
Pov : Tompi
Setelah pikiranku segar, aku pamit pulang ke rumah. Beberapa bapak tetangga Widya menyapaku. Ramah sekali mereka. Ada beberapa yang mengatakan agar aku segera bergabung menjadi warga mereka.
"Siap, 86!" kataku seraya memberikan hormat. Para bapak senang dan bertepuk tangan.
Widya memberikan kode agar aku segera meninggalkan rumahnya. Tapi, asyik juga berkumpul dengan mereka. Nanti, jika aku ke rumah Widya lagi, aku ingin ikut ngopi di warung kucingan itu.
"Mbak Widya, ini calon bapaknya Gandi yang baru?" tanya seseorang.
Aku ingin tahu jawaban pacar masa depanku itu. Kira-kira dia berani atau tidak mengatakan pada bapak-bapak satu RT-nya itu ?
"Do'akan saja, Pak," jawab wanita yang kucintai itu. Aku ingin berlari lagi ke arahnya dan memeluknya. Tapi kuurungkan, takut dinilai melewati batas.
"Cie ..., suit-suit ..." Kompak sekali mereka menggoda kami.
Sedikit kegilaan hari ini cukup mengobati sakit kepala yang kurasakan, akibat kelakuan mamahku sendiri. Kulajukan mobil meninggalkan rumah Widya. Menyenandungkan lagu aku bahagia sesuai suasana hatiku.
Aku tahu jalanku masih panjang. Berjuang mendapatkan restu kedua orang tua kami, bukanlah perkara mudah. Tapi aku yakin, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Selalu teriring do'a dalam setiap usaha yang kujalani.
Aku harus membereskan satu hal. Kegilaan mamahku. Aku terngiang perkataan Widya. Ya, dari dulu mamah memang mengejar pangkat untuk anak-anaknya. Baik aku maupun mas Tugas, harus selalu patuh akan pilihan mamah.
Namun, kali ini aku tidak setuju. Ini sudah di luar batas kewajaran. Aku turun dari mobil dan masuk rumah. Seperti biasa, mamah akan menyambutku. Memberikan senyuman yang menyejukkan hati. Sayangnya semua itu hanya pembukaan manis untuk menarik hatiku.
"Kamu sudah makan?" tanya Mamah padaku.
Aku hanya mengangguk sambil melepas sepatu. Hendak menuju kamar, tapi mamah memanggilku lagi. Mengatakan bahwa besok sore aku harus mengantarnya ke rumah om Sus, untuk menjenguk anaknya.
"Minta tolong sama anak kesayangan Mamah saja. Tompi ada urusan," tolakku sedikit kasar. Aku kesal dengan sikap mamah.
"Masmu besok keluar kota, Tom. Dulu kamu rajin mengantarkan Mamah kesana kemari, setelah bertemu lagi dengan janda itu kenapa seperti ini? Apa kamu dipengaruhi olehnya?" Mamah kembali menuduh Widya.
Aku hanya diam dan membuka pintu kamar, "Tompi capek, Mah."
__ADS_1
"Mamah belum selesai bicara, Tom. Tompi!"
Aku bersandar di balik pintu. Menghembuskan napas kesal. Kulemparkan kunci mobil dan tas pinggang ke atas kasur. Memilih menenangkan pikiran di bawah guyuran shower.
Fajar menggantikan malam yang sepi, sebelum berangkat kerja aku diingatkan lagi oleh mamah.
"Mah, Tompi nggak mau sama anaknya om Sus. Tolong jangan paksa Tompi! Tompi punya hak untuk menentukan pilihan hatiku sendiri, Mah!"
Aku bergegas ke kantor karena jam sudah menunjukkan pukul 06.45 WIB. Kutinggalkan mamah yang masih mematung di depan pintu rumah.
Widya menepati janjinya untuk mengirimkanku makan siang. Para bawahanku meledekku habis-habisan.
"Caranya gini, kantin tutup, Ndan!" seloroh salah satu anak buahku.
Aku hanya tersenyum dan segera kembali ke ruangan.
"Serius bawa bekal? Tumben, Tom. Coba cicip!" Mas Bagyo hendak meminta makan siangku.
"Pelitnya!" Mas Bagyo tidak terima dengan sikapku. "Eh, tapi, siapa yang mengirimkanmu bekal? Bu Wanda?"
"Bukan! Ini dari calon istriku, makanya jangan minta!"
Seluruh orang yang ada di ruangan menyoraki diriku. Ini yang aku tidak suka dari mereka. Selalu saja heboh.
"Kapan kami dikenalkan dengan adik ipar?" cecar mereka padaku. Aku hanya menjawab nanti.
Sekarang waktu menunjukkan pukul empat lebih. Jujur, aku malas pulang. Pasti mamah masih menungguku. Tapi aku sudah tidak ada kegiatan. Aku tidak bisa ke rumah Widya karena dia sedang merujuk pasien. Gandi masih les.
Ya sudahlah, aku pulang saja. Menuruti keinginan mamah untuk menjenguk anak om Sus. Mau menghindar seperti apapun, orang tuaku akan tetap melaksanakan rencananya.
Benar saja, mamah sudah siap dan langsung masuk ke mobil. Aku tidak diberikan kesempatan untuk mandi dan ganti baju. Ku injak kembali pedal gas mobilku, melaju di jalanan aspal yang ramai lancar.
Aku dan mamah telah sampai di rumah om Sus. Menyalami tuan rumah dan diajak masuk ke dalam istananya. Kami dijamu dengan sangat baik. Makanan dan minuman dihidangkan dengan sangat rapi.
__ADS_1
Mamah dan tante Rus bercengkrama dengan sangat. Aku hanya diam dan bermain ponsel. Tiba-tiba saja ada suara wanita berteriak dari kamar atas. Suaranya nyaring hingga ke bawah. Apakah itu anak tante Rus?
Tante Rus berlari ke kamar atas. Mamah memintaku untuk menemani tante Rus. Mau tidak mau, aku terpaksa ikut naik. Parah. Benar-benar parah. Wanita itu sedang mengamuk. Mengerikan bukan?
Dia memecahkan kaca dengan tangannya sendiri. Ada beberapa pecahan kaca yang menempel di tangan wanita itu. Darah tentu saja mengalir pelan pada tangannya yang terluka. Tante Rus mencoba menenangkannya. Memeluk wanita itu sembari membelai rambutnya yang ikal.
Aku mengambil air minum dan memberikannya pada tante Rus. Wanita itu menatap dengan pandangan kosong. Tiba-tiba saja wanita itu menangis dan kembali histeris. Tante Rus memintaku mencarikan obat anaknya. Setelah ketemy, segera obat itu diminumkan pada anaknya.
"Tompi, maaf. Bilangkan ke mamahmu Tante tidak bisa menjamunya. Lain kali saja kita obrolkan masalah ini. Pulanglah, Mina sedang histeris."
Tante Rus masih sibuk menenangkan anaknya yang bernama Mina itu. Aku menawarkan bantuan untuk memanggil ambulance, agar Mina dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan penanganan yang tepat. Beliau setuju, aku segera menghubungi ambulance.
Setelah ambulance datang, tante Rus dan Mina pergi ke rumah sakit. Aku menatap penuh amarah ke mamah.
"Kenapa sih, Mah? Ngotot sekali ingin menjodohkan Tompi dengan anak om Sus? Lihat kan? Mamah mau punya mantu kurang sehat mentalnya?"
Mamah tidak mau menjawab semua pertanyaanku. Semakin membuatku kesal. Kami bergegas pulang. Di dalam perjalanan tidak ada yang memulai pembicaraan.
"Kita datang di waktu yang kurang tepat," lirih ucapan Mamah tapi masih terdengar di telingaku.
"Maksudnya apa, Mah? Maksud Mamah besok kita masih harus kesana lagi?" Aku mencoba menahan kekesalanku.
"Tentu, Mamah kabari tante Rus dulu."
Aku hanya mampu menggelengkan kepala.
"Mamah gila pangkat!"
Mamah menoleh ke arahku, "Jaga ucapan kamu kalau bicara sama Mamah! Apa ini yang diajarkan janda itu padamu? Berani melawan Mamah?"
"Ini tidak ada kaitannya dengan Widya, Mah! Jangan bawa-bawa dia! Ini murni keegoisan Mamah! Jual saja aku pada para istri petinggi-petinggi itu. Apa bedanya hal ini dengan menjual diri? Ini kan yang Mamah harapkan dari aku?"
"Cukup!" Mamah membentakku dengan keras.
__ADS_1