gak boleh lebih! " seru Karin memperingati Wina. " Kasian Umar, nanti uangnya abis, belum juga jadi menantu udah banyak maunya. "


" Ck, 50 juta mah tasnya biasa Rin, banyak yang nyamain. mama mau beli yang unlimited.. " Wina.


" Mah... " Karin.


" Tenang Rin, mama mau pake uang papa aja. Uang papa juga banyak, gak akan abis! "


" Hufft.. " Karin lega melihat Wina yang tidak jadi menghamburkan uang Umar.


Sedangkan Umar hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perdebatan kecil Karin dan Wina.


" Ayang beb, aku beli yang ini ya.. " Karin menunjuk sebuah tas yang sangat terlihat elegan.


Plak!


Wina menepak lengan Karin.


" Bisa banget kamu ya, marahin mama ngabisin duit Umar, tapi sendirinya minta tas ratusan juta! "


" Hehe.. kan Karin minta ama calon suami sendiri. " elak Karin. " Bolehkan ayang beb? "


" Boleh sayang.. " Umar.


" Tuh kan Umar aja gak marah. "


" Tau ah! " Wina lebih baik memilih tas kembali dari pada menasehati Karin yang memiliki sifat tidak jauh berbeda dengan nya.


Bagi Umar, apapun untuk Karin akan ia berikan. Uang habis masih bisa di cari, membahagiakan Karin adalah hal terpenting baginya.


*


*


*


Bye.. bye..

__ADS_1


__ADS_2