
Pov : Tompi
Akhirnya drama pengintaian, pencarian bukti, dan kebenaran selesai. Aku membiarkan Rendi mengamuk di halaman parkir. Segera kususul Gandi dan Bowo. Pintu kamar Gandi sedikit terbuka. Aku berpikir, oh mungkin dia sedang beres-beres.
Namun, telingaku mendengar ada dentuman di tembok. Aku langsung masuk dan melihat remaja itu sedang sangat kesal. Dia meninju tembok dengan kerasnya, hingga tangannya sendiri yang terluka. Aku segera menghentikan aksi itu.
Gandi menangis. Tangisan kekecewaan yang sangat mendalam. Aku memberanikan diri memeluknya sebentar, "Sudah, Nak. Berhenti menyakiti dirimu sendiri. Om bantu beres-beres, cucilah mukamu."
Aku mencari tasnya dan segera memasukkan barang-barang Gandi. Setelah selesai aku merangkulnya, tapi tanganku ditepis. Oke, aku mengalah, dia sedang marah besar dan terluka.
Kami meninggalkan hotel itu. Aku sangat berterima kasih pada Bowo. Kuberikan uang lelah karena telah membantuku. Di dalam mobil, Gandi lebih banyak diam. Kupancing obrolanpun dia tidak tertarik.
"Setelah ini apa rencanamu, Gan?" tanyaku. "Kamu belum menjawab pertanyaan Om ketika kita bertemu tadi. Kalau Om berhasil mendapat bukti, apakah kamu mau menjadi anak penurut untuk mamah?"
Dia berdecak sebal karena sedari tadi aku banyak bicara. "Aku berhasil menemukan bukti itu sendiri, bukan Om! Jadi, aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu!"
Wah, lihat remaja ini. Pemberontak sekali dia. Oke, Tom. Sabar, subur, makmur. Semoga saja sabarku bisa membuat cintaku untuk Widya tumbuh subur hingga kami membangun keluarga yang harmonis. Aamiin.
Widya menghubungiku. Aku memberikan ponsel itu pada Gandi. "Angkatlah, mamahmu sangat khawatir."
Awalnya dia ragu, tapi akhirnya Gandi bersedia mengangkat panggilan dari mamahnya. "Gandi pulang," ucapnya sangat singkat lalu mengembalikan ponsel milikku.
Aku tersenyum dan reflek mengusap kepala Gandi. Anak yang keras kepala ini masih bisa menjadi penurut juga. "Om berharap kamu akan belajar menjadi lebih dewasa dari kejadian ini, Gan. Om tahu apa yang kamu inginkan. Kamu ingin keluarga yang utuh, bukan?"
Aku memilih jalan tol untuk mempercepat perjalanan. "Sebenarnya, mamahmu bisa saja memberikannya. Mempertahankan rumah tangganya. Tapi, apa kamu tahu jauh di lubuk hati mamah? Dia juga terluka sama seperti kamu. Itulah alasan mamahmu memilih berpisah."
Dia hanya diam, tapi aku tahu dia sedang mendengarkanku. "Jadilah penyempurna mamah. Dengan menjadi lebih penurut dan dekat dengan mamah. Ungkapkan keinginanmu dengan benar. Om berharap, ini terakhir kalinya kamu main kabur-kaburan. Paham, Nak?"
Gandi tetap diam seribu bahasa. Aku melirik sedikit ke arahnya, ternyata ada air mata yang menetes. Kupilih untuk diam agar dia bisa beristirahat. Kuambil earphone bluetooth lalu mengabarkan Widya kami sudah dekat.
"Masakkan dia sesuatu, sepertinya belum makan karena aku masih menemukan uangnya utuh." Aku juga sebenarnya lapar.
Sesampainya di depan rumah Widya, Gandi mengucapkan terima kasih padaku. Wah, kalimat itu terasa ajaib untukku. Dia turun dan disambut pelukan lama dari mamahnya.
Aku masih mengamatinya dari dalam mobil. Gata, wanita yang kemarin membuka pintu untukku, ada sosok wanita lain aku tidak tahu siapa, dan tiga akan kecil. Widya memukul paha anaknya berulang kali. Aku tertawa sendiri melihatnya.
__ADS_1
Gata menghampiri mobilku. Memintaku untuk turun dan makan terlebih dahulu. Oke, sebagai pengganjal perut. Widya masih menemani anaknya, sedangkan Gata menemaniku makan.
"Nanti bilang sama mbakmu, lebih sering luangkan waktu buat Gandi. Tadi, dia melihat sendiri bapaknya lagi berbuat tidak pantas dengan seorang wanita," ucapku.
Gata mengangguk. "Sekalian Mas Tompi ikut, to. Biar makin akrab sama Gandi. Ingin jadi ayah sambungnya Gandi nggak, Mas?"
Bocah satu ini paling bisa membuatku merasa tersipu. Aku hanya tertawa menanggapi hal itu. "Ketahuan ya?" tanyaku.
"Jelas banget kali, Mas."
"Tapi mbakmu nggak peka, tuh." Aku telah menghabiskan semangkuk mi instan kuah dengan telur.
Gata berdecak, "Dia itu bukan nggak peka. Lebih memilih untuk menyimpan saja sebenarnya. Mungkin, takut akan mendapat penolakan dari Gandi dan juga abah."
Ini jelas tantangan bagiku. Aku harus bisa meluluhkan hati dua orang kesayangan Widya terlebih dahulu. Mamah? Ini tantangan paling berat, aku akan menyelesaikannya di akhir.
Widya keluar dan menemuiku. Kulihat matanya sembab sekali. Gata menanyakan keadaan Gandi.
"Dia nangis dan minta maaf ke aku, tahu kakaknya sedang sedih, ketiga anakmu ikut nangis. Ita sedang menenangkan semuanya. Aku sesak melihat Gandi menangis, makanya aku memilih keluar." Widya mengambil gelas dan menuang air, lalu meneguknya.
"Lapar apa doyan?" tanyanya. Aku tertawa mendapati pertanyaan itu. "Mau lagi?"
Aku menggeleng. Dia berterima kasih padaku. "Sama-sama."
Widya kembali terdiam. Aku hanya menikmati wajah sayu dan lelah itu. "Udah lega, kan? Nggak usah sedih lagi."
"Makasih ya, Tom. Aku berhutang banyak padamu. Aku nggak tahu apa jadinya Gandi kalau nggak ada kamu." Widya melempar senyum padaku.
Aku pura-pura pingsan karena senyum itu. "Kamu pingsan? Mau napas buatan?"
Wah ..., angin segar ini. Rezeki nomplok. Iya aku butuh napas buatan Wid, batinku. Stop! Jangan sekarang! Nanti kalau Gandi melihat, akan tambah buruk keadaannya. Aku kembali sadar.
"Simpan untuk nanti saja ciumanmu itu."
"Dih, siapa juga yang mau menciummu? Gata nanti yang aku suruh." Widya melemparkan tisu padaku.
__ADS_1
"Sudah malam, aku pamit dulu. Lebih sering libatkan Gandi dalam mengambil keputusan, Wid. Dia keras kepala juga, ya?" tanyaku sambil berdiri dari tempat dudukku.
"Banget!"
"Mirip kamu tuh! Aku boleh pamit sama yang lain?" tanyaku. "Terutama pada calon anak sambungku."
Widya menjewer telingaku. "Sekali lagi bicara aneh-aneh aku blokir nomormu!"
Aku hanya tertawa menanggapinya. Padahal aku serius mengatakan hal itu. Aku berpamitan pada Gata, istrinya, dan Gandi. Aku kembali memeluknya meskipun tidak ada balasan pelukan darinya.
"Jadi lelaki dengan pemikiran dewasa ya, Nak. Jagain mamahnya, jangan bikin khawatir terus menerus. Om pamit, ya."
"Makasih," jawab Gandi begitu pelan hampir tidak terdengar oleh telingaku.
Aku diantarkan oleh Widya sampai depan pintu. Aku segera kembali ke rumah. Aduh, aku lupa memberikan kabar ke mamah. Aku tidak menyiapkan alasan apapun saat ini.
"Pasti mamah nunggu aku nih," ucapku sambil menutup pintu gerbang. Benar saja, saat aku membuka pintu mamah sudah memasang wajah garangnya.
"Assalamu'alaiku, Mah." Aku menyalaminya.
"Wa'alaikum salam. Dari mana jam segini baru pulang?" tanya Mamah, suaranya terdengar mengintimidasiku.
"Dari Semarang, Mah."
"Urusan apa?"
Aku ingin menyembunyikan kenyataan yang aku lalui hari ini. "Urusan pekerjaan."
"Tega kamu membohongi mamah, Tom. Kamu kesana untuk mencari anak Widya kan?" Mamah sudah tahu kenapa harus bertanya, batinku. Mas Tugas memang kurang kerjaan, tiap hari kerjanya hanya mengadu ke mamah.
Aku memilih masuk ke kamar, "Mamah tidak akan merestuimu."
"Mah, Tompi lelah. Kita bicara besok, ya?"
Aku memilih menghindari pertengkaran dengan mamah. Untuk perkara satu ini, entahlah. Aku belum menemukan cara agar mamah mau menerima Widya.
__ADS_1